
Nadia tersenyum cerah saat melihat ke akraban suami, kakak dan ayahnya. Ketiga pria yang Nadia sayangi dan cintai.
Kini kehamilan Nadia sudah memasuki 28 minggu otomatis membuat Hilmi over protektif.
Terkadang Umi sarah atau Bu Risma mengunjungi rumah Nadia hanya untuk memantau perkembangan kehamilan Nadia.
"Dek, Mas sama Ayah pulang dulu,"pamit Arkan membuat Nadia tersadar.
Ya, sekarang Damar sudah rujuk kembali dengan Risma setelah mendengar beberap penjelasan.
#Flash back.
"**Ibu mau ya rujuk sama Ayah," bujuk Nadia untuk kesekian kalinya.
"Kenapa sih dek kamu bujuk ibu untum rujuk sama ayahmu itu?" tanya Risma mulai lelah dengan Nadia dan Arkan yang terus membujuknya dengan Damar.
Nadia menjelaskan semua bahwa ayahnya tidak salah yang salah itu adalah Pamannya yang memaksa dan mengancam Ayah untuk bertindak sedemikian rupa.
Jika Ayahnya tidak melakukan itu mungkin Nadia dan Laras maupun Arkan sudah tewas karena pamannya.
Pamannya Nadia hanya ingin harta kakek-nenek Nadia jatuh ketangannya bukan kepada Damar.
Paman Nadia tidak memiliki anak karena istrinya mandul sedangkan syarat warisan itu harus memilki keturunan.
__ADS_1
"Nah gitu Bu... gimana ibu mau kan. Ini demi Laras dia masih butuh kalian, bimbing dia bu..." ucap Nadia saat diahkir ceritanya.
Risma hanya diam dalam hatinya dia ingin menerima Damar kembali tapi ego nya lah yang tidak mendukung.
Dan setelah itu Risma memutuskan untuk rujuk walau usianya sudah menginjak 40 tahun mereka melangsung kan repsepsi cukup bagus.
Arkan dengan otak jailnya meminta adik kembali kepada kedua orang tuanya dan hal itu membuat dia sendiri yang kena semprot ditanya kan kapan menikah*.
#Flashback*
"Yuk masuk udah malem," ajak Hilmi saat mobil Arkan sudah tidak ada lagi.
"Gendong..." Nadia merentangkan tangannya agar Hilmi mengendongnya menuju kamar.
"Mas, ntar dedeknya mau dikasih nama apa?" tanya Nadia saat Hilmi sudah mendudukkannya di ranjang.
Sekarang Nadia sudah tidak memanggil Hilmi dengan embel-embel kakak, entah hormon atau apa membuat Nadia memanggil Hilmi dengan embel-embel Mas padahal dulu dia sudah sangat nyaman dengan itu.
" Sultan Ibrahim Prawira, panggilnya Ibra," ucap Hilmi seraya melepaskan jilbab Nadia.
"Nama yang bagus,"gumam Nadia.
Karena usianya terbilang masih dini untuk mengandung membuat Nadia agak repot dan sulit untuk melakukan apapun terlebih lagi badan Nadia kecil.
__ADS_1
Tapi walau begitu Hilmi lah yang selalu siap siaga ada di sisinya dengan sikap protektif Hilmi membuat Nadia hanya pasrah.
Setelah menganti bajunya Hilmi langsung merebahkan diri di sisi Nadia mendekap tubuh istrinya.
"Mas, ntar pas lahiran sakit enggak ya?" Baru saja Hilmi memejamkan matanya saat mendengar pertanyaan Nadia membuat Hilmi langsung membuka matanya.
"Sakit atau enggak tetep sama kok," ucap Hilmi menyelipkan anak rambut Nadis ke belakang telinga.
"hmmm..." Nadia mengganguk kecil.
"Dah sekarang tidur ya," Hilmi mengecup singkat bibir dan kedua pipi Nadia sebelum dia memejamkan matanya kembali.
Kisah cintanya dengan Nadia terlalu singkat namun penuh makna. Gadis cantik yang kini sedang mengandung buah cinta nya sering kali membuat Hilmi Frustasi dengan permintaan-permintaan konyol nya.
Walau begitu Hilmi tetap menuruti semuanya karena dia tau jika itu adalah permintaan calon anaknya.
.
.
.
.
__ADS_1
.