Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
Empat


__ADS_3

Nadia mematung saat mendengar jawaban dari Hilmi. Apa mimpinya akan jadi nyata tapi di tidak pernah membayangkan seperti itu.


Bagahgia? ya jelas tapi apa jawabannya dia harus menerima atau menolak dengan halus.


'Kayanya kalo ada laki-laki datang ke rumah kamu terus dia niat buat halalin kamu langsung terima aja deh Nad biar mimpi itu enggak datang lagi'


Kata-kata Bella tiba-tiba tergiang dengan jelas di telinga Nadia.


“Jadi bagaimana keputusannya Nad terima apa tidak?” tanya ibu mengenggam tangan Nadia.


Nadia baru nyadari jika orang-orang yang ada disini sedang menunggu keputusannya.


Nadia terdiam sejenak menimang terima atau tidak.


“Kasih Nadia waktu buat memikirkan itu,” Nadia beranjak ke masuk kamar setengah berlari.


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ


Nadia merebahkan dirinya memandang langit-langit kamar-nya masih menimang keputusannya.


Dengan perlahan dia meraih ponselnya menelpon Bella menceritakan semuanya dan meminta saran untuk keputusannya.


Dia memang sudah siap menikah walau usianya terbilang belia tapi apakah dengan cara ini agar mimpi itu tidak menghantuinya lagi.


Apalagi jika mimpi itu tentang kekerasan dan perceraian sepasang suami istri membuat dirinya menjadi takut.


Tanpa sadar Nadia dan Bella sudah lama berbincang sekitar 30 menit. Dan pada Ahkirnya Nadia mematikan ponselnya karena tiba-tiba matanya mengantuk berat.


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ

__ADS_1


Nadia mengeliat panjang merasa pegal di sekujur tubuhnya.


“Astagfirullah aku ketiduran! mana belum sholat ashar lagi, ” pekik Nadia saat melihat jam dinding dikamarnya.


buru-buru dia beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


(づ ̄ ³ ̄)づ


Setelah Sholat Nadia langsung keluar kamarnya bergabung bersama ibu dan kakaknya yang sedang nyantai.


“Udah bangun Nad?”tanya Ibu.


"Udah buu..” jawab Nadia duduk di sebelah Arkan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.


Nadia memainkan ponselnya karena ibu dan kakaknya sedang membahas tentang pekerjaan kakaknya yang menjadi Pilot.


“Nomor siapa mas?” Nadia menatap kakaknya karena heran tiba-tiba di beri nomor ponsel seseorang.


“Nomornya Hilmi,”


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ


Besok.


Nadia berjalan beriringan bersama Bella. Ehh.... mereka tidak hanya berdua diantara mereka ada Ainil -sahabat Bella dan Nadia yang baru saja masuk sekolah setelah meliburkan diri.


“Wow amazing!!” pekik Ainil yang masih setia menatap layar ponselnya.


“Kenapa Nil? kamu gila kah?" tanya Bella memegang kening Ainil yang tiba-tiba berteriak.

__ADS_1


“Ishh.... Ndak! aku lagi liat sosmed ehh... tiba-tiba ada postingan tentang coffy shop terbaru di daerah sini,” ujar Ainil.


“Masih promo dan hari ini terahkir, kesana yuk!” ajak Ainil menarik tangan kedua sahabatnya lalu menyetop taksi tanpa menunggu jawaban Nadia dan Bella.


“Pak ke jalan xxxxx sekarang!” titah Ainil.


“Ainil aku belum izin ke ibu,” kesal Nadia mencubit pelan lengan Ainil.


“Heheheheh... kalian lama,” kekeh Ainil.


“Telepon aja Bu Risma-nya Nad, ” titah Bella kepara Nadia karena tau betul tentang pergaulan Nadia yang di batas oleh Risma dan Arkan.


“Iyya Bell,”


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ


Hilmi menatap pengunjung di cabang coffy shop ke-6 nya.


Hilmi memang membuka cabang coffy shop dimana-mana sejak 4 tahun yang lalu dan hari ini cabang ke 6 nya sudah buka di kota Jakarta kota metro politan ini sangat strategis untuk membangun usaha.


“Assamulaikum Hil,” kedua teman yang bernama Noval dan Aldo masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa membuat Hilmi mendongkakkan kepalanya.


“Ada apa?” tanya Hilmi menatap satu persatu sahabatnya.


“Arga enggak bisa datang buat nyanyi hari ini,” ucap Noval.


“Kamu gantiin ya,” timpal Aldo membuat Hilmi menegakkan kepalanya.


“Mmm......Boleh lah ini kan buat usaha ku juga,” putus Hilmi lalu berjalan keluar disusul oleh Noval dan Aldo.

__ADS_1


__ADS_2