ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
35. MINKI


__ADS_3

Akhirnya aku menemukannya, setelah beberapa bulan berlalu, ini adalah pencapaian yang mengecewakan. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Semua yang aku cari pasti aku temukan, semua yang aku inginkan akan aku dapatkan, dan selalu dalam waktu singkat. Kecuali Johan, butuh 10 tahun untukku mendapatkannya.


Dari jam tangan Kevin yang aku temukan di gudang pinggiran jalan tol itu aku mencoba untuk mencari tahu


siapa orang yang berani-beraninya memukuli Kevin sampai dia tidak bisa bergerak beberapa hari.


Aku meminta tolong bagian forensik untuk memeriksa jam tangan itu, berharap mereka menemukan sedikit saja petunjuk untukku. Aku ini orang yang pendendam jadi jangan harap aku melupakan apa yang sudah terjadi, walaupun itu sudah berlalu ribuan tahun.


DNA yang tertinggal di sana adalah milik seorang pria bernama Matthew Gill, setahuku dia adalah pengusaha


yang sukses, sebelum akhirnya menjadi buronan karena keterlibatannya dalam pendistribusian narkoba dari luar negri dan menyembunyikannya dalam furnitur yang di jualnya.


Hal tersulit yang harus aku lakukan adalah mencari keberadaan Matthew, polisi saja sampai sekarang tidak


bisa menemukannya, bagaimana bisa aku menemukannya seorang diri. Aku kan bukan alat pendeteksi logam yang hanya pergi bergerak dan akan berbunyi jika menemukan sesuatu.


Satu nama yang langsung terlintas di kepalaku, bukan pilihan yang bagus untuk menghubunginya, tapi apa


boleh buat, aku tidak punya pilihan. Harus ku akui dia bisa melakukan apa saja.


Aku mencari-cari nama Ronan di urutan nama dengan awal R, di kontak hpku. Setelah menemukannya aku berpikir sejenak dan memantapkan hatiku sebelum akhirnya menekan tombol panggil.


Suara detak jantungku terdengar sangat jelas, aku sangat gugup, Ronan itu adalah orang yang berbahaya, tidak seharusnya aku terlibat dengannya, aku sudah gila.


Baru saja aku ingin menutup telpon untuk membatalkan niatku, tapi terdengar suara di seberang sana.


"Tidak ku sangka kau menelpon ku, ini suatu kehormatan" ucapnya ramah.


Aku tidak boleh tertipu dengan sikap ramahnya, dia adalah ular dengan sembilan kepala, dia bisa saja bicara sambil tersenyum tapi dalam hatinya dia merencanakan sesuatu.


"Ada yang bisa ku bantu" sambungnya lagi.


"Apa Chaerin baik-baik saja, aku tidak bisa menghubunginya" aku tidak sepenuhnya berbohong dengan ucapanku, aku juga ingin menanyakan tentang Chaerin padanya. Selama berbulan-bulan aku tidak bisa menghubunginya, ku harap Chaerin baik-baik saja.


"Tentu saja baik" hembusan napas pendeknya terdengar, seperti sedang meremehkan sesuatu.


Aku tiba-tiba jadi khawatir pada Chaerin.


"Bukan hanya itu yang akan kau tanyakan kan?"


Ucapan Ronan mengagetkanku, dia memang orang yang sangat peka, tidak heran dia sangat di percaya oleh


bosnya.

__ADS_1


"Ya memang, untuk ukuran orang tua kau peka juga" ucapku menghina.


"Jangan remehkan aku, begini-begini aku punya pengalaman di atas 30 tahun, membaca niat seseorang semudah memakan permen kapas untukku" ucapnya bangga sambil terkekeh.


"Aku ingin kau menemukan seseorang untukku, aku akan membayarnya dengan harga yang pantas" aku langsung pada intinya, tidak ada untungnya berbasa-basi dengan Ronan.


"Kenapa? Kau ingin membunuhnya?"


"Bukan urusanmu, lakukan saja apa yang ku minta"


"Kau sangat tidak sabaran, tenang akan melakukan yang terbaik untukmu, sesuai dengan uang yang kau berikan" dasar tua bangka mata duitan.


"Ku bilang aku akan membayarmu, kau tinggal sebutkan saja berapa" ucapku emosi, saat mulutnya terbuka, ucapan yang keluar tidak jauh dari uang.


"Katakan, siapa yang kau inginkan, aku kan menemukannya kurang dari satu minggu"


"Matthew Gill, temukan dia dalam keadaan hidup supaya aku bisa membunuhnya"


Tidak ada suara di seberang telpon, apa jaringan telpon sedang buruk, atau jangan-jangan si tua bangka itu


tertidur.


"Hei, jawab aku!" Ucapku membentak.


"Ya ya ya, Matthew Gill, aku akan menghubungimu saat aku menemukannya"


Tidak bisa di percaya, dia menutup telepon terlebih dahulu. Ada yang aneh darinya saat aku mengatakan nama Matthew Gill, dia juga mematikan telpon terburu-buru. Apa Ronan sedang merencanakan sesuatu?


Agh aku bisa gila jika memikirkannya, sejak awal seharusnya aku tidak minta bantuannya, si licik itu bisa saja menjebakku.


Baru saja aku pusing memikirkan masalah Ronan, sekarang kepalaku makin pusing karena teriakan mama.


Hari ini aku dan mama akan pergi untung fitting baju pengantin yang akan aku kenakan di hari pernikahanku.


Padahal aku dan Johan berencana tidak ingin mengadakan pesta, tapi mama memaksa. Katanya paling tidak


aku harus memakai gaun pengantin dan makan malam bersama dengan orang-orang terdekat.


Ya cukup masuk akal, aku juga ingin paling tidak punya satu foto memakai pakaian pengantin bersama Johan.


Aku segera turun dan menemui mama yang sudah siap berdiri di depan pintu. Dari raut wajahnya, aku


tahu dia sangat kesal.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali, ini sudah hampir siang" omelannya khas ibu-ibu membuat

__ADS_1


telingaku mendadak berdengung.


Kebiasaan mama memang mengomel, dan makin parah setiap harinya.


"Yang penting kan sekarang aku sudah ada di sini, ayo berangkat"


Aku keluar dari rumah terlebih dahulu, dan mama menyusul ku di belakang.


Sesampainya di toko baju, bukannya aku yang sibuk memilih tapi mama yang mondar-mandir menjelajahi isi


toko melihat-lihat koleksi gaun pengantin yang mereka punya.


Mama bahkan menyuruhku untuk mencoba gaun pilihannya satu persatu, dengan total 5 buah.


Kalau itu hanya baju biasa mungkin aku masih bisa terima, tapi gaun pengantin? Oh tidak, memakainya saja


perlu bantuan, belum lagi berat dan gerah, rasanya aku ingin membatalkan pernikahan saja.


"Semuanya bagus, aku suka, bagaimana menurutmu?" mama mengerutkan kening, berpikir keras


memilih gaun mana yang paling cocok untukku.


"Terserah, pilih saja salah satunya" ucapku acuh, dan mama langsung menarik telingaku.


"Ini pernikahanmu kenapa jadi aku yang harus memilihnya"


"Sedari tadi mama asik memilih gaun sendiri, seperti ini pernikahan mama saja, aku akan mengikuti apa kata mama, aku yakin pilihan mama pasti yang terbaik" aku meninggikan suaraku sambil mengacungkan jempolku untuk memuji, dengan wajah masam pastinya.


"Entahlah, aku belum pernah menikah dengan benar sebelumnya, jadi aku sangat antusias dengan pernikahanmu, seharusnya aku tidak ikut campur terlalu banyak" ucap mama lesu. Aku jadi merasa bersalah karenanya.


"Kau sangat cantik" entah dari mana tiba-tiba saja Johan muncul, padahal aku tidak memintanya untuk datang.


Aku tersenyum senang mendengar pujiannya. Padahal hampir setiap hari Johan memujiku cantik, tapi aku


selalu tersipu malu saat mendengarnya.


"Tentu saja cantik, dia anakku" ucap mama bangga.


"Ya ya ya" balas Johan acuh sambil memutar bola matanya.


"Sana, kau juga harus mencoba pakaianmu, aku juga sudah memilihkan tuxedo untukmu" mama mendorong Johan untuk masuk ruang ganti, dengan terpaksa Johan mengikuti keinginan mama.


Berjam-jam berlalu dan akhirnya aku dan Johan menemukan pakaian yang tepat. Padahal jika hanya aku dan Johan mungkin akan cepat selesai, tapi mama sangat cerewet memilih ini dan itu.


Johan sangat tampan dengan stelan yang di pakainya, dan mama tidak henti-hentinya  memujiku cantik dalam balutan gaun putih.

__ADS_1


Ini pakaian yang sempurna untuk pernikahan. Aku tidak sabar menanti hari pernikahan kami.


__ADS_2