Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
Delapan


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Nadia menolak untuk di make up tapi pada ahkirnya di dia make up walau tidak tebal.


Nadia sangat tidak suka jika wajahnya memakai make up tapi karena hari ini adalah jari pernikahaannya jadi terpaksa dia memakai make up.


Gugup. Itulah yang di rasakan Nadia.


Tinggal hitungan menit dia akan menjadi seorang isteri.


Saat ini Nadia duduk di masjid tempat akadnya tapi dia tidak bisa melihat jelas karena terhalang oleh tirai pembatas.


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ


Tidak ada kata gugup dalam diri Hilmi karena dia sudah mempersiapkan diri untuk ini.


Tangan Hilmi sudah berjabad dengan Arkan untuk mengucapkan ijab kabul.


“Saya Terima nikah dan kawinnya Nadia Prawira Putri binti Damar Prawira dengan seperangat alat sholat dibayar tunai, ” dalam satu tarikan nafas Hilmi dapat mengucapkan itu tanpa gagap.


“Bagaimana para saksi Sah?” tanya pak penghulu.


“SAH!!”


Pak penghulu mulai berdoa diikuti oleh yang lain mengaminkan doa-doa untuk Hilmi dan Nadia.


Tak lama dari itu Nadia keluar dengan di himpit Risma dan Sarah dibelakangnya ada Bella yang memegangi ekor gaun Nadia sedangkan Ainil sibuk mempotret dan memvideo acara sakral ini.

__ADS_1


Risma dan Sarah mendudukkan Nadia tepat di samping Hilmi.


Pak penghulu memberikan surat-surat nikah untuk di tanda tangan oleh mereka.


Setelah itu tinggal memasang cin-cin saat Hilmi akan meraih tangan Nadia, Nadia tidak bergerak karena baru kali ini dia disentuh oleh laki-laki selain kakaknya.


“Nad,” bisik Risma yang masih berada di sisi Nadia menegur anaknya yang masih tidak mau bergerak saat Hilmi akan memasangkan cin-cin.


Pada ahkirnya Nadia pasrah saja walau jantungnya berdetak dengan cepat.


“Sekarang pasangkan cin-cin di jari Hilmi Nad,” bisik Risma lagi.


Dengan perlahan Nadia memasangkan cin-cin di jari Hilmi. Setelah itu Nadia mencium punggung tangan Hilmi.


Semua orang tersenyum melihat itu apalagi Risma dan Arkan yang tak luntur senyumannya.


“Jadilah tulang rusukku dan aku akan menjadi tulang punggungmu. Jadilah bidadari surgaku dan bidadariku saat ini hingga nanti,” bisik Hilmi mencium Kening Nadia cukup lama.


Nadia memejamkan matanya merasakan sesuatu yang hangat mendarat di keningnya.


Otak Nadia tiba-tiba mengingat tentang mimpinya.


Apa? ini nyata? mimpinya nyata! apa Hilmi pangeran yang selama ini berada didalam mimpinya?


Nadia membuka matanya menatap wajah tanvan Hilmi yang tersenyum cerah.

__ADS_1


“Ayo Nad,” ajak Hilmi membuat Nadia tersentak dari lamunannya.


Hilmi membawa Nadia ke rumah karena tidak akan ada lagi acara setelah Ini selain makan-makan keluarga.


Rumah Nadia menjadi ramai karena ada sanak keluarga, tentangga dan teman-teman Hilmi.


Hingga malam tiba satu persatu orang pamit pulang sejak sore sekarang hanya ada Bella, Ainil, Noval, Arkan, Aldo, abah Hilman, Risma dan Sarah.


Nadia sedang berada di kamarnya tidak bergabung dengan yang lain karena dia masih tertegun dengan apa yang dibisikkan oleh Hilmi tadi.


Lama bergulat dengan pikirannya Nadia hingga tidak sadar jika Hilmi sudah duduk dihadapanya.


“Kenapa?” tanya Hilmi mengenggam tangan Nadia membuat Nadia langsung mendongkakkan kepalanya manatap Hilmi.


“Gpp Ustad,” Jawab Nadia masih mengunakan panggil Ustad karena dia sendiri bingung harus memanggil apa kepada Hilmi yang sekarang sudah menjadi Suaminya.


"Kok masih panggil Ustad sih,” heran Hilmi.


“Terus apa?”


“Mmm.....Gimana nyamannya aja,”


“Kalo Kakak aja gimana?”


“Boleh,”

__ADS_1


♡(∩o∩)♡


☜AJENG☞


__ADS_2