Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
Empat belas


__ADS_3

Sudah 2 jam yang lalu sahabat Hilmi dan Nadia pulang dan kini Nadia duduk di depan meja rias dengan menenteng cadar dan niqob yang ia punya dari ibunya.


Sejak dulu Nadia memang sudah dari dulu ia berniat untuk memakai cadar menutupi wajahnya tapi hanya dia belum bisa istiqomah.


Dengan gugup dia memasang cadar itu menutup setengah wajahnya saat sempurna dia tersenyum di balik cadarnya.


Tanpa Nadia sadari Hilmi dari tadi memperhatikan istrinya dengan perlahan kakinya mengayun untuk mendekat ke arah istrinya.


“Udah cantik kaya gitu,” ujar Hilmi memeluk Nadia dari belakang lalu mencium pipi istrinya.


“Ehh.. Kak bikin kaget aja,” sahut Nadia langsung akan melepaskan cadarnya tapi ditahan oleh Hilmi.


“Gini aja udah cantik,” bisik Hilmi.


Nadia membalikkan tubuhnya menatap ke arah Hilmi untuk saja wajahnya tertutup cadar pasti Hilmi akan melihat wajahnya yang bersemu merah.


“Kak,”


“Hmm. Apa?”


“Kenapa sih kakak bisa yakin sama Nadia padahal kan kita enggak pernah ketemu dan ketemu pun pas kakak jadi penceramah di sekolah,”


“Kita kan dulu temenan pas kecil Nad,”


“Ihk buka sebelum kakak tau aku temen kecil kakak,”


“Mmm... Kalo kamu ketemu aku pas di sekolah aja tapi aku pernah liat kamu dan saat itu aku janji sama diri aku buat bikin kamu bahagia,”


“Kapan kok aku enggak tau?”

__ADS_1


Hilmi menarik pinggang Nadia agar lebih dekat.


“Waktu itu aku baru aja pulang dari cafe tapi saat dipertengahan jalan motor ku mogok terpaksa aku dorong dan pas tepat di depan rumah kamu tiba-tiba entah dorongan dari mana aku pingin berhenti dan perhatiin kamu yang lagi nyiram bunga.”


“Terus kakak liat dong pas aku kepeleset?”


“Aku liat banget malah pas kamu marah-marah sendiri,”


“Ihk... Kakak jangan di omongin malu tau...”


“Hehehehehe.... Iya..iya tapi yang enggak bisa aku lupain tentang kamu adalah satu,"


“Apa?”


“kelakuannya Yang kadang dewasa kadang kaya anak keciiilllll.....” Hilmi menarik hidung bangir Nadia yang tertutup cadar.


Dengan cepat Hilmi memgendong tubuh Nadia ala bridal menuju kasur king size mereka tak lupa membuka cadar nya tapi sebelum itu Hilmi mematikkan lampu kamarnya dulu.


Nadia hanya bisa pasrah atas apa yang di lakukan suaminya ini karena menolak pun dia tidak bisa karena itu termasuk dosa besar telah menolak permintaan suaminya.


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ


Walau semalam mereka berdua bergadang tapi pagi-pagi sekali pasangan pasutri itu sudah berkeliling komplek untuk lari pagi.


“Ahhh... Segernya,” Nadia merentangkan tangannya menghirup udah segar di pagi hari ini.


“Mau sarapan dulu enggak?”tanya Hilmi saat melihat tukan bubur.


“Boleh,” Nadia mengangguk.

__ADS_1


Mereka berdua jalan bergandengan.


“Pak buburnya 2,” ucap Hilmi lalu duduk di salah satu bangku kosong.


“Baik Den...” balas mang tukang bubur.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Saat sedang menikmati sarapan tiba-tiba terdengar ibu-ibu memuji Hilmi dan Nadia karena keharmonisan dan keromantisan pasutri itu.


‘Den... Hilmi sama istrinya cocok banget ya,’


‘Ahh romantisan banget padahal baru 3 hari menikah udah romantis banget apalagi udah betahun-tahun,’


‘Anu hiji gelieus anu hiji kasep eta mah klop lah,’


‘Semoga mereka rukun terus dan segera di kasih momongan,’


Ya, banyak lagi lah komentar dari ibu-ibu komplek yang sedang belanja di gerobak sayur dekat Hilmi dan Nadia duduk.


"Oh iyya kak ntar berangkat ke bandung kapan?” tanya Nadia.


“Kaya nya entar malem,”jawab Hilmi lalu tangannya terulur untuk mengelap bubur yang menempel di sudut bibir Nadia.


“Kak malu ihk di lihatin tuh,” ucap Nadia karena banyak orang-orang yang sedang memperhatikan mereka.


“Biarin kitakan udah halal,” balas Hilmi.


Setelah menghabiskan sarapannya Hilmi langsung membayar semuanya lalu mengajak Nadia pulang karena hari sudah mulai siang apalagi mereka nanti malam akan pergi ke bandung.


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ

__ADS_1


__ADS_2