ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
37. KEVIN


__ADS_3

Saat sadar aku sudah tergeletak tidak berdaya di atas lantai yang dingin.


Terakhir ku ingat aku sedang berpesta bersama Minji, ibunya Minki di club, setelahnya aku tidak ingat apapun lagi.


Tubuhku tidak bisa di gerakan, tangan dan kakiku mati rasa. Satu-satunya yang dapat ku gerakan adalah bola mataku.


Ku sadari aku sedang berada di ruangan serba putih, dengan lantai keramik yang juga berwarna putih, pandanganku agak samar, kesadaran ku belum kembali sepenuhnya.


Tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutku saat aku berusaha berteriak, seperti ada sesuatu tersangkut di tenggorokan, menahanku untuk mengeluarkan suara. Aku penasaran bagaimana keadaan Minji, apa dia baik-baik saja.


"Kevin, hei anak sial" sebuah suara tertangkap oleh telingaku yang agak berdengung.


"Mama Minji?" Aku tidak percaya, Minji juga ada di sini.


Astaga kalau Minki tahu aku tidak menjaga mamanya dengan benar aku bisa tamat.


Minji berusaha membuat ku duduk dan menyangga tubuhku di bahunya. Ternyata hanya aku yang tidak berdaya di sini.


"Kau tidak apa-apa?"


Ku kedipkan mataku memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja. Aku hampir saja rubuh ke lantai, tapi Minji segera menahanku sekuat tenaga.


"Tubuhmu berat sekali sih, padahal kau sangat kurus" keluh Minji.


Aku hanya tersenyum menanggapi keluhannya, apa lagi yang bisa ku lakukan selain tersenyum.


"Seseorang pasti mencampurkan obat bius ke minuman kita" ucap Minji yakin.


Sekali lagi aku hanya bisa merespon ucapan Minji dengan mengedipkan mata.


"Jika kau pernah hidup di penjara sepertiku, aku yakin kau akan terbiasa dengan hal semacam ini"


Aku baru tahu ternyata penjara juga bisa memberikan pelajaran penting tentang bertahan hidup semacam ini.


"Tiduran saja lagi, nanti juga tubuhmu akan bisa di gerakan seperti semula" Minji perlahan merebahkanku kembali ke lantai.


"Siapa si brengsek yang melakukan ini? Apa kau tahu"


"..........." Aku ingin menjawab tidak, tapi aku tidak bisa, jadi aku hanya diam.


Minji langsung paham dan membiarkanku tanpa berkomentar apapun.


Harus ku akui, aku punya banyak musuh di luaran sana, jadi yang melakukan ini bisa siapa saja. Baru-baru ini aku bahkan menipu janda kaya dan mengambil perhiasannya. Tapi seharusnya dia tidak sadar, kejadian itu ku setting seperti pencurian.


Jadi janda itu ku hapus dari daftar kemungkinan. Apa jangan-jangan pria yang ku tipu dengan voice phishing? Tapi dia tidak pernah melihat wajahku, dan identitas ku, dia juga akan ku coret dari daftar.

__ADS_1


Tapi kalau di pikir-pikir tidak mungkin orang biasa melakukan hal semacam ini, mereka paling hanya akan


melaporkanku pada polisi. Yang berani sampai meletakan obat bius di minuman, dan menculik sepeti ini pasti seorang yang nekat.


Apa itu Matthew Gill?


Ah tidak mungkin, urusanku dengan dia sudah selesai. Dan berkat si brengsek itu aku malah berhutang besar


pada Johan, memalukan.


Aku melihat ke samping dan ku lihat Minji malah tertidur, apa yang ada di kepalanya saat ini, bisa-bisanya dia tidur pada saat seperti ini, seharusnya di berkeliling dan mencari jalan keluar, bukannya malah tidur.


Kalau saja tubuhku bisa di gerakan, mungkin kami sudah bisa keluar dari sini dari tadi. Aku juga tidak terlalu berharap banyak pada wanita tua di sampingku ini.


☠☠☠


Aku membangunkan Minji dengan kasar, dia sama sekali tidak menyahut saat di panggil, jadi ku tendang saja kakinya.


Tubuhku sudah bisa di gerakan walaupun rasanya masih lemah.


Aku sudah mengelilingi ruangan ini, dan ternyata tidak ada jalan keluar, tidak ada satupun jendela, bahkan ventelasi pun tidak ada, hanya ada satu pintu di sudut itupun terkunci.


"Dasar anak kurang ajar, beraninya menendang ku, di mana sopan santun mu pada orang yang lebih tua!!" Minji mulai mengomel.


Minki sering bercerita tentang mamanya yang suka mengomel, dan akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mendengar omelannya juga. Apa aku harus senang?


"Apa menurutmu kalau aku mati kau boleh menendang ku huh!"


Aku ingin membalas ucapan Minji tapi suara langkah kaki yang mendekat menghentikanku.


Bisa ku lihat Minji juga siaga. Bayangan di bawah pintu menandakan seseorang sedang berdiri di balik pintu itu.


Minji memberiku isyarat dengan matanya, untuk mendekati pintu, akupun langsung mengerti.


Perlahan dengan langkah berjinjit, aku berjalan mendekati pintu, berdiri menempel ke tembok menunggu


pintu terbuka.


Siapapun yang masuk aku akan langsung menyerangnya, tidak peduli siapa.


Orang yang berani menculik ku dan mengurungku di sini, harus di beri pelajaran.


Perlahan pintu terbuka, aku sudah bersiap-siap dengan tangan terkepal.


"Minki!"

__ADS_1


Teriakan Minji menghentikanku, aku menengok ke samping dan ku dapati Minki berdiri di ambang pintu.


Matanya merah dan berair, seluruh tubuhnya di penuhi bercak merah, aku rasa itu darah, tapi bukan


darahnya.


"Mama, tidak apa-apa?" Itu kalimat pertama yang di ucapkan minki.


Dia langsung meraih Minji dan memeluknya, dia menangis seperti bayi. Aku yang melihatnya jadi terheran-heran. Terakhir aku melihatnya menangis seperti ini adalah saat Minki melihat Johan dengan wanita lain.


"Tidak ingin menanyakan kabarku?" Aku menyela sambil bercanda, berusaha membuat suasana jadi lebih ceria, bukannya malah penuh tangisan.


Minki melepaskan pelukannya dari Minji dan menghampiriku.


Aku membentangkan tangan, menyambut Minki yang akan memelukku.


Tapi ternyata yang ku harapkan tidak terjadi, bukannya memelukku, Minki malah menendang perutku dengan keras, membuatku terjungkal ke belakang.


Tidak heran Minki melakukan hal itu padaku, dia sangat menyayangi mamanya, dia mempercayakan Minji pergi denganku tapi aku bahkan tidak bisa menjaganya dengan baik.


Aku menyadari kesalahanku, tapi siapa juga yang ingin hal buruk semacam ini terjadi, ini di luar kuasaku.


"Minki, apa yang terjadi?" Minji histeris melihat noda darah di tubuh Minki, dan bau anyir yang menyeruak.


Belum lagi dari balik pintu, terlihat dua orang yang terkapar bersimbah darah dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya, membuat Minji bergidik ngeri.


Aku tahu betul itu adalah perbuatan Minki. Sejak berteman dengannya aku sudah mulai terbiasa dengan darah, mayat dan hal mengerikan lainnya.


Tapi untuk Minji yang selama ini melihat anaknya hanya dari sifat polos dan lugunya, dia pasti sangat terkejut jika tahu yang sebenarnya.


Aku memutar otakku untuk membuatkan Minki alasan yang tepat, bagaimanapun Minki tidak ingin mamanya mengetahui perbuatan buruknya selama ini.


Sambil menahan sakit bekas tendangan Minki, aku mencoba untuk bangun menghampiri Minji yang masih ternganga sambil menatap penuh tanya pada Minki.


"Kau yang melakukannya??" Minji tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"Mana mungkin! Minki yang melihat serangga saja takut, bagaimana bisa membunuh orang lain" ucapku cepat.


"Jadi siapa yang melakukannya? Kau satu-satunya yang ada di sini" tuntut Minji.


"Pasti ada orang lain" sanggahku lagi.


Minji menatap tajam padaku, aku hanya mengangkat bahu, memperlihatkannya ekspresi kebingungan yang sama dengannya.


"Aku, memang aku yang melakukannya" aku Minki.

__ADS_1


Aku terbelalak mendengar perkataannya, aku berusaha melindunginya tapi dia malah mengakuinya, buang-buang tenagaku saja.


__ADS_2