ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
EPILOG


__ADS_3

2 tahun kemudian


Wajahku terasa kering, hampir seharian aku berdiri di bibir pantai, menatap lautan yang terbentang luas di hadapanku.


Ternyata waktu berlalu sangat cepat, aku bahkan tidak sadar sudah melawati dua tahun hidupku di tempat kecil ini.


Dan lagi ini adalah hari peringatan meninggalnya mama. Satu tahun yang lalu mama meninggal, ternyata selama ini mama mengidap Multiple Myeloma, dia sama sekali tidak pernah memberitahuku tentang penyakitnya, bahkan Johan juga merahasiakannya.


Butuh waktu lama untukku bisa bangkit lagi dari keterpurukan, aku sempat berpikir untuk menyerahkan diri menebus semua kesalahanku, mungkin kematian mama adalah karma untukku.


Tapi tentu saja gagasanku di tentang oleh Johan, dia bilang aku hanya harus memperbaiki diriku mulai dari


sekarang. Masuk penjara pun tidak ada artinya, tidak akan bisa menghidupkan kembali orang-orang yang ku bunuh.


Di sini sangat membosankan.


Bukannya sombong, tapi aku terbiasa hidup penuh dengan hingar bingar dan gemerlapnya kota besar, tidak pernah terpikirkan sedikitpun aku akan berakhir di pulau kecil yang di penuhi dengan sedikit penduduk, hidup sebagai pelarian memang tidak mudah.


Tapi aku memulai hidup baruku di sini, penuh dengan penyesalan. Walaupun kadang saat tersulut emosi


aku hampir lepas kendali.


Tapi ingatan tentang orang-orang yang aku kasihi mengalami hal buruk karena aku, membuatku kembali


sadar, aku tidak boleh kembali menjadi diriku yang dulu.


Aku akan memulainya dari awal, menjadi gadis baik, dan melindungi orang-orang yang aku sayang, bukannya


malah membuat mereka dalam kesulitan.


"Mungkin tidak hari ini"


Johan muncul tiba-tiba dan memelukku dari belakang, dia menumpukan dagunya di bahuku.


Rasanya sangat nyaman menikmati hembusan angin sambil melihat matahari terbenam, apa lagi itu bersama Johan.


Dengan bodohnya Johan meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit besar, melepaskan jabatannya sebagai direktur hanya untuk bisa bersamaku di tempat ini.


Itu adalah pengorbanan yang sangat besar, mengingat betapa keras usahanya untuk bisa meraih posisi itu, dia mengorbankan segalanya untuk bisa menjadi dokter terbaik. Tapi sekarang dia mengorbankan nya juga, hanya untukku. Aku sungguh terharu.


"Kau menutup klinik lebih cepat dari biasanya"

__ADS_1


"Tidak banyak yang datang, tutup lebih awal kurasa bukan masalah" Johan mengeratkan pelukannya di pinggangku. "Sekali-kali aku juga perlu membuang waktuku seperti ini"


Aku menjitak kepalanya pelan, secara tidak langsung di mengataiku membuang-buang waktu. Tapi harus ku akui, memang apa yang aku lakukan sekarang ini membuang waktu, dan aku melakukannya hampir setiap hari.


Johan membuka klinik kecil, tepat di samping rumah kami.


Penduduk di pulau ini hanya beberapa ratus orang, dan lagi orang-orang tua di sini sangat kolot, hanya sebagian yang percaya dengan dokter, dan sebagian lainnya memilih untuk melakukan pengobatan tradisional, bukannya sembuh tapi malah membuat penyakitnya lebih parah.


Dalam seminggu hanya satu atau dua pasien yang datang untuk berobat. Kebanyakan Johan malah di panggil untuk mengobati hewan ternak yang sakit. Padahal Johan bukan dokter hewan, tapi Johan tidak mengeluh sedikitpun.


Dia bilang dia akan menjalani hidupnya dengan bahagia, asal ada aku di sampingnya. Dia sangat manis, dimana lagi aku bisa menemukan pria sepertinya?


"Dokter Kim!! Minki!!"


Sekumpulan anak laki-laki berlari sambil berteriak memanggil, mereka adalah anak-anak nelayan, aku sering bertemu mereka di pantai, atau di dermaga.


Entah bagaimana mereka sangat hebat dalam hal menyelam, jadi aku sering menyuruh mereka mengambil kulit kerang. Aku punya hobi baru sekarang, yaitu mengoleksi kulit kerang yang terlihat lucu.


"Jangan berlari, nanti kalian jatuh" Johan mulai mengomel sambil menjitaki kepala mereka satu persatu.


"Ada kapal yang berlabuh di dermaga" seorang anak dengan antusias memberitahuku berita besar yang di bawanya.


"Benarkah" seketika mataku berbinar.


"Kapal dagang?" Johan jadi ikut tertarik.


"Bukan, itu bukan kapal yang biasa datang ke sini"


Mendengar itu aku langsung bersemangat, aku menarik Johan untuk pergi ke dermaga, aku tidak sabar untuk melihat siapa yang datang.


Aku harap itu Kevin, Baekho atau Chaerin juga boleh, siapapun itu, aku merindukan mereka semua.


Sangat sulit berhubungan dengan dunia di luar pulau ini, aku harus naik ke bukit supaya bisa mendapatkan


sinyal telepon. Bahkan saat cuaca sedang buruk, aku tidak bisa mendapatkan sinyal sama sekali walaupun pergi ke atas gunung.


Aku merasa hidup di jaman purba, dimana teknologi adalah sebuah keajaiban. Tapi untungnya aku masih bisa


menikmati listrik dan air bersih.


Sekumoplan anak itu menahanku, mereka bergandengan dan berdiri di hadapanku dengan wajah yang di

__ADS_1


buat sangar.


"Hei minggir!" Aku meneriaki mereka kesal.


"Kau janji akan memberikan kami uang jika kami melaporkan setiap kapal yang datang" seorang anak merengek sepeti bayi dengan wajah yang sama kesalnya sepertiku.


Aku memandang Johan dengan tatapan memohon, aku tidak membawa uang sepeserpun. Ku pikir apa juga yang akan aku beli di pulau terpencil ini, sekarang aku terbiasa berkeliling tanpa uang.


Seakan mengerti, Johan merogoh kantong celananya dan memberikan anak-anak itu uang satu persatu, sedangkan aku sudah kabur, berlari secepat mungkin menuju dermaga.


☠☠☠


"Hentikan! Kau kan bukan anak kecil"


Johan menyapu hidungku yang penuh ingus, setelah pulang dari dermaga aku hanya menangis sampai saat ini.


Kapal itu memang bukan kapal dagang, tapi kapal penumpang.


Aku berharap yang datang adalah teman-temanku, tapi ternyata bukan, padahal aku sudah berharap.


Saking semangatnya aku bahkan sampai tercebur ke air, dan sekarang demam, untungnya Johan sabar mengurusku walaupun aku sangat cerewet saat sakit.


Untuk ukuran orang yang sedang dalam pelarian dan hidup di tempat terpencil, hidupku cukup mewah.


Johan membangunkan rumah yang besar untukku, aku bahkan punya asisten rumah tangga, juga taman bunga di belakang rumah.


Kadang aku bertanya-tanya, berapa banyak uang yang di miliki Johan, padahal dia sudah berhenti bekerja, ternyata dia lebih kaya dari yang ku kira.


Aku dan Johan sudah hampir tidur saat seseorang mengetuk pintu rumahku dengan membabi buta, kalau dia mengetuk lebih dari itu mungkin rumahku akan roboh.


Dengan malas Johan turun dari tempat tidur dan membukakan pintu, karena penasaran aku menyusulnya di belakang.


"Apa benar ini kediaman Minki?"


Dari jauh ku lihat tiga orang pria dengan jaket kulit dan juga celana jeans kebesaran, dia terlihat seperti preman.


"Kami dari kepolisian, kami dapat laporan buronan yang kami cari berada di rumah ini"


Johan langsung memalingkan wajahnya, memberiku kode untuk segera pergi.


Dengan langkah seribu aku lari keluar dari pintu belakang.

__ADS_1


Brengsek, bagaimana mereka bisa tahu aku berada di sini padahal aku sudah bersembunyi.


Aku sedang sial!!


__ADS_2