
Johan membanting ku ke atas tempat tidurnya. Untung saja dia tidak membanting ku ke lantai, pasti akan sakit sekali.
Dalam situasi normal mungkin aku akan senang saat Johan melakukan itu, tapi bukan di saat seperti ini.
Johan kelihatan sangat marah, kilatan matanya membuatku takut.
Johan pria yang sangat lembut dan penyayang, baru pertama kali dia berbuat sekasar ini padaku.
Yaa, aku memang salah, aku sudah membunuh kekasihnya, tepat di depan matanya, hanya menunggu waktu sampai Johan melaporkanku pada polisi. Aku tidak keberatan, aku sudah tertangkap basah olehnya aku juga tidak mungkin bisa mengelak.
Aku sangat sial hari ini. Bagaimana bisa Johan berada di sana.
Aku sudah membayar seseorang untuk mematikan seluruh kamera keamanan di gedung apartemen itu, seharusnya aku tidak ketahuan.
Dan Johan adalah satu-satunya saksi mata.
"Jelaskan padaku, berikan aku alasan yang masuk akal!" Johan meneriaki ku, tangannya terkepal erat, dia tidak mungkin memukulku kan? Dia sangat tidak tahu malu kalau sampai berani memukul perempuan.
Aku tidak berani mengangkat kepalaku, aku takut melihat wajah marahnya, aku ingin Johan. Mencintaiku, bukan malah marah padaku seprti ini.
"Katakan padaku, kenapa kau tega membunuhnya!" Johan mengguncang tubuhku kasar.
Pada saat seperti ini bukannya bersikap tegar, aku malah menitikkan air mata. Kenapa aku bisa selemah ini saat berhadapan dengan Johan.
Sikap kasar Johan tidak menyakitiku sama sekali, tapi kenyataan bahwa dia bersikap kasar padaku karena
kekasihnya, membuatku sedih, kenapa Johan bisa sangat mencintainya, kenapa bukan aku?
Aku memberanikan diri mengangkat wajahku dan balik menatapnya. Dia masih terlihat marah. Dia memandangku penuh kebencian.
Padahal biasanya dia akan segera luluh saat melihatku menangis. Dia kan memberikanku es cream sambil
mengelus kepalaku, setelah ini pasti dia tidak akan bersikap lembut lagi padaku.
"Aku sangat membencinya" ucapku tegas, masih dengan air mata yang membasahi pipiku.
"Kau punya alasan untuk membencinya?"
Aku menatap Johan tajam, tangisanku sudah berhenti.
"Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku, aku akan menyingkirkan siapapun yang menhalangiku untuk mendapatkanmu"
Johan mundur beberapa langkah, dan menatapku ngeri, aku tahu dia pasti takut padaku sekarang.
__ADS_1
Kesempatanku untuk bisa bersama dengannya adalah nol besar, mana mungkin pria baik-baik sepertinya
berhubungan dengan pembunuh berdarah dingin sepertiku.
"Jangan bilang, kejadian selama ini adalah ulahmu, sampai kecelakaan di hari pernikahanku juga?" Johan menuntut jawaban dariku, aku sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang.
"Ya, itu aku, kau pikir siapa?" Ucapku sambil menyeringai.
Lebih baik ku akui saja semuanya, toh aku sudah ketahuan, walaupun aku mati sekarang, aku tidak punya penyesalan lagi, aku sudah mengakui segalanya pada Johan.
Sepertinya kepalaku agak lebih ringan setelah pengakuan dosa yang konyol ini.
Johan menekan pelipisnya, dia pasti sangat kecewa padaku. Dia pasti tidak menyangka gadis lugu sepertiku
bisa melakukan hal sekeji itu.
"Kau gila!" Teriak Johan frustasi.
"Untuk orang yang jatuh cinta, kegilaan semacam ini belum seberapa!" Aku berteriak histeris "aku bisa melakukan yang lebih dari ini"
Johan menarik nafas panjang, dia berusaha keras untuk menahan amarahnya.
"Kau bukan Minki yang ku kenal!"
"Pikirkan baik-baik kesalahanmu" ucap Johan kasar, sambil menggenggam bahuku kuat.
Aku hanya mengangguk lesu menanggapi ucapannya, aku merasa aku tidak bersalah sama sekali, tidak ada yang harus ku pikirkan.
Johan pergi keluar dari kamar dan menutup pintu setengah membanting. Ku dengar suara pintu di kunci dari luar. Dia mengurungku di sini.
Aku berbaring di atas tempat tidur, memandangi langit-langit kamar Johan yang berwarna cream dengan hiasan lampu bergaya modern.
Aku tidak menyesal, sungguh, aku tidak menyesal.
☠☠☠
"Dokter Kim kau gila!" Aku mendengar suara seseorang yang berdiri di sampingku.
Aku tidak tahu sekarang aku berada di mana, tapi ini bukan ruang rawat inap, cahaya lampu di langit-langit membuatku silau, aku jadi merasa berada di ruang operasi. Aku sudah puluhan kali melakukan operasi jadi aku hapal betul tempat sepeti apa ini.
Mungkin aku memang dilahirkan untuk mempersulit hidup orang lain, terutama mamaku.
Aku lahir dengan kelainan jantung, selam ini aku bertahan hidup dengan mengandalkan obat-obatan, tidak tahu sudah berapa banyak uang yang mama ke kaluarkan hanya untuk pengobatanku.
__ADS_1
Mama bahkan rela menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya hanya karena aku, pria itu berjanji akan membiayai pengobatanku. Tapi setelah menikah mama dan aku malah di perlakukan seperti binatang.
Seharusnya aku mati saja dari dulu, untuk apa hidup seperti ini.
Sepertinya air mataku mulai mengalir keluar, aku ingin menyapunya, tapi tubuhku tidak bisa di gerakan sama sekali, mungkin ini saat-saat sebelum kematiannya.
Aku sangat takut, aku ingin mama ada di sini, akan memelukku dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Aku tahu mama berbohong, semuanya tidak baik-baik saja, tapi dengan bodohnya aku selalu percaya semua ucapannya dan hatiku merasa lebih tenang.
"Hei jangan menangis, kau akan baik-baik saja" seseorang menyapu air mataku, aku bisa merasakan tangannya yang kasar menyentuh pipiku.
Pandanganku agak kabur tapi aku masih bisa mengenali wajahnya, dia dokter yang selalu memeriksaku di rumah sakit, dokter Kim. Dia sangat baik, dia sering membelikan ku ice cream dan mengajakku mengobrol untuk melupakan penyakitku.
Dia akan berlari menghampiriku saat aku merasa kesakitan. Dia akan berusaha membuatku tenang.
"Darimana kau mendapatkan jantung ini?" Lagi-lagi aku mendengar suara seorang pria di sampingku.
"Tony, aku akan menjelaskannya nanti, yang terpenting kita operasi dia sekarang" itu suara dokter Kim, aku sangat hapal.
"Aku rasa kewarasanmu sudah hilang, bagaimana bisa melakukan operasi transplantasi jantung di klinik kecil seperti ini, kita tidak punya peralatan yang memadai" ku dengar dia menggebrak meja.
"Itu sebabnya aku mengajakmu, kau kan jenius, tolong bantu aku, sekali ini saja"
"Kau sudah keterlaluan, pertama kau menyuruhku untuk mengeluarkan anak ini dari rumah sakit, dan sekarang kau memintaku untuk membantumu dalam operasi tidak masuk akal ini! Tolong sadarkan. Dirimu ini tidak mungkin!"
"Lakukan, atau aku akan membangunkan Thomas"
Sebuah tangan dingin menyentuh pipiku, aku terlonjak kaget dan bangun dengan dahi di penuhi keringat dingin.
Bagaimana bisa aku malah teringat dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Johan duduk di hadapanku, wajahnya masih terlihat marah seperti tadi.
Dia sama sekali tidak berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Dia tetap baik terhadap orang yang bahkan baru di kenalnya. Sampai sekarang dia bahkan belum menelpon polisi untuk melaporkanku.
Aku bangun dan memeluknya erat, aku tidak ingin kehilangannya.
Walaupun masuk penjara, aku sama sekali tidak menyesal dengan perbuatanku. Di bandingkan melihat dia bersama orang lain lebih baik aku mati saja.
"Jangan membenciku, ku mohon, aku sangat mencintaimu, akan ku lakukan apapun" aku menangis
histeris di pelukannya.
Tidak di sangka Johan balas memelukku dan mencium keningku lembut. Aku sangat mencintai pria ini, perasaanku padanya tidak akan berubah walau seribu atau sejuta tahun lagi.
__ADS_1