
"Maaf aku tidak bisa membantu penyelidikan, aku baru ingat kalau aku harus pergi"
Baekho memicingkan matanya menatapku dan berkacak pinggang.
"Kau pikir ini toilet umum, kau bisa datang dan pergi sesukamu!"
Dia mulai lagi, seingatku baru bulan lalu aku membahas tentang ini dengannya, dan dia terlihat sangat senang, Tapi sekarang dia malah marah dan membentak ku. Maunya apa sebenarnya.
"Kalau aku tidak di berikan izin, proses saja surat pengunduran diriku" aku melempar amplop ke atas meja di samping Baekho.
"Memangnya urusan apa sampai kau harus libur satu minggu!!"
"Aku akan menemui ibuku, dia akan segera di bebaskan"
Ucapanku seketika membuat Baekho terdiam, berani taruhan dia pasti lupa kalau ibuku akan di bebaskan.
"Benarkah? Ibumu akan di bebaskan? Kapan?" Baekho menanyaiku dengan antusias
Dia membuatku sangat kesal, ternyata benar dia lupa, otaknya sudah berubah jadi otot tanpa sedikitpun tersisa untuk berfikir.
"Bukannya aku sudah pernah bilang padamu! Mamaku akan di bebaskan lusa, aku berangkat lebih cepat untuk mengurus segala sesuatunya, supaya dia bisa ikut bersamaku ke sini"
Aku memukul Baekho dengan tas tanganku, dia perlu di pukul supaya ingatannya membaik. Bagaimana bisa dia jadi polisi jika hal kecil semacam ini saja bisa lupa.
"Ah iya, aku ingat" ucapnya dengan tampang tanpa dosa.
"Dasar"
"Aku ingin ikut bersamamu, tapi kasus ini benar-benar membuatku tidak bisa bergerak, maaf"
"Memangnya siapa yang ingin mengajakmu, aku tidak ingin memperkenalkan mamaku yang cantik
padamu"
"Mamamu cantik? Tapi kenapa dia malah punya anak sejelek dirimu huh" ucap Baekho menghina sambil memonyongkan bibirnya.
Aku kembali memukulnya dengan tasku, mulutnya harus di sekolahkan dengan benar.
"Ampun, aku tidak akan mengataiku lagi, hentikan" aku menghentikan pukulan ku padanya
"Aku pergi sekarang"
Aku melambaikan tangan selagi pergi meninggalkan Baekho yang masih setia dengan senyuman bodohnya.
☠☠☠
__ADS_1
New Jersey Amerika serikat
"Ma, bagaimana keadaanmu?"
Aku tersenyum senang saat seorang wanita berdiri di hadapanku dengan memegang dua tas besar, dia adalah mamaku.
Mama terlihat kurus, makanan di penjara pasti tidak enak, selesai dari ini aku harus membawanya makan ke tempat yang enak dan juga mengajaknya mengunjungi tempat-tempat yang menyenangkan.
Akan kubuat mama bahagia, setelah selama belasan tahun dia hidup menderita di penjara.
Aku memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskannya, tubuhnya sangat kecil dalam pelukanku, wajahnya yang dulu cantik bersinar kini kusam dan terdapat guratan-guratan tanda penuaan, pipinya juga mulai mengendur.
Tapi mama masih sangat cantik, aku akan membawa mama ke klinik kecantikan dan membuat mama jauh lebih cantik lagi.
"Minki, kau sudah besar sekarang" mama tersenyum saat melihatku.
Selama ini aku hanya bisa melihat mama di balik dinding kaca, tapi sekarang bisa melihat senyumnya sedekat ini membuatku bahagia, sangat bahagia. Aku bahkan bisa menyentuhnya dan mendengar nafasnya.
"Kau terlihat kurus, apa makanan di sini tidak enak, apa ada yang berbuat jahat padamu?" aku mengelus-elus pipi mama, melihat keadaan mama membuatku sedih.
"Kau tau sendiri seperti apa makanan di penjara, selama belasan tahun aku makan makanan yang sama setiap hari, aku hanya bosan, tapi tenang saja aku makan dengan baik"
"Ayo kita makan sesuatu yang enak"
"Tidak perlu, dengan melihatmu saja aku sudah kenyang"
"Memangnya aku bisa di makan"
Mendengar ucapan konyolku mama tertawa geli. Ah bahkan aku bisa mendengar suara tawanya, aku seperti
bermimpi.
"Maaf karena tidak bisa bersamamu saat kau tumbuh dewasa, aku senang kau hidup dengan baik" mama meneteskan air matanya.
"Jangan menangis, mana boleh mama menangis, mulai sekarang mama tidak boleh kesulitan lagi, aku yang akan menanggung semuanya, mama hanya harus hidup dengan nyaman" ucapku sambil memeluknya.
Bulir kecil air mata tidak terasa jatuh di pipi kiriku, kalau saja waktu itu aku bisa menahannya untuk tidak membunuh si tua bangka sialan itu, mama tidak mungkin berada di tempat mengerikan ini.
"Kau juga jangan menangis, kita jadi terlihat seperti sedang syuting drama"
Mama mengusap air mataku dengan tangannya yang kasar, dia pasti bekerja keras di dalam penjara sampai tangannya bisa sekasar itu.
Aku tersenyum, aku tidak boleh menangis, ini kan hari yang bahagia.
"Kau terlihat seribu kali lebih cantik saat tersenyum" mama memujiku, mungkin itu salah satu kebohongannya untuk menyenangkanku, seperti biasa.
__ADS_1
"Tentu saja aku cantik, aku anakmu" ucapku bangga.
"Oh ya bagaimana kabar Chaerin? Dia pasti sangat sedih, dia bahkan tidak datang saat eksekusi mati ibunya"
"Mana mungkin dia datang untuk melihat ibunya saat di tembak mati" aku mendengus.
Mama mencubit lenganku pelan, ternyata mama masih punya kebiasaan mencubit orang lain. Dia tidak berubah sama sekali.
"Saat aku mati nanti, aku ingin kau ada di sampingku, kau tidak boleh menangis, dengan begitu aku bisa mati dengan tenang tanpa penyesalan" mama berkata seakan-akan dia akan mati sebentar lagi.
"Siapa bilang mama boleh mati, mama akan hidup sampai usia 150 tahun, tidak akan ku biarkan mama mati tanpa seijinku"
"Sombong sekali, memangnya kau tuhan" mama meremehkan.
Memang benar aku bukan tuhan, tapi aku akan berusaha menjaga mama dengan baik supaya mama bisa berumur panjang, aku akan hidup bersama mama untuk waktu yang lama.
Aku merebahkan kepalaku pada paha mama, dan mama membelai rambutku dengan lebut.
"Kemana tujuan kita nyonya?" sopir yang ada di depanku bertanya, aku menyewa supir dan juga
mobil yang aku pakai ini, supaya aku bisa menikmati hari-hariku bersama mama, dan pergi ke semua tempat yang ingin mama datangi.
"Ada tempat yang ingin mama datangi?" Aku memandang mama.
"Tidak, kita langsung pergi saja dari sini, aku sudah muak" mata mama berkaca-kaca.
Aku bangun dan memeluknya, berusaha menenangkannya, tentu saja mama tidak ingin berada di sini lagi, semua kenangan buruknya ada di sini.
"Kau tahu, aku sama sekali tidak menyesal, dia pantas mati"
"Aku tahu, kalau bukan mama yang melakukannya, mungkin aku yang akan membunuhnya lebih dulu"
Mama membuang nafasnya kasar.
"Sudah lah, jangan mengingat orang yang sudah mati, kalau sampai dia bangkit dari kuburnya dan jadi zombie itu akan sangat menyeramkan" ucap mama begidik.
"Mama tahu zobie?"
"Ya aku pernah menonton filmnya yang di putar di tv, saat aku bersikap baik sipir penjara akan memperbolehka ku menonton tv dan memakai intrnet"
"Eeemmmm kalau begitu, untuk merayakan kebebasanmu, ayo kita menonton film di bioskop, kita kencan berdua"
"Ide bagus" mama tertawa senang dengan ideku.
Aku bersumpah akan membuat mama bahagia, walau harus mengorbankan nyawaku sekalipun.
__ADS_1