
"Dia mengundurkan diri di saat saat seperti ini!"
Keluhan dari kepala divisi sejak satu jam lalu tidak juga berubah, entah sudah berapa ratus kali dia mengeluh tentang pengunduran diri Minki yang tiba-tiba. Padahal surat pengunduran dirinya sudah di serahkan seminggu yang lalu, tapi baru sekarang dia mengeluh.
Aku cukup terkejut saat dia tiba-tiba bilang ingin menikah, aku tidak bisa membayangkan pria macam apa yang akan menikah dengannya, dia pasti sudah terlatih fisik dan mental untuk menghadapi sikap kekanakan Minki.
Ribuan kali aku membujuknya untuk berfikir ulang, menikah bukan berarti harus meninggalkan pekerjaan, dan lagi kenapa juga dia harus berhenti tepat di saat seperti ini.
Mulanya ini hari yang biasa saja, tapi berubah menjadi hari yang super sibuk setelah tiba-tiba seorang warga menelpon dan melaporkan tentang saluran air di lingkungan mereka mampet, juga tercium bau busuk, warna airnya juga berubah menjadi merah kehitaman.
Ku pikir mungkin itu hanya laporan pencemaran lingkungan biasa, tapi ternyata aku salah.
Lebih dari satu lusin mayat berjejalan di dalam pipa menutup akses air. Salah satunya adalah buronan penyelundup narkoba yang sedang di cari-cari polisi selama ini, Matthew Gill.
Petugas forensik bilang di perkirakan mereka mati sejak seminggu yang lalu, tubuh mereka sudah membusuk, sangat sulit mengenali mereka semua, mereka semua mati dengan sangat mengenaskan.
Padahal aku sudah sering melihat mayat semacam ini, tapi entah kenapa rasanya aku jadi ingin muntah, melihat usus yang terburai keluar, kepala yang terbelah, otak yang tercecer. Astaga yang melakukan ini pasti bukan manusia.
Aku masih sibuk dengan komputer, mengetik laporan tentang pembunuhan yang mengerikan itu, sambil
menunggu hasil pemeriksaan dari petugas forensik. Aku harap akan ada petunjuk walau sedikit.
Anggota timku sudah bersiap, aku berada di tim yang hebat, tidak ada alasan untukku mengeluh tentang tugas sekarang, prioritas ku adalah untuk menangkap pelaku pembunuhan itu, dengan tanganku sendiri.
"Ini pasti ulah kelompok besar, tidak mungkin kan hanya satu orang yang menghabisi mereka semua" Danny berucap yakin, dia rekan setimku, dia punya sifat yang aneh dah lain dari pada yang lain, kau bisa di buat terheran-heran dengan tingkahnya seharian.
"Paling perkelahian antar gang, mereka biasa berkelahi untuk memperebutkan wilayah untuk berjualan narkoba" Fredie juga ikut angkat suara.
Setelahnya mereka berdua berdebat tentang siapa yang pantas untuk di jadikan tersangka.
Aku tidak ingin ikut dalam perdebatan mereka, aku hanya ingin menulis laporan ku dengan tenang dan menyelesaikannya, setelah ini aku pasti akan sangat sibuk, dan tidak bisa menyelesaikan laporan tepat waktu, sedangkan atasan selalu ingin laporannya di serahkan tepat waktu.
"Baekho menurutmu siapa?"
Fredie memandangiku penuh harap, sambil menunjukan dua buah foto.
"Skull skip atau red wine?" Danny mengedip-ngedipkan matanya, menunggu jawaban.
__ADS_1
"Aku rasa bukan mereka" ucapku acuh.
"Lalu?"
"Kemungkinan Gold dragon?" Ucapku datar sambil masih mengetik laporan.
"GD?" Ucap Danny dan Fredie hampir bersamaan, aku hanya terkekeh melihat tingkah mereka berdua.
"Menurut kabar, Matthew Gill pernah bekerja untuk bos mafia Gold dragon dan tidak berakhir baik, jadi sepertinya wajar kalau mencurigai mereka"
"Apa gold dragon itu nyata? Sudah lama kita di sini dan kita tidak pernah bisa membuktikan keberadaan organisasi mafia gold dragon"
"Mafia besar seperti mereka pasti pintar menutupi keberadaannya, yah ini hanya firasatku, kita lihat saja nanti"
Fredie mendengus kesal dengan jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya, bukan salahku kan, jika aku punya pemikiran sendiri.
☠☠☠
Aku sedang mengobrol dengan dokter bagian forensik namanya Tria, dia sudah selesai dengan pemeriksaan mayat yang kami temukan tadi pagi.
Kalau saja Minki ada di sini, dia pasti bisa memberikanku daftar tersangka siapa saja yang patut di curigai. Sebagai psikolog forensik dia sangat pintar.
"Bukannya itu bagus, kita tinggal membandingkan sidik jarinya dengan database, dan kita bisa menemukan tersangkanya" ucapku yakin.
Tria menyerahkan beberapa lembar kertas, di kertas itu tertulis hasil dari kecocokan sidik jari yang di temukan di TKP dengan database.
Aku mengedipkan mataku berkali-kali, aku sampai menyapu mataku dengan ujung lengan baju, aku tidak percaya dengan apa yang tertulis di kertas itu, ini semua pasti bohong.
"Kau sedang mengerjaiku? Ini sama sekali tidak lucu, kita sudah lama kenal, beraninya kau melakukan ini" aku menatap Tria dengan marah.
Tria membuang napasnya kasar, dia memandangku dengan tatapan nanar.
"Aku juga berteman dengannya, tapi itulah kenyataan yang aku temukan"
"Kau tahu Minki, dia sangat lemah, bagaimana mungkin dia menjadi seorang pembunuh, pasti ada yang menjebaknya" aku masih tetap membela Minki, sangat mustahil Minki melakukannya, Minki yang ku kenal adalah gadis polos yang mudah ketakutan.
"Bukan hanya ini, tapi masih banyak pembunuhan lain. Polanya sama, pembunuhnya pasti orang yang sama, karena penasaran aku mengecek semuanya, aku membandingkan DNA Minki dengan korban pembunuhan lain yang tidak bisa kita selesaikan sebelumnya, dan hampir semuanya cocok"
__ADS_1
Tria kembali memberikanku setumpuk kertas.
Kakiku tiba-tiba lemas, aku terduduk lesu, aku tidak percaya, ini benar-benar tidak bisa di terima berarti selama ini Minki membohongiku, dia bekerja di sini bersamaku, membantuku meyelesaikan banyak kasus, tapi sebenarnya dia juga seorang pembunuh.
Aku sangat bodoh sudah mempercayainya selama ini.
"Tria aku ingin minta satu hal padamu"
"Ya, apa?"
"Bisa kau rahasiakan ini, aku akan menemui Minki dan meminta penjelasan darinya, pasti bukan Minki pelakunya, pasti ada alasan kenapa sidik jari dan DNA Minki bisa cocok dengan para korban"
Tria mengerutkan keningnya mendengar permintaanku, dia pasti tidak akan setuju.
"Baiklah, tapi hanya sampai nanti sore, kita tidak boleh menutupi masalah ini, aku paham perasaanmu, kau pasti sangat terkejut karena Minki adalah teman baikmu, tapi kita harus menangkap pelakunya"
Ucapan Tria sangat masuk
akal, bagiamana pun sayangnya aku pada Minki, dia tetap harus mempertanggung jawabkan kesalahannya.
"Aku akan membawa Minki dengan tanganku sendiri, tolong rahasiakan ini, hanya sebentar" ucapku pelan dan di sambut anggukan oleh Tria.
☠☠☠
Aku sampai di kantor polisi dengan wajah lesu.
Sepanjang perjalanan kembali aku meyakinkan diriku bahwa apa yang terjadi ini tidak nyata.
"Apa kata bagian forensik?" Fredie langsung menodongku dengan pertanyaan yang tidak ingin ku jawab.
"Mereka belum menemukan apapun, tunggu sebentar lagi" mendengar ucapanku Fredie langsung pergi dengan kecewa, dia berharap bisa menangkap pelakunya hari ini juga. Aku terpaksa berbohong padanya.
"Seseorang mengirimkan surat untukmu, aku meletakannya di atas meja" setelah mengatakan itu Fredie segera berbalik kembali.
Siapa yang mengirimiku surat, siapa? Sedang setengah hati ku buka amplop coklat yang di atasnya bertuliskan namaku itu.
Terdapat dua foto di dalam amplop itu, ku pikir mungkin ini hanya surat kaleng, tapi ternyata aku salah.
__ADS_1
Di kedua foto itu, terlihat Minki sedang memegang kapak dan mencabik-cabik tubuh Matthew dengan membabi buta.
Aku harus menemui Minki secepatnya.