
"Agh!!" Aku mengacak-acak rambut frustasi.
"Siapa orang gila yang melakukan ini!!" Teriakan ku memenuhi seisi ruangan.
Aku mendengarkan berita tentang penemuan seorang mayat dari tv yang berada di ruang tengah, suara tv sengaja ku buat sekencang mungkin, supaya aku yang berada di pantry membuat kopi masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Baru saja beberapa hari lalu aku mulai berpacaran dengannya, dan tahu-tahu dia meninggal dengan mengenaskan. Berani taruhan sebentar lagi polisi pasti akan memanggilku sebagai saksi, atau mungkin aku akan di jadikan tersangka lagi seperti yang sudah-sudah"
Aku mencengkram erat sendok di tangan ku membuat sendok itu sedikit melengkung.
Ini bukan pertama kalinya wanita yang dekat denganku meninggal, aku bahkan sudah tidak ingat ada berapa orang, aku bosan menghitungnya.
Hanya beberapa hari berkencan dan setelahnya di temukan meninggal dengan kondisi mengenaskan, ada juga yang menghilang dan tidak di temukan sampai sekarang. Aku bahkan kehilangan calon istriku di hari pernikahan karena sebuah kecelakaan yang tidak masuk akal.
Awalnya ku pikir ini hanya sebuah kebetulan, tapi lama kelamaan aku mulai curiga, ada seseorang yang sengaja melakukan ini padaku, entah apa motifnya.
Seingatku aku tidak punya musuh, tapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang diam-diam benci padaku, dendamnya pasti sangat kuat sampai-sampai bisa berbuat hal sekejam ini.
Polisi terus saja mencurigai ku, sudah beberapa kali juga aku keluar masuk penjara, aku selalu di bebaskan karena polisi tidak bisa menemukan bukti, dan lagi aku selalu punya alibi.
Karir yang selama ini sudah ku bangun dari nol bisa berantakan kalau begini.
"Aku akan membunuh psikopat gila itu dengan tanganku sendiri, kalau aku bertemu dengannya!" Gigiku mengeluarkan suara gemeretak saking marahnya.
Aku berjalan menuju kulkas, mengabaikan kopi yang telah ku buat, aku sudah tidak bernafsu untuk minum kopi sekarang, aku butuh yang lain.
Aku meraih sebotol wiski dari dalam lemari dan menuangkannya ke gelas yang sudah ku isi dengan es batu dari kulkas.
Minuman beralkohol memang sangat cocok untuk menemaniku di saat-saat seperti ini, paling tidak aku bisa melupakan masalahku untuk sejenak.
Aku sudah menghabiskan setengah botol saat aku ingat sesuatu yang penting.
Ughh gadis muda itu, Minki, dia akan datang sebentar lagi. Seharusnya aku tidak minum, bagaimana bisa seorang dokter terlihat minum alkohol dan mabuk di depan pasiennya.
Aku pertama kali bertemu Minki lima tahun yang lalu saat dia menjalani operasi paru-paru untuk meringankan asmanya.
Mulai saat itu dia terus menempel padaku. Operasinya berjalan dengan sukses dan tidak ada hal yang buruk terjadi padanya. Tapi dia terus saja datang ke rumah sakit mengeluhkan ini dan itu, dia bahkan teratur datang menemuiku satu minggu sekali dengan alasan cek up.
Dia juga sering menelpon ku untuk sekedar bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, jika sedang tidak sibuk aku mengajaknya jalan-jalan membelikannya ice cream dan boneka. Aku dan dia terlihat seperti
ayah dan anak.
Aku sebenarnya sama sekali tidak keberatan, dia gadis yang manis dan lucu, dia juga cantik dan lemah lembut. Kalau boleh jujur, aku menyukainya, sangat menyukainya.
Tapi aku harus tahu posisiku, aku ini sudah tua, mana boleh menyukai gadis kecil sepertinya.
Aku yang berusia 41 tahun ini, tidak mungkin mengencani anak di bawah umur, yang umurnya terpaut 16 tahun lebih muda dariku. Aku lebih pantas menjadi pamannya dari pada menjadi pacar.
__ADS_1
Aku tidak ingin dia menganggap ku om-om genit. Reputasiku harus di jaga, aku orang yang terhormat.
Mungkin karena dia tidak punya ayah, itu sebabnya aku dan dia bisa jadi sangat dekat, anak yang malang, dia tinggal sendirian sedangkan ibunya tinggal di tempat yang jauh dan tidak bisa
meninggalkan pekerjaannya. Itu yang dia katakan padaku saat aku bertanya kenapa dia tinggal sendirian.
Aku meletakan kembali wiski ku ke dalam lemari, aku agak mabuk sekarang, tapi sepertinya tidak terlalu kelihatan. Aku tidak boleh memberikan contoh yang jelek pada Minki.
Ini sudah hampir jam 11 dan dia belum juga muncul, apa terjadi sesuatu padanya? aku baru saja ingin menelponnya tapi suara bel menghentikanku.
Aku yakin itu dia. Padahal sudah ku bilang jangan datang malam-malam.
"Dokter Kim!!" Suara cempreng Minki terdengar saat aku baru membuka pintu, dia memegang bungkusan plastik transparan yang di dalamnya ada box berwarna putih.
Dia cantik sekali malam ini, dengan baju berwarna abu dan rok pendek lipit berwarna maroon senada dengan lipstik yang di pakainya, dia kelihatan sexy dengan lipstik berwarna gelap itu, membuatku menelan salivaku, dan jangan lupakan heels boots hitam yang membuatnya kelihatan lebih tinggi dari biasanya.
"Boleh aku masuk dokter Kim?"
Aku tersadar dari lamunanku dan mempersilakannya masuk lebih dulu.
Saat dia melepaskan sepatunya dan menunduk, dari belakang aku bisa melihat dengan jelas celana dalam berwarna merah yang di pakainya, aku tertegun sebentar sebelum mengalihkan pandangan.
Dia sedang menggodaku atau apa?
Kami hanya berdua di sini dan aku sedang dalam keadaan sedikit mabuk, aku harap tidak terjadi hal yang tidak di inginkan, aku tidak ingin merusak gadis ini, yang sudah aku anggap sebagai anak.
Minki menunjukan bungkusan plastik yang di bawanya padaku sesaat setelah dia duduk di sofa.
"Apa itu" tanyaku, aku tidak penasaran sama sekali, aku hanya menanggapi Minki supaya dia merasa senang.
"Aku memintamu menebaknya, bukan malah balik bertanya" wajahnya berubah masam dengan bibir mengerucut, imut sekali.
"Baiklah aku akan menebaknya, apa itu kado untukku?"
Jawabanku membuatnya mendengus, apa aku salah jawab.
Dia membuka bungkusan itu dengan kesal, dan ternyata di dalamnya ada kue tart. Untuk apa dia membawa tart ke sini.
"Minggu lalu aku berulang tahun, kau pasti lupa karena aku bukan orang yang penting untuk di ingat" ucapnya sambil memandangku dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, kau tahu kan aku sudah tua, bukannya aku sengaja melupakan hari ulang tahunmu" aku berusaha membela diriku, tapi itu malah membuat Minki kelihatan makin sedih.
Anak ini sangat sensitif, memang salahku karena melupakan hal sepenting ini, aku ingin mengutuk diriku sendiri menjadi batu kalau bisa.
"Tidak terasa umurmu sudah 25, kau sudah dewasa sekarang, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke taman hiburan, kita bisa membeli ice cream, gulali dan boneka, topi yang lucu"
Entah lah apa bujukanku akan berhasil, dia sama sekali tidak menggubris ucapanku.
__ADS_1
"Tidak apa dokter Kim, tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf, dan lagi aku ini sudah besar bukan anak-anak, sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti gadis kecil?" dia tersenyum, tapi entah kenapa aku merasa sedih melihat senyumnya.
Aku mendekatinya dan mengelus rambutnya dengan lembut, dia menengadah mensejajarkan wajahnya denganku.
"Dokter Kim, kau minum?"
Ah sial aku ketahuan, dia pasti mencium bau alkohol dari mulutku.
"Kau pasti sedang sedih, pacarmu kan baru saja meninggal"
Aku melepaskan tanganku dari kepalanya dan menatapnya penuh tanda tanya, dari mana dia tau?
"Aku tahu karena aku bekerja di kantor polisi sekarang, aku sedang membuat profiling pembunuhnya"
Seakan tahu isi pikiranku, dia menjawabnya lebih dahulu.
"Aaaahh iya tadi siang kau mengatakannya di telpon" aku menepuk dahinya pelan, apa memang karena aku sudah tua makanya bisa lupa segala hal sekarang.
"Aku pasti sekarang ada di daftar tersangka" ucapku yakin dan di sambut anggukan oleh Minki.
"Apa kau juga berfikir kalau aku pelakunya?"
"Aku berada di sini adalah jawabannya, kalau memang kau pelakunya aku akan menghindarimu"
Ucapan Minki membuatku senang, paling tidak ada satu orang di dunia ini yang percaya padaku.
"Apa yang sangat kau inginkan untuk kado ulang tahunmu? Kau boleh minta apapun, dan aku akan memberikannya, untuk menebus kesalahanku karena melupakan hari ulang tahun mu"
"Benarkah? Janji akan memberikannya padaku, apapun itu?" Mata Minki langsung berbinar senang, dan akhirnya dia tersenyum lagi, membuatku lega.
"Tentu saja"
"Kau tidak boleh menarik kata-kata mu, janji?" Dia menyodorkan jari kelingkingnya dan ku sambut dengan jadi
kelingkingku.
"Iya janji, katakan apa yang kau mau"
Minki diam sejenak, dia menatapku ragu-ragu, tapi akhirnya membuka mulutnya.
"Aku menginginkanmu"
"Apa!" Sontak aku kaget dengan perkataannya, entah aku salah dengar atau apa, sebaiknya aku memeriksakan telingaku, jangan-jangan tersumbat sesuatu.
Belum selesai kekagetan ku sebelumnya, tapi dia sudah membuatku kaget lagi.
Dia menyentuh pipiku dengan jari-jari lentiknya dan mendekatiku, sedetik kemudian bibirnya sudah menyentuh bibirku.
__ADS_1
Aku melotot tidak percaya. Mungkin karena mabuk aku sedang berhalusinasi, apa gadis ini benar-benar mencium ku?!