
Nadia tersenyum miris menatap ponselnya.
Sudah beberapa kali dia menelpon Ayahnya tapi yang ia terima hanya penolakan bahkan Ayahnya enggan berbicara kepadanya.
Ayahnya yang dulu penuh kasih sayang sudah lenyap begitu saja entah kenapa.
Jika dulu dia lahk yang paling dekat dengan sang Ayah tapi sekarang? bahkan dia lahk yang paling jauh dengan sang Ayah.
"Nad, makan dulu," Nadia segera menghapus air matanya lalu langsung memakai jilbabnya.
Sebelum keluar kamarnya Nadia menghebuskan nafasnya dengan kasar lalu berkata:
'Jangan sering berperasangka buruk Nad,' batin Nadia menguatkan hatinya.
----***----
Sedangkan di waktu yang bersamaan seorang laki-laki menatap kagum rumah yang baru saja ia bangun sendiri dengan keringat nya tanpa bantuan sang orang tua.
Rumah bertingkat dua bercat putih itu adalah diseain nya sendiri.
Hilmi, ya dia adalah Hilmi laki-laki yang kini sedang menguluti bisnis kopi itu sudah memimpikan ini sejak lama.
__ADS_1
Membangun rumah dengan hasil pemikirannya dan juga membangun rumah dengan keringatnya sendiri.
Ah iyya selain mempunyai bisnis kopi dia juga seorang ustadz muda dan yang akan mengantikan Abah-nya kelak.
"Abah bangga sama kamu," ujar Hilman-abah Hilmi. Pria paruh baya itu tidak salah mendidik putra semata wayangnya.
Hilmi memang anak yang buka penurut, lembut dan penuh kasih sayang tapi Hilmi selalu tidak mau urusannya atau mimpinya di campuri orang.
"Ini juga berkat doa dari Umah dan Abah,"ucap Hilmi memeluk Umahnya.
" Semua tidak akan berhasil jika tidak ada usaha nak," sahut Sarah-umah Hilmi.
----***----
"Saya Ingin meminang Nadia,"
Nadia mematung saat mendengar ucapan dari Hilmi. Apa mimpinya akan jadi nyata tapi di tidak pernah membayangkan seperti itu.
Siang ini Hilmi memutuskan datang kerumah wanita yang membuat hati dan pikirannya berkelana. Sebelum memutuskan ini dua sudah berunding dengan kedua orang tuanya dan mereka mendukung.
Bahagia? ya jelas tapi apa jawabannya dia harus menerima atau menolak dengan halus. Itu lah yang dipikirkan Nadia saat ini.
__ADS_1
'Kayanya kalo ada laki-laki datang ke rumah kamu terus dia niat buat meminang kamu langsung terima aja deh Nad biar mimpi itu enggak datang lagi'
Kata-kata Bella saat itu tiba-tiba tergiang dengan jelas di telinga Nadia.
"Pernikahaan bukan untuk permainkan apa kamu serius dengan Adik saya?" tanya Arkan.
"Saya serius," jawab Hilmi.
“Jadi bagaimana keputusannya Nad, terima apa tidak?” tanya ibu mengenggam tangan Nadia.
Nadia baru menyadari jika orang-orang yang ada disini sedang menunggu keputusannya.
Nadia terdiam sejenak menimang terima atau tidak.
“Kasih Nadia waktu buat memikirkan itu,” Nadia beranjak ke masuk kamar setengah berlari.
----***----
*Jangan lupa Vote, Like, and Komen dan juga jangan lupa tambahkan ke favorit biar enggak ketinggalan sama cerita ini.
Mampir juga ke cerita ku yang lain*.
__ADS_1