
Malam pertama adalah malam yang bersejarah bagi pasangan pasutri begitupun dengan Hilmi dan Nadia. Pengantin baru itu semalan melakukan itu tidak ada paksaan. Nadia hanya melakukan tugasnya melayani suaminya.
Dan pagi ini Nadia dan Hilmi sudah siap untuk pulang ke rumah Hilmi dengan motor ninja merah milik Hilmi.
Oh iyya sahabat-sahabat Hilmi dan Nadia sudah pulang sejak kemarin malam begitupun dengan Umi dan Abah sudah pulang sejak semalam.
Setelah sarapan Nadia pamitan kepada ibu dan kakaknya begitupun dengan Hilmi berpamitan kepada ibu mertua dan kakak iparnya.
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
Nadia terpana dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Rumah ini benar-benar sangat nyaman walau baru sampai halamannya saja.
“Suka?”tanya Hilmi dan dibalas anggukkan kecil oleh Nadia.
Clek...
Hilmi membuka pintu lalu mengenggam tangan Nadia sedikit menarik dengan lembut.
“Wow amazing,” batin Nadia.
Nadia hanya mengikuti Hilmi saja hingga saat berada dikamar utama yang terletak di lantai 2 Nadia benar-benar terpana dengan rumah ini.
Terlihat banyak sekali barang-barang Hilmi tersusun rapi di lemari kaca seperti Jam, sepatu dan ada juga piala, piagam, sertifikat penghargaan.
“Susun aja baju-bajunya di sana,” Hilmi menunjuk sebuah almari besar dekat ruang ganti.
__ADS_1
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
Setelah membereskan pakaiannya Nadia mendapati Hilmi yang tertidur pulas diranjang.
Dengan perlahan Nadia menyelimuti tubuh Hilmi hingga dada bidangnya.
Sebelum keluar kamar Nadia mengganti baju dengan yang lebih santai tapi masih tertutup.
“Rumahnya walau jarang di huni tapi tetep bersih.” gumam Nadia menelusuri rumah milik suaminya.
Setelah puas didalam Nadia berjalan menuju taman belakang. Indah. itulah yang ada didepan Nadia sangat indah dan sejuk.
Nadia menduduki sebuah ayunan mengoyangkannya pelan menatap bunga-bunga cantik yang ada dihadapannya.
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
“Bantu ayah, bawa ayah ke rumah sakit nak,”
“Aku enggak sudi!! bawa ayah ke rumah sakit,”
“Ayah mohon,”
“Aku tidak sudi! awas!”
anak perempuan tersebut keluar dengan membawa tas ransel besarnya berjalan keluar rumah minimalis itu.
__ADS_1
Pria paruh baya itu hanya menatap kepergian anaknya yang salah gaul menjadi anak yang kurang ajar seperti saat ini.
Dengan menahan sesak di dadanya pria paruh baya itu berjalan keluar mencari taksi untuk membawanya ke rumah sakit.
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
Nadia berjalan memasuki kamar nya untuk membangunkan Hilmi karena sudah masuk jam makan siang mana Hilmi belum sholat jadi Nadia harus membangunkan Hilmi.
“Kak,” Nadia menepuk kecil pipi tirus Hilmi untuk membangunkan Hilmi.
Karena tidak ada sahutan Nadia duduk di bibir ranjang untuk lalu menatap wajah tanvan suaminya.
Tangannya terulur mengusap wajah Hilmi mulai dari alis, mata, hidung, lalu turun ke bibir Hilmi mengusapnya dengab lembut.
Terbesit ide jail untuk membangunkan Hilmi. Dengan kecepatan kilat Nadia mencium kedua pipi Hilmi.
“Kak Hilmi bangun,,,,,”Nadia mengoyangkan lengan Hilmi.
Mata Hilmi langsung membuka tanpa mengerjap.
“Bangun ihk!! sholat dulu terus makan siang tapi mandi dulu,”ujar Nadia membuat Hilmi tersenyum.
“Lima menit lagi,”Hilmi pura-pura memejamkan matanya.
Sebenarnya dia sudah bangun dari tadi tapi saat mendengar langkah kaki Hilmi langsung pura-pura tidur lagi dan dia juga tau saat Nadia mencium dan mengusap wajahnya.
__ADS_1
“Bangun ihkk....” Nadia menarik tangan Hilmi agar mau beranjak.
Hilmi mengulum tersenyum lalu berjalan menuju kamar mandi tapi sebelum itu dia meninggal kecupan singkat di bibir Nadia membuat yang empu terdiam plus tersipu.