ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
PROLOG


__ADS_3

Siapa saja tolong aku!!


Kaki ku tersandung dahan pohon tumbang yang tergeletak di tanah, tak pelak aku terjatuh dengan posisi


memalukan. Pada saat genting begini kakiku malah tersandung, benar-benar sial. Aku bahkan tidak perduli lagi bagaimana memalukannya diriku saat jatuh, yang harus aku lakukan adalah lari dan pergi dari tempat ini secepatnya.


Aku bukannya paranoid, biasanya aku ini orang yang selalu berfikiran positif dan rasional, tapi kalau kalian di posisiku, kalian juga pasti akan lari ketakutan.


Tiba-tiba saja aku terbangun di sebuah gubuk tua di dalam hutan, penerangan yang ada di gubuk itu hanya lampu minyak yang tertempel di tembok, cahayanya bahkan tidak cukup untukku melihat sekitar.


Terakhir yang ku ingat sebelum berada di gubuk tua reot ini, aku sedang berpesta dengan teman-teman ku, merayakan terpilihnya aku sebagai maskot di rumah sakit tempatku bekerja mewakili seluruh dokter yang ada di sana dan juga aku baru saja jadian dengan dokter bedah yang sangat tampan yang juga bekerja di rumah sakit yang sama denganku.


Aku yakin saat aku mulai bekerja esok, semua orang pasti akan bersorak karena pencapaianku yang bisa di bilang luar biasa. Apalagi dokter tampan itu memegang jabatan yang tinggi sebagai direktur rumah sakit, para gadis akan bersumpah serapah di belakangku karena iri.


Lupakan tentang itu untuk sementara, tidak akan ada hari esok kalau aku tidak bisa keluar dari hutan terkutuk ini hidup-hidup.


Aku mencoba bangun tapi sialnya kaki kiriku tersangkut, sangat sulit untuk melepaskannya.


Apa aku memiliki dosa di masa lalu pada ranting pohon, kenapa dia jadi menahanku seperti ini.

__ADS_1


Aku menarik kakiku dengan kuat, aku sudah tidak perduli dengan rasa sakit yang di timbul, seorang diri di dalam hutan tentu saja membuatku takut. Tapi untungnya malam ini bulan lebih berbaik hati kepadaku karena dia bersinar sangat terang, tapi juga agak menakutkan karena ini purnama, bukannya setan-setan biasa keluar pada malam bulan purnama.


Ku singkirkan jauh-jauh pikiran gilaku dan kembali fokus dengan kakiku yang terjebak.


Dann yaaattaaaa.........


Akhirnya kakiku terlepas, akan ku ingat saat-saat ini sebagai hal yang sungguh menggembirakan.


Aku berjalan kembali dengan kakiku yang agak pincang, sepertinya aku terkilir, dan juga kakiku penuh dengan luka goresan, kaki indah ku seharusnya tidak perlu melewati penderitaan seperti ini.


Aku akan mencari siapa orang di balik semua ini, kalau ini hanya gurauan, ini sudah sangat keterlaluan, dipikir mereka aku tidak bisa marah. Walaupun aku terlihat sangat naif dan juga sopan, aku ini punya sisi lain yang menakutkan saat marah.


"Benarkah kau akan membalasku?"


Sebuah suara mengejutkanku, suaranya pelan tapi aku bisa mendengarnya dengan baik, di hutan sesunyi ini suara sekecil apapun pasti akan kedengaran dengan jelas. Dan satu hal yang aku tahu itu suara wanita.


Otakku mulai berfantasi lagi, aku membayangkan gadis dengan pakaian putih duduk di atas pohon dan mengeluarkan suara cekikikan yang khas, aku sering melihat ini di film.


Aku menutup kedua telingaku dengan tangan dan menutup mataku rapat-rapat.

__ADS_1


"Aku tidak ingin melihatnya, aku tidak ingin melihatnya, ya tuhan lindungi aku dari setan sialan itu"


Aku merapalkan kalimat itu berulang-ulang, seakan-akan itu adalah doa yang bisa mengusir segala mahluk jahat di sekitarku.


Aku mendengar suara gesekan dedaunan kering di tanah, orang itu, wanita yang berbicara kepadaku itu mendekat dengan perlahan. Sedikitpun aku tidak berani membuka mataku.


Kalau dia benar setan seharusnya dia tidak bisa menyakitiku kan, dia hanya bisa menakut-nakuti ku dengan wajah jeleknya.


Aku merasakan sesuatu menghujam kakiku, seketika aku jatuh, ku lihat kakiku sudah terpisah dari tempat yang seharusnya, darah menyembur keluar dari kakiku yang terpotong, aku berteriak sambil menangis kesakitan.


Di hadapanku seorang wanita berdiri memegang sebuah kapak besar yang biasa di gunakan untuk menebang pohon, dengan senyum mengerikan.


Dia menjambak rambutku dengan kasar, aku menghabiskan waktu berjam-jam di salon untuk mewarnai rambutku dengan warna biru di ujungnya, dan sekarang di tarik sampai rontok dengan tidak manusiawi.


Aku ingin protes, tapi mulutku bahkan tidak bisa berucap apa-apa karena kesakitan. Lagipula ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan masalah rambut.


"Ini balasan untuk cewek hina sepertimu, yang berani menyentuh miliku!"


Setelahnya pandangan ku mengabur dan sedetik kemudian aku sudah tidak ingat apapun, aku rasa aku tertidur, tidur yang panjang.

__ADS_1


Seseorang tolong bangunkan aku, aku ingin pulang.


__ADS_2