
‘Jadilah tulang rusuk ku dan aku akan menjadi tulang punggungmu wahai bidadari surgaku,'
‘Aku--’
“NADIA BANGUN!!”
Bruk....
Karena kaget mendengar suara ibunya Nadia terjatuh dari ranjang tidurnya.
“Ahk ibu ganggu aja padahal sedikit lagi aku mau nikah sama pangeran tanvanku,” Nadia bangkit berdiri lalu berjalan dengan gontai ke kamar mandi.
Nadia terus saja saja gonceh tak jelas karena mimpi bersama pangeran tanvan nya di ganggu oleh ibunya.
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
Nadia bergabung di meja makan untuk sarapan bersama kakak dan ibu-nya.
“Kenapa wajah kamu di tekuk kaya gitu Nad?” tanya Arkan -kakak Nadia, umur nya terpaut 10 tahun dengan Nadia.
“Ini loh mas Ibu ganggu aja aku lagi mimpi indah,” keluh Nadia kepada kakaknya.
“Ibu ganggu apa? emang kamu mimpi indah apa?” tanya Risma Ibu Nadia.
“Dilamar sama pangeran tanvan,” jawab Nadia dengan santai membuat Arkan dan Risma tertawa.
“Ihk emang ada yang salah?” tanya Nadia polos.
“Enggak salah hanya mimpi kamu itu terlalu tinggi masih bocah juga,” sahut Arkan.
“Ihk... Mas Arkan mah, aku itu udah SMA catat S--M--A. Ya walau umurku masih 14 tahun,” kesal Nadia menekan kata SMA.
“Iyaiya udah gede,” sahut Arkan terkekeh dengan sikap adiknya yang kadang dewasa kadang kenakan.
__ADS_1
“Emang kamu udah siap menikah Nad?” tanya ibu dan dibalas anggukkan polos oleh Nadia.
“Kita doakan itu nyata Nad,” ujar ibu.
“Amin,” sahut Nadia dengan cepat.
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
Nadia berjalan beriringan dengan teman menuju Masjid. Dia dan Bella-temannya- akan mengikuti kultum harian ba'da zuhur.
Ini lah kegiatan yang paling Nadia suka jika sekolah Kultum harian karena ustad yang datang untuk memberikan materi kultum adalah ustad Hilman.
Ustad paruh baya itu sangat memotivasi Nadia dengan ceramah-ceramah yang asyik di dengar tidak membosankan.
Nadia hanya tau orangnya tapi tidak kenal dengan orangnya tapi menurut Nadia ustad Hilman itu baik dan ramah.
“Nadia!” seru Bella menepuk pundak Nadia.
“Ustad Hilman enggak datang,”
“Terus siapa dong yang gantiin,”
“Putra pertamanya,”
“Iyy, siapa?”
“Enggak tau,”
“Hmmmm...”
Mereka berdua pun membuka sepatu lalu masuk ke dalam *masjid.
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ*
__ADS_1
Seorang laki-laki turun dari motor ninja merah, helm yang fullpech membuat orang-orang penasaran akan wajah laki-laki itu.
Apalagi saat melihat penampilannya yang menurut mereka sangat keren.
‘SubahanAlloh,’
'Ahh oppa ganteng banget,’
‘Itu siapa?’
‘Santri baru kah?’
‘Tanvannya,’
‘Maha karya alloh sangat luar biasa,’
Ya, begitulah komentar para santri wati saat melohat wajah tanvan pemilik motor ninja itu.
“Assalamualaikum,” salamnya saat memasuki masjid.
“Waalaikumsalam,” sahut semua orang.
Ustad muda itu duduk di sebelah guru-guru.
“Anak-anak perkenalkan ini ustad Hilmi beliau yang akan mengantinkan ustad Hilman untuk sementara waktu.” ujar pak kepala sekolah.
“Assalamualaikum, perkenalkan saya Hilmi cukup panggil saya Kak Hilmi saja," Ucap Hilmi memperkenalkan dirinya.
Mata Hilmi memincing ke arah Nadia gadis cantik yang sedang ngedumel sendiri karena di ganggu oleh temanya. Bella.
“Nak Hilmi kita mulai saja.” ucap pak kepala sekolah yang duduk tak jauh dengan Hilmi.
Hilmi hanya mengangguk kecil sebelum ia memulai ceramahnya.
__ADS_1