
Skip.
Nadia membuka pintu bercat putih itu dengan pelan. Perempuan itu menatap sekeliling banyak foto seorang gadis cantik berkucir dua umurnya sekitar 4 tahun dan juga ada foto seorang anak laki-laki berumur 10 tahun memeluk gadis itu.
Disini juga ada piano, boneka unicorn dari kecil hingga besar, tas unicorne menumpuk dengan rapi, dan satu lagi yang membuat Nadia tambah bengong adalah sebuah jam tangan samaan disimpan dengan rapih disebuah kotak kaca.
Sultan dan Nana.
Itulahk nama yang tertulis dikotak kaca itu.
Nadia terdiam karena otaknya tiba-tiba mengingat sesuatu. Nama yang tak asing. Batinnya.
‘***Hai nama aku Muhammad Hilmi Sultan Akbar panggil aja Aku Sultan, ’
‘Wleee kejar aku,’
‘Huh! dasar payah masa baru gitu aja udah cape,’
‘Kamu cantik Na,’
'Nana ayok katanya mau main,"
__ADS_1
‘Gadis kelincinya kakak jangan nangis,’
‘Mau es krim enggak cil?’
‘Kak Sultan janji kalo bakal balik lagi,’
‘ tapiMaafin kak Sultan kalo nanti ingkar janji, ’
‘Kak Sultan harus pergi kamu baik-baik ya. Kalo ayah kamu sama Laras jahatin kamu lawan aja,’
‘Enggak boleh lemah! harus kuat!’
‘Kakak yakin suatu saat nanti kita akan ketemu lagi**,’
Apa Hilmi adalah anal laki-laki yang 10 tahun memberi menemaninya?
Anak laki-laki bernama Sultan yang memberikan beribu janji itu adalah suaminya?
Jika 'iya' mengapa empat tahun yang lalu Nadia tidak menyadarinya?
“Nadia," Nadia langsung menoleh melihat suaminya.
__ADS_1
Nadia hendak menghampiri suaminya tapi karena pusing yang menyerang kepalanya sudah membuat dia lemas.
Hilmi langsung menghampiri Nadia lalu meletakkan punggung tangannya didahi sang istri.
"Kamu sakit?" tanya Hilmi dan hanya dibalas gelengan kecil oleh Nadia.
"Kak, dia siapa?" Nadia menunjuk foto anak kecil kepang dua. Foto itu seperti sengaja dicetak besar.
Hilmi menoleh mengikuti arah yang Nadia tunjuk lalu laki-laki berusia dua puluh tahun tersenyum simpul.
"Dia namanya Nana. Dia bisa dibilang sahabat kakak, Dulu kakak sayang banget sama dia itupun entah kenapa kakak bisa sayang sama dia malahan rasa sayangnya melebih rasa sayang kakak ke Silmi. Kakak juga pernah janji kalo kita udah dewasa kakak bakal jadiin dia istri kakak tapi waktu itu karena kakak harus kembali ke pondok kakak udah enggak pernah ketemu lagi sama dia sampau sekarang semua ini adalah janji kakak ke Nana," jelas Hilmi.
Nadia terdiam sebentar rasa pusing yang menyerang kepalanya sudah hilang.
"Terus kalau Nana kembali kakak bakal ninggalin aku?" tanya Nadia membuat Hilmi langsung menatapnya.
"Ya enggak lahk sayang. Dengerin ya sekeras apapun rintangannya dan secantik atau sehebat apa perempuan yang ada dimasa lalu kakak, Kakak akan tetep sama kamu. Bidadari surga kakak dan kekasih halal kakak," ujar Hilmi membuat Nadia terpana.
"Menikah itu sekali seumur hidup, kunci pernikahan yang long last adalah saling percaya dan jujur serta saling membantu. Dalam suatu hubungan kebohongan kecil dapat merusak hubungan itu mau dipertahankan gimana lagi pun sekali berbohong akan tetap berbohong," imbuh Hilmi lagi membuat Nadia tak canggung memeluk tubuhnya memendamkan wajah cantiknya terpana karena ucapan sang suami.
"Inni uhibbuka fillah, Nadia," bisik Hilmi mengusap punggung Nadia dengan lembut lalu mengecup ubun istrinya.
__ADS_1
"Ahabbakallazi ahbabtan lahu" balas Nadia dengan senyum manisnya.
-----***-----