
Aku menembus jalanan malam dengan kecepatan penuh.
Porsche Boxster hitam milik Johan memang benar-benar bisa membuatku menguasai jalanan.
"Kau tidur ya, aku menelponmu berkali-kali!!" Aku berteriak masih memegang erat stir. Di telingaku terdapat handfree bluetooth
"Aku sedang sibuk, kau ingat wanita yang di temukan tewas dengan leher terlilit kawat kemarin, aku tidak ada waktu untuk...."
"Hei bodoh aku sekarang sedang mengejar pelakunya!!" Aku memotong ucapan Baekho sebelum dia selesai.
"Bukankah pelakunya suaminya sendiri yang menghilang sehari sebelumnya, aku berhasil menangkap suaminya sekarang"
"Bukan dia pelakunya!!"
"Ini bukan saat yang tepat untuk bercanda, aku sudah menangkapnya, jadi berhenti menggangguku!!"
Baekho mulai menyanggah ucapanku lagi, kenapa dia tidak bisa sekali saja percaya apa yang aku ucapkan.
"Aku melihat seseorang membawa puluhan anak bersamanya, aku mengenali salah seorang anak yang di bawanya, anak itu adalah anak dari wanita itu!!"
"Apa?!!"
"Berhenti membuang waktu, abaikan saja suaminya, suruh seseorang menahannya di sel, lacak lokasi ponselku dan ikuti, aku sedang mengejarnya sekarang!!"
Aku melepaskan handfree bluetooth yang ada di telingaku dan melemparnya sembarang.
Pada saat seperti ini Baekho malah membuatku kesal.
Aku menginjak pedal gas dan mobil melaju lebih cepat, saat perasaanku kacau seperti ini, rasanya sangat menyenangkan bisa balapan di jalanan, apalagi balapan untuk mengejar penjahat.
"Bisa kita pelan-pelan saja"
Johan yang sedari tadi duduk di sebelahku mulai mengeluh, dia berpegangan sangat erat.
"Kita akan kehilangannya kalau tidak cepat, lagipula itulah gunanya mobil sport, bukan hanya untuk bergaya dan terjebak macet"
Aku memutar stir ke arah kiri menghindari truk roda enam yang ada di hadapanku.
Aku sangat menikmati saat-saat ini, tapi Johan malah ketakutan dan berteriak-teriak seperti perempuan.
"Kau tidak harus mengajarnya, serahkan saja pada polisi, kau kan hanya membuat profiling pelaku kejahatan" Johan mulai mengeluh lagi
"Ya aku memang seharusnya hanya berada di balik layar, tapi aku juga bekerja untuk kepolisian, tenang saja kalau sampai mobilmu rusak, aku akan mengganti biaya perbaikannya"
"Ini bukan masalah mobil, aku masih sayang nyawaku!!" Johan berteriak histeris bertepatan dengan mobil kami yang lagi-lagi mendadak banting stir menghindari kendaraan lain.
__ADS_1
"Minki tolong, pelan sedikit" Johan membujukku dengan memegang tanganku.
Seperti yang kalian tahu aku bukan orang yang baik, aku juga orang jahat, aku seorang pembunuh, aku bahkan lupa sudah berapa banyak orang yang aku bunuh.
Tapi aku tidak bisa tinggal diam dengan kasus ini, seorang yang membunuh wanita tua dan menculik anaknya, itu mengingatkanku pada diriku sendiri, itulah sebabnya aku tidak akan menyerah sekarang.
Bahkan sekarang aku membahayakan nyawa Johan, seharusnya ku tinggal saja dia tadi.
☠☠☠
Satu jam yang lalu
"Seperti biasa, kau baik-baik saja" ucap Johan dengan senyum manis khasnya.
Aku tertegun melihat senyumnya lalu kembali menyadarkan diriku, agh aku jatuh lagi dalam pesonanya.
"Mau makan malam bersama?" ajak Johan.
Aku mengabaikan tawarannya, dan menyibukkan diriku dengan memainkan pendulum yang ada di atas meja.
"Bagaimana kalau steak?" Johan masih berusaha, dia tidak tahu malu, sungguh memuakan melihatnya terus bersikap baik seperti ini.
"Kau bertingkah seperti tidak ada masalah apapun di antara kita" ucapku ketus.
"Jangan bicara apapun jika keputusanmu masih sama seperti kemarin, aku tidak ingin mendengarnya"
"Ayolah, kau kan masih muda, masih bisa mencari yang lebih dariku, aku ini sudah om-om loh"
"Jangan mencari-cari alasan, sudah cukup aku mendengar ceramah dari orang tua sepertimu. Aku permisi, ada hal yang lebih penting untuk di lakukan daripada menanggapi omong kosongmu"
Aku bangkit berdiri dan berniat untuk pergi, tapi Johan menahan tanganku.
"Di luar hujan, aku akan mengantarmu"
Tanpa menunggu jawaban dariku, Johan melepas jas dokternya dan meletakkannya di kursi, mengambil kunci mobilnya dan berjalan mendahuluiku menuju parkiran rumah sakit.
Aku melihat Porsche Boxster hitam terparkir di sana, satu-satunya mobil yang paling mencolok di antara
mobil lain yang kelihatan murahan.
Sekali-kali boleh juga bisa di antar pulang dengan mobil keren, apalagi bersama Johan.
"Kenapa kita ke sini?"
Aku heran kenapa Johan membawaku ke klinik kecil bobrok yang berada di pemukiman kumuh, bahkan papan namanya saja hampir jatuh saking bobroknya.
__ADS_1
"Aku ingin menemui temanku, aku akan memberikannya sample obat, hanya sebentar"
Johan keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam klinik itu, meninggalkanku di dalam mobil yang terparkir di depan gudang tua.
Bau tidak sedap menyeruak dari dalam gudang, Johan bilang dulunya di sini terdapat pabrik karet, tapi bangkrut dan akhirnya di tutup.
Tapi setelah sekian tahun tidak di pergunakan lagi seharusnya bau busuknya menghilang, tapi ini malah makin mengerikan. Aku mengambil botol parfum dari dalam tasku dan menyemprotnya membabi buta, tapi bukannya menjadi lebih baik, aku malah jadi pusing akibat bau menyengat yang bercampur-campur.
Tanpa sengaja aku melihat tiga orang pria berperawakan besar menyeret dan mendorong anak-anak untuk masuk ke dalam APV berkaca hitam.
Awalnya aku mengabaikannya, toh itu sama sekali bukan urusanku, anak-anak itu mungkin baru pulang sekolah dan akan di antar ke rumah masing-masing.
Tapi ada yang aneh. Seorang pria berperawakan besar mengantongi senjata api di belakang pinggangnya, apa itu cuma mainan?
Tapi untuk ukuran orang dewasa mengantongi pistol mainan itu sangat kekanakan.
Ada yang mencurigakan dari mereka.
Saat aku melihat seorang anak yang masuk paling terakhir, aku menyadari sesuatu, itu anak yang menghilang kemarin setelah kematian ibunya. Ada sesuatu yang salah di sini.
Tidak sia-sia selama ini aku melatih ingatan fotografis ku, berguna juga pada saat-saat tidak terduga seperti ini.
Johan datang dengan senyumnya, mobil yang membawa anak-anak itu sudah pergi beberapa menit yang lalu.
"Dokter Kim, biar aku yang menyetir" aku berpindah dari kursi penumpang ke kursi pengemudi, sebelum Johan berkata iya.
☠☠☠
"Kita berhasil mengejarnya!!" Aku berteriak senang, mobil yang membawa anak-anak itu hanya berjarak dua mobil di depanku, aku harus menjaga jarak supaya mereka tidak curiga.
Yang harus ku lakukan sekarang adalah mengikutinya senatural mungkin, dengan begitu aku tidak akan
ketahuan.
"Ini sangat berbahaya" lagi-lagi keluhan Johan terdengar.
"Kalau kau takut aku bisa menurunkanmu di depan, kau tinggal naik taksi untuk kembali" aku menurunkan kecepatan mobil dan bersiap untuk menepi.
"Teruskan saja, bagai mana bisa aku meninggalkanmu sendirian"
Aku tidak percaya Johan mengatakan hal manis semacam itu, walaupun ekspresi wajahnya terlihat tidak senang.
"Kita akan kehilangan mereka lagi kalau terlalu lama diam di pinggir jalan seperti ini!" Serunya
Ucapan Johan membuatku sadar, aku harus menangkap para penjahat kecil yang telah menculik anak-anak.
__ADS_1