
Suara ibu-ibu yang asik tertawa membangunkan ku, aku mengumpulkan sisa-sisa nyawaku yang masih berpencar kesana kemari.
Ku buka jendela kamar yang langsung berhadapan ke jalan, aku melihat ibu-ibu sedang berkumpul. Pasti sedang ada gosip hot di sekitar sini yang bisa di perbincangkan.
"Anak gadis kok bangunnya siang? Nanti berat jodoh loh!" Ah itu Lina, wanita tua yang selalu saja ikut mengomentari hidupku.
Aku hanya tersenyum sambil melambai, dan kembali menutup jendela rapat-rapat, aku tidak punya tenaga untuk berdebat dengannya hari ini.
Berani taruhan para ibu-ibu itu pasti sudah mengubah topik pembahasan mereka dan beralih menggosipi aku. Tapi siapa juga yang perduli, omongan mereka tidak akan mempengaruhi kehidupanku.
Aku berjalan keluar kamar dan mendapati Kevin yang tidur di sofa depan tv. Tv di hadapannya masih menyala, bukan dia yang menonton tv tapi tv yang menontonnya sedang tidur.
Ngomong-ngomong tentang Kevin, aku bermimpi lucu tadi malam. Kevin mencumku dan memanggilku sayang, aku jadi geli sendiri mengingatnya, itu mimpi teraneh yang pernah ku alami, andai saja yang di dalam mimpi itu Johan bukannya Kevin.
Aku berjalan menuju dapur,meletakan panci di atas kompor, aku berfikir sejenak, apa yang harus aku masakĀ pagi ini?
Aku mengambil kembali panci yang aku letakan di atas kompor dan menggantinya dengan penggorengan, aku pikir lebih mudah membuat pancake dengan toping madu, jadi aku tidak perlu terlalu repot.
Tapi saat melihat oat di dalam lemari aku jadi berubah pikiran lagi, lebih baik aku membuat oat dengan
buah-buahan, itu akan bagus untuk program dietku, apalagi kemarin aku makan luar biasa banyak.
Aku hanya punya sedikit buah di kulkas, dan juga sedikit kacang-kacangan, aku memeriksa tanggal kadaluarsanya, aku tidak mau mati keracunan karena makanan yang tidak layak makan.
Kevin masih tetap tidur di posisinya tidak bergerak sama sekali, apa dia mati, ini sudah hampir siang, matahari juga sudah tinggi tapi dia belum juga bangun.
Dia cowok yang sama sekali tidak bisa di andalkan, seharusnya paling tidak dia menyelesaikan kuliahnya dan
mencari pekerjaan yang benar, bukannya malah jadi pengangguran yang kerjaannya menipu, dasar tidak berguna.
Aku menendang-nendang tubuhnya pelan untuk membangunkannya, aku tidak bisa membangunkannya dengan tangan karena tanganku kotor.
Kevin menggeliat dan menguap beberapa kali sebelum akhirnya membuka mata, dia duduk dalam keadaan setengah sadar, aku memberikannya segelas air putih dan di sambutnya lemas.
"Jam berapa sekarang?" Suaranya serak karena baru bangun tidur.
"Sebelas!" Aku meninggalkannya kembali ke dapur dan mengurusi masakanku.
Aku mendengarnya melenguh panjang, dia mirip sapi.
"Aku akan pulang" ucap Kevin sambil meletakan gelas kosong ke hadapanku.
"Tunggu sebentar, sarapan dulu"
__ADS_1
"Ini sudah siang"
"Kalau begitu makan siang, duduk di sana, sebentar lagi selesai" Kevin menuruti perkataan ku dan duduk manis di meja makan.
Hanya beberapa menit oat yang aku buat sudah siap, aku meletakan satu mangkok besar oat di hadapan Kevin. Karena Kevin sangat suka pisang jadi aku menambahkan pisang di atas oat nya, sedangkan aku hanya makan oat buah berry dan kacang-kacangan.
"Mirip muntahan kucing" ucap Kevin menghina.
"Makan saja brengsek!" Aku melemparkan sendok padanya dengan kesal, aku sudah susah payah membuatnya dan dia bilang itu muntahan kucing, dasar kurang ajar.
"Apa yang terjadi denganmu kemarin?"
"Kemarin?"
"Kenapa kau bisa sampai terluka?"
"Aku kan sudah bilang kalau aku terpeleset di kamar mandi!" ucapku kesal.
"Huh kau pikir aku ini buta tuli!" Kevin menggebrak meja, membuatku kaget, ini pertama kalinya Kevin
melakukan ini.
"Kau pikir kau siapa beraninya marah padaku!" Aku menatapnya tajam.
"Kenapa? Kau mau membunuhku?" Kevin mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan melemparkannya padaku.
Aku memegang pistol itu gemetar dan mengarahkannya pada Kevin, aku tidak punya niat sedikitpun untuk
menarik pelatuk, aku hanya sedang mengancamnya. Tapi dia tidak mundur sedikitpun.
Kenapa sih dia harus membesar-besarkan masalah sepele seperti ini, lagipula kan aku tidak menimbulkan malasah yang melibatkannya.
"Oke aku mengalah!" Aku menurunkan pistol yang ku pegang dan meletakkannya di atas meja.
Dengan terpaksa aku menceritakan semuanya pada Kevin, wajahnya langsung berubah menjadi tegang, ada raut wajah marah dan juga khawatir bercampur jadi satu
Aku cukup paham perasaan Kevin, dia kadang terlalu lebay dan terlalu khawatir padaku, padahal aku baik baik saja.
"Aku sudah bilang ribuan kali, sudah saatnya kau berhenti, ini cukup!" Kevin meninggikan suaranya.
"Apa hakmu melarangmu melakukan hal yang aku suka, aku saja tidak melarangmu punya banyak pacar dan menyakiti hati gadis-gadis yang dekat denganmu, kau juga seorang penipu, apa pantas orang sepertimu menceramahi ku"
"Itu hal yang berbeda!"
__ADS_1
"Berbeda apanya, dasar egois"
"Apa kau bilang!"
"Aku bilang kau egois" aku mengoloknya dengan menjulurkan lidahku.
"Egois buka kata yang tepat untukku yang selalu memprioritaskan dirimu" Kevin menatapku marah
Aku seketika terdiam, aku tidak pernah melihat Kevin semarah ini, apa aku sudah keterlaluan?
Memang benar dia selalu memprioritaskan aku dia atas apapun, dia selalu datang saat aku menelponnya,
saat ada masalah dia yang lebih dulu ada untukku. Aku menatapnya sebentar lalu menunduk kembali saat dia balas menatapku.
"Aku sudah selesai sarapan, aku akan pulang, terima kasih untuk makanannya"
Kevin pergi tanpa berpaling padaku sedikitpun, dia menghilang di balik pintu dengan wajah masamnya.
Perasaanku jadi tidak enak karena perkataannya itu, tapi tetap saja dia tidak bisa melarangku melakukan hal yang ku suka, ini kan hidupku.
Tak lama setelah Kevin pergi ku dengar suara pintu yang di ketuk. Aku tersenyum senang, Kevin pasti kembali, dia tidak akan bisa tahan lama-lama marah padaku.
Aku membuka pintu dengan semangat untuk menyambut Kevin, tapi aku kecewa setelah tahu siapa sebenarnya yang ada di depan pintu.
"Hei Lina" sapaku ogah-ogahan, kenapa juga wanita tua ini malah ke sini.
"Kau tidak seharusnya membawa teman laki-lakimu menginap di rumah, kau kan tinggal sendirian" ah wanita ini tidak ada basa-basinya sama sekali.
"Lalu apa aku harus menyuruhnya menginap di rumahmu?" Balasku ketus.
"Suruh saja dia pulang ke rumahnya sendiri, memangnya dia tunawisma!" Lina meninggikan suaranya.
Aku mendengus kesal, aku tidak berminat berdebat dengannya pagi ini, kenapa malah dia yang datang dan
mencari Maslah denganku.
Aku sudah menarik gagang pintu dan berniat untuk menutupnya, tapi pintuku di tahan oleh Lina.
"Ini untukmu, aku kebanyakan membuatnya" Lina memberikanku toples berisi kue kering. "Makan yang banyak, makin hari badanmu makin kurus saja"
Lina lalu pergi dari rumahku, aku heran kenapa dia bersikap baik dan perhatian padaku hari ini.
Apa ini hari kebalikan? Kevin yang biasanya tidak pernah marah malah marah besar, Lina yang biasanya selalu
__ADS_1
mengkritik dan menggosipiaku sekarang malah baik.
Kurasa pukulan di kepalaku sangat keras jadi aku mengalami gangguan fungsi otak?