
Ku putuskan untuk menginap di apartemen Johan malam ini, dengan alasan sakit kepala. Johan sepertinya tidak percaya, tapi dia tetap memperbolehkan aku untuk menginap.
Sebenarnya kepalaku memang agak sakit, mungkin karena kelelahan,aku terlalu bersemangat hari ini.
Johan memperlakukanku dengan manis, aku mendapatkan kalung yang sangat mahal. Tapi aku lebih menyukai sendal baruku.
Daripada benda mahal yang mewah, aku lebih suka barang yang dibelinya sambil memikirkan ku, seperti sendal ini.
Aku berlari menuju kamar dan langsung melemparkan tubuhku ke atas ranjang, setelah seharian hanya jalan-jalan akhirnya aku bisa meluruskan punggungku.
Lagi-lagi sakit kepalaku muncul, rasanya sepeti kepalaku tertekan beban yang sangat berat, dan lagi aku agak mual. Apa jangan-jangan aku hamil?
"Dokter Kim!" Aku berteriak memanggil Johan yang sedang sibuk di pantry membuatkan aku teh hangat.
Johan datang dengan berlari secepat kilat, mungkin di pikirnya terjadi sesuatu padaku.
"Ada apa?" Ucapnya khawatir.
"Kepalaku sakit dan aku mual" ucapku memegangi perutnya sambil mengelusnya.
"Ck, ku pikir apa, aku akan membuatkanmu teh hangat, tunggu sebentar" Johan berniat untuk kembali ke pantry tapi tertahan.
"Aku rasa aku hamil" ucapku polos.
Tawa Johan langsung meledak, setelah sekian detik tawanya berhenti, tapi saat melihatku, dia mulai tertawa lagi.
Hampir satu menit aku menunggunya berhenti tertawa, mungkin ucapanku sangat lucu baginya.
"Kau hanya masuk angin" ucap Johan, setelah dia bisa menguasai dirinya kembali.
Johan duduk di sebelahku dan menatapku dengan serius.
"Kita baru melakukannya kemarin, kau pikir embrio terbentuk secepat itu?"
Agh aku tidak mengerti, aku bukan dokter, aku juga tidak pernah mempelajarinya sebelumnya, mana aku tahu.
"Ku pikir aku hamil, ternyata hanya masuk angin?" Aku memasang wajah polos membuat Johan gemas dan menciumi pipiku berkali-kali.
"Kecuali kalau kau hamil dengan orang lain" Johan memicingkan matanya. Aku merasa terintimidasi.
Aku tidak suka arah pembicaraan ini, aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain, hanya dengan Johan.
__ADS_1
"Aku berani sumpah, kalau aku hanya melakukannya denganmu, untuk pertama kali"aku berucap yakin, karena memang itu kenyataanya.
"Aku tahu" ucap Johan singkat, jawabannya membuatku tidak tenang.
"Aku serius, kau tidak percaya?"
"Iya aku tahu, aku seorang dokter, jadi aku tahu" Johan mencium keningku dan beranjak pergi dari kamar.
☠☠☠
Kami sudah siap untuk tidur, lampu kamar juga sudah di matikan, aku memandangi wajah Johan yang berbaring di sampingku sambil menutup mata. Dia tampan sekali, aku jadi ingin menciuminya.
"Kenapa terus memandangiku, kau sangat terpesona ya?" Johan tiba-tiba bersuara.
Ku pikir dia sudah tidur, bagaimana dia bisa tahu aku sedari tadi memandanginya padahal matanya tertutup.
"Kau punya mata di tempat lain ya?" Ucapku mengejek.
Johan tertawa, dia berbalik menghadap ke arahku, melihatnya sedekat ini membuat perasaanku kurang nyaman, jantungku juga rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Bahkan dalam gelap kau juga terlihat sangat cantik" Johan membelai wajahku.
Dia mulai mendekatiku, sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibirku, bukan ciuman yang penuh nafsu seperti kemarin, dia hanya memberikan ciuman ringan, sebelum tidur.
Johan memelukku, menenggelamkan ku di dada bidangnya, aku bisa mencium aroma tubuhnya, wangi green tea dari sabun mandinya membuatku tenang.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Emm?" Johan hanya bergumam menanggapi pertanyaan ku.
"Darimana kau dapatkan organ?"
Jelas pertanyaan ku membuat Johan terkejut, aku bisa mendengar suara detak jantungnya yang tiba-tiba
berdetak cepat. Aku melepaskan pelukannya dariku dan duduk, menyalakan lampu tidur di atas meja.
Johan juga ikut duduk dan menyalakan lampu di sebelahnya.
"Organ? Aku tidak mengerti" ucap Johan setenang mungkin menutupi rasa kagetnya.
"Sepuluh tahun yang lalu, kau secara ilegal melakukan operasi transplantasi jantung di sebuah klinik kecil"
__ADS_1
Tidak mungkin kan Johan melupakan hal itu.
"Kau, siapa? Bagaimana kau bisa tahu?" Johan tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Aku anak itu. Aku terdaftar di rumah sakit atas nama Ren, itu nama yang di berikan ayah tiri ku"
Johan menekan pelipisnya, tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya mendesah kesal beberapa kali.
"Darimana kau mendapatkan jantung untukku? Kenapa bisa jantungnya sangat cocok? Dari sekian banyak pasien yang memerlukan donor jantung, kenapa kau memilih aku?"
Johan memandangku, dari wajahnya aku tahu dia pasti kebingungan untuk menjawab pertanyaan ku, ada
sesuatu yang di sembunyikannya.
"Jantung itu milik seseorang, kau tidak perlu tahu, kau juga pasti tidak mengenalnya" tanpa mengatakan apapun lagi, Johan kembali berbaring dan mematikan lampu bersiap untuk tidur.
Aku sama sekali tidak puas dengan jawabannya, dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku, aku sangat berterima kasih karena dia sudah menolongku, tapi aku juga harus tahu dari mana di dapatkannya jantung itu. Sebuah organ bukan bukan barang yang akan di jual bebas di pasar.
Kalaupun ada yang menjualnya, harganya pasti sangat mahal, untuk apa Johan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menolong anak yang tidak di kenalnya.
"Dokter Kim" aku mengguncangkan tubuhnya, supaya dia kembali bangun.
"Kalau kau tidak suka, keluarkan saja jantungnya" Johan membentak ku kasar.
Aku terkejut dengan ucapan Johan, dia bukan tipe orang yang akan bicara kasar seperti itu. Dan parahnya di sekarang tidur membelakangi ku, aku tidak bisa memaksanya untuk menjawab pertanyaan ku walau aku sangat penasaran.
Tiba-tiba Johan berbalik menghadap ku, dia menatapku intens sambil membelai pipiku, sehabis membentak ku, apa lagi yang akan di lakukannya sekarang?
"Saat melihatmu, aku teringat dengan ibuku, ibuku tidak mendapatkan donor sampai akhirnya ia meninggal, itu sebabnya aku merasa kalau aku harus menolongmu"
Air mata menggenang di pelupuk matanya, aku jadi merasa bersalah karena menanyakan tentang kejadian
sepuluh tahun yang lalu itu padanya, dia pasti sangat sedih kehilangan ibunya.
"Kau dulu sering menangis memanggil ibumu, tapi tidak ada yang datang, kau hanya sendirian di rumah sakit tanpa ada yang menjengukmu, aku sering menemanimu, menceritakan hal-hal lucu dan membelikanmu ice cream suapaya kau berhenti menangis. Sekarangpun kau masih cengeng sama seperti dulu" Johan tersenyum.
Aku langsung memeluknya sambil menangis, dia orang yang sangat baik.
"Tolong jangan tanya tentang yang lainnya" ucap Johan pelan.
Aku hanya mengangguk, aku tidak akan penasaran lagi selanjutnya. Bagiku darimana, atau bagaimana Johan mendapatkan jantung itu, tidak penting lagi.
__ADS_1
Yang terpenting adalah dia menyelamatkan hidupku, dia menyayangiku dengan tulus, dia menjagaku saat aku tidak punya siapa-siapa, dia membuatku tertawa saat aku sedih dan terluka.
Aku bersyukur, tuhan mempertemukanku dengannya.