Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
16.(Revisi)


__ADS_3

----NADIA POV----


Menikah diusia yang SMA sudah banyak yang mengalami tapi untuk menikah diusia 14 tahun apalagi diabad ini sangata jarang dan mungkin tidak ada lagi.


Aku menikah diusia 14 tahun karena keyakinan dalam hatiku tanpa ada paksaan karena menurutku jika aku menolak pun belum tentu dimasa depan akan hadir lagi seseorang itu yang menerima kita apa adanya bukan ada apanya.


Bisa kita menyuruh menunggu sampai kita siap tapi apa mungkin dia bisa sabar dan menemani kita dari nol lalu meyakinkan kita? rasanya mustahil.


Jika beralasan menolak pinangan seseorang belum kita kenal hanya karena sebuah kata Cinta. Itu tidak masuk akal menurut karena cinta itu akan datang dengan sendirinya tanpa ba-bi-bu atau perintah.


Jangan pernah kalian menilai seorang dari luar atau penampilan nilailah seseorang dari hati dan akhlaknya.


Laki-laki yang pernah memberikan aku kebahagian walau hanya sebentar, laki-laki yang dulu pernah hadir sebagai pahlawanku.


Kalian tau siapa Nana?


Ya, itu aku. Dulu aku orang-orang memanggilku Nana bukan Nadia.


Karena dulu pernah tertabrak mobil dan aku mengalami koma selama 3 bulan tapi dua hari sebelum aku bangun dari koma ku ada seorang kakek tua yang menyuruh ibu dan Ayah untuk menganti nama panggilan ku dengan Nadia bukan Nana lagi.


Katanya mungkin nama Nana adalah kesialan dan untuk membuang kesialan itu adalah dengan menganti namanya. Konyol bukan.


Aku tau cerita ini dari mas Arkan satu tahun yang lalu. Ah, iyya. satu lagi saat bangun dari koma aku tidak ingat apa-apa lagi yang ku ingat satu yaitu Ayah dan Ibu.

__ADS_1


Kak Hilmi membawa ku sebuah rumah pohon yang sangat terawat. Ini rumah pohon bukan yang terbuat dari kayu rumah pohon seperti rumah sungguhan dan cukup luas untuk berdua.


Rumah ini banyak sekali lukisan, boneka unicorn, jas hujan cauple, sepatu but cauple, ada tempat tidur juga cukup untuk dua orang tampat tidurnya seperti sengaja dihias serba unicorn pokoknya interior rumah pohon ini pink dan ada biru langit juga.


"Kak ini rumah pohon punya siapa?" tanyaku lalu mendekati tumpukan boneka unicorn.


"Dulu rumah pohon ini punya Nana tapi saat Nana enggak ada kakak ubah dan sedikit tambahan-tambahan,"


Ah, iyya. aku baru ingat rumah pohon ini adalah tempat pertama aku kenal sama kak Sultan atau sekarang tuh kak Hilmi, suamiku.


Aku dulu memang menyukai unicorn kalau apa-apa harus gambar atau serba unicorn.


Gludukkkk.....


Aku langsung menutup telinga dan mataku secara bersamaan saat petir saling bersahutan dan terdengar hujan mulai turun.


Padahal tadi saat diperjalanan sangat panas.


"Hei... Nadia," Aku merasakan tangan kak Hilmi mencoba melepaskan tanganku yang menutup telinga tapi aku tidak mau melepaskannya karena kalian tau aku phobia petir.


Kak Hilmi langsung mendekapku tapi posisi tanganku tetap menutup telinga dan mataku masih terpejam.


"Udah jangan takut lagi, petirnya udah enggak ada," bisik Kak Hilmi lalu mencium keningku.

__ADS_1


-----***-----


Langit sudah nampak Senja dan aku serta kak Hilmi masih diperjalanan karena jalanan sangat macet padat.


"Bosen ya?" Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan kak Hilmi.


"Sabar sayang." ucap kak Hilmi lalu mencium bibirku sekilas dan aku? hanya tersenyum saja. Mungkin rona merah dipipi ku sudah terlihat.


Mataku memincing tajam saat melihat seorang laki-laki setengah baya berlari menerbos hujan dan juga beberapa kendaraan.


Ayah?


-----***-----


Hai Gays. Aku cuman mau bilang kalau Hilmi dan Nadia punya akun intagram lohk.




Yuk buruan follow. Kalian bisa tanya-tanya atau kepoin mereka berdua saat karantina.


Dan juga follow @Ajengayu41

__ADS_1


__ADS_2