
Hai, readers Ajeng cuman mau bilang kalau cerita ini akan tamat karena memang otak ku mentok dijalan.
Terima kasih udah mau baca cerita Ajeng yang menurut Ajeng sendiri ga jelas hehehe...
So, maaf-maaf nih kalau ceritanya Ajeng membosankan, maklumin karena masih pemula dan belajar ini pun hasil haluan dan pemikiran sendiri.
.
.
.
.
.
.
Nadia mengusap perut buncit dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tak sabar menanti kehadiran si kecil di dalam keluarga kecilnya.
Usia kandungannya sudah menginjak masa-masa akan melahirkan dan ini kerap kali membuat dia cepat lelah.
"Nad," Nadia langsung menoleh saat namanya dipanggil oleh Hilmi.
"Ada apa, mas?" Dengan susah payah Nadia langsung berdiri menghampiri suaminya yang sedang berdiri membawa mapan susu untuknya.
"Enggak papa, pingin manggil aja," Nadia hanya tersenyum lalu meminum susu hamilnya.
Dalam hati Hilmi ada rasa tak menyangka bahwa wanita yang ada di hadapannya ini sudah menjadi miliknya dan akan menjadi ibu dari anak nya.
Ungkapan terima kasih slalu Hilmi ucapkan disela sholat nya karena tuhan telah menghadirkan Nadia di dalam hidupnya untuk melengkapi hari-hari nya.
"Ahkk......" pekik Nadia membuat Hilmi tersadar dari lamunan nya.
"Kenapa Nad?" Nadia tidak bisa menjawab karena kini perutnya benar-benar sakit.
"Mas sakit..."rintih Nadia hampir limbung dan untung Hilmi dengan sigap menangkapnya.
"Astagfirullah!! Darah!!" Hilmi langsung mengendong Nadia menuju mobil memanggil sopir dia yakin pasti istrinya akan melahirkan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit para perawat langsung membawa Nadia ke ruangan ICU/IGD.
"Pasien akan melahirkan, ini sudah pembukaan ahkir segera siapkan semuanya," perintah dokter bername tag Hanifa.
Para perawat pun mengangguk lalu dengan gesit semuanya menyiapkan alat medis.
***
"Mas... sa...kit.. " Nadia meremas kuat tangan Hilmi yang mengenggamnya.
"Ini sudah biasa bu, ayo dorong lagi bu..." intruksi Dokter.
Nadia terus mengejen dengan sekuat tenaganya. Peluh keringat sudah membasahi Nadia. Jadi begini rasanya melahirkan? Risma dulu melahirkannya dan Laras secara bergantian pasti rasanya amat sakit. Pikir Nadia.
"Ayo terus bu... sedikit lagi kapala dan tangannya sudah keluar tinggal badan dan kakinya," Dengan sekuat tenaga Nadia mengejen.
"Kamu pasti bisa," bisik Hilmi merasa tak sanggup melihat Istrinya tercinta kesakitan seperti ini, kedua kakinya seperti jelly sangat lemas tapi dia mencoba biasa saja.
Sebenarnya dalam pikiran Hilmi sangat kacau, Usia Nadia sangat dini untuk melahirkan bagaimana jika... ahk Hilmi harus menyingkir kan pikiran negatifnya mencoba positif saja.
Oeekkk...oeeekk.......
"Alhamdulilah..."semua orang yang ada disana mengucapkan itu secara bersamaan.
Masih tak menyangka jika Nadia bisa melahirkan diusianya yang masih 14 eh ralat sudah akan 15. Awalnya mereka juga mengira jika Nadia sudah 20 tahunan tapi saat melihat data-data pribadi Nafia membuat mereka rada tercengang.
***
"Selamat datang SULTAN IBRAHIM PRAWIRA, Abi dan Umi bahagia banget kamu hadir di keluarga kami," bisik Hilmi saat setelah mengadzankan putra tampannya.
Wajah putranya sangat mirip dengan dirinya hanya saja kulit nya yabg tidak mirip, warna kulit Hilmi sawo matang tapi putranya lebih ke kuning seperti Nadia.
"Curang ihk... kebanyakkan mirip kamu," ucap Nadia saat mengendong putranya untuk disusui.
"Kan aku Abi-nya Yang," balas Hilmi mengusap pipi istrinya.
Anugrah terindah yang Allah kirimkan untuk Hilmi adalah Nadia dan putranya kini sumber kebahagiannya bukan di Nadia saja tapi sekarang ada di Ibrahim juga.
"Nad,"
__ADS_1
"Hmmmm...."
"Makasih,"
"Untuk?"
"Karena udah mau mempertaruhkan nyawa kamu untuk Ibrahim,"
Nadia hanya tersenyum cerah menanggapi ucapan suaminya.
Katakan hari ini adalah hari terbahagia bagi Nadia karena kehadiran Ibrahim adalah awal kebahagianya sejak masih diperut.
Bahagia itu sederhana ketika kamu mencapai apa yang kamu inginkan dengan usaha mu sendiri pasti rasanya amat bahagia.
***
Semakin kita kejar semakin berlari.
Semakin kita mencoba mengapai semakin sulit kita raih.
Semakin kita harapkan semakin pula kita kecewa.
Ciri-ciri jodoh mungkin seperti itu. Jaga jodoh orang selama bertahun-tahun tapi ujung nya tidak jadi naik pelaminan pula kitanya.
Banyak diluaran sana yang pacaran bertahun tapi hanya karena masalah kecil bisa putus sedangkan menikah bisa diselesaikan seberat apapun masalahnya pasti dilewati bersama.
TAMAT.
***Cerita ini hanya fiksi belaka maafkan jika ada kata-kata yang tidak mengenakan.
Tidak bermaksud memberi kesan yang tidak di luar akal.
Ini murni pemikiran author ya.
Untuk semua sekian dan terima kasih.
Wasalamualaikum wr.wb.
Semoga puasanya lancar.
__ADS_1
Minal aidin wal faidin mohon maaf lahir dan batin***.