ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
17. JOHAN


__ADS_3

Melakukan operasi di malam hari sungguh sangat melelehkan. Apalagi jika itu operasi besar yang harus di lakukan berjam-jam.


Seperti sekarang, aku menyenderkan tubuhku dengan nyaman ke kursi kulitku, aku baru saja selesai melakukan operasi selama empat jam, seharusnya bisa selesai lebih cepat, tapi asistenku melakukan sedikit kesalahan, hanya sedikit tapi berdampak cukup besar.


Aku membuka laci mejaku dan mengambil hpku dari sana, seharian ini aku tidak melihat hp sama sekali, saking sibuknya, aku melihat 3 misscall dari Minki, aku tersenyum geli saat membaca pesan darinya.


Minki


Dokter Kim, aku merasa kepalaku pusing seharian ini, mungkin aku harus melakukan cek up lagi.


Lagi-lagi dia mencari alasan untuk bertemu denganku, aku yakin saat di periksa nanti tidak ada penyakit apapun yang di deritanya kecuali manja. Itupun kalau manja di kategorikan sebuah penyakit.


Ada misscall lain dari nomer yang tidak ku kenal. Baru saja aku memikirkan siapa yang menelpon ku,


nomer itu menelpon ku kembali, aku langsung mengangkatnya, aku penasaran siapa yang menelpon selarut ini.


"Hallo"


"Bos dia mengangkatnya"


Terdengar suara berat di seberang sana, kutebak pria ini pasti seorang perokok berat.


"Jangan meleponnya brengsek, dasar sialan, lebih baik kau bunuh saja aku!! Diam! Aku harus mendapatkan uangku kembali, atau kau lebih suka gadis yang bernama Minki itu ku jual sebagai pelacur! Dasar ***, aku akan membunuhmu dengan tanganku! Hahaha, dasar tidak tahu diri! Cih!"


Aku mendengar percakapan aneh di seberang sana, setelah percakapan itu berakhir, aku mendengar suara pukulan keras, aku penasaran, siapa yang di pukuli itu.


"Maaf aku rasa kau salah sambung"


Aku berniat hendak mematikan telpon.


"Ini Johan kan?"


"Ya, bagaimana kau bisa tahu?"


"Hahaha aku menangkap seorang pria, dia punya hutang yang sangat besar padaku, aku mendapatkan datamu darinya, sepertinya dia sedang mengawasi mu"


"Mengawasi ku? Sepertinya memang kau salah orang, maaf aku akan menutup telponnya"


"Namanya Kevin, kau kenal?"


Aku berfikir sejenak, mencoba mengingat-ingat apa aku punya kenalan bernama Kevin, tapi aku sama sekali tidak ingat.


"Tidak, aku tidak mengenalnya"

__ADS_1


"Sudah ku bilang dia bukan siapa-siapa, mana mungkin dia membayarkan hutangku padamu dasar bodoh, aaggghh"


Suara pukulan keras dan teriakan terdengar lagi, pasti dia di pukuli lagi, kasihan juga.


"Baiklah kalau begitu aku tidak punya pilihan lain, cari gadis bernama Minki itu dan bawa ke padaku, gadis cantik sepertinya pasti bisa di jual dengan harga mahal"


Perkataan itu jelas bukan di tujukan padaku. Tapi aku mendengar samar-samar nama Minki di sebut.


Tak lama telpon terputus.


Wajah Minki langsung terlintas di dalam pikiranku.


Dengan cepat aku mencari nomer Minki di kontak hpku dan menelponnya.


"Kau baik-baik saja?" Todongku segera setelah Minki mengangkat telponnya.


"Iya tentu, ada apa dokter Kim?"


Suara Minki terdengar sangat lembut, aku yakin memang dia baik-baik saja.


"Tidak ada apa-apa, kau berada di mana sekarang?"


"Aku? Di rumah teman"


"Tidak, eh tapi entahlah apa ini bisa di sebut aneh, sebelum kau menelpon, seseorang menelpon ku terlebih dahulu beberapa kali, aku tidak mengangkatnya karena nomernya tidak ku kenal" jujur Minki.


"Bagus, anak pintar, jangan pernah mengangkat telpon dari nomer yang tidak kau kenal, aku akan menghubungimu lagi nanti, tetap nyalakan hpmu, mengarti?"


"Ya, tapi kenapa? Kau sepertinya sedang menghawatirkan sesuatu, apa terjadi hal yang buruk?"


Minki mulai penasaran, aku bingung harus menjawab apa, tidak mungkin aku menjawabnya jujur.


"Tidak apa, jangan di pikirkan, aku akan menelpon mu lagi nanti, bye"


Telpon mati.


Aku memeriksa panggilan masukku yang terbaru, nomer yang tidak ku kenal itu, aku kan menghubunginya kembali.


☠☠☠


Aku melemparkan satu tas penuh dengan uang, aku tidak perduli dengan berapa banyak uang yang harus ku keluarkan, aku punya banyak. Yang aku khawatirkan adalah, mereka berani menyentuh Minki, itu sangat tidak bisa di tolerir


Aku di arahkan menuju gudang tua yang sudah tidak terpakai lagi di pinggiran jalan tol, aku cukup berani datang sendiri, aku punya firasat bagus kalau aku akan baik-baik saja.

__ADS_1


Seorang pria bertubuh kekar mengambil tas yang ku lemparkan dan menyerahkannya pada pria lainnya, tubuhnya pendek dan kepalanya botak di depan.


Aku mengenalinya, dia Matthew Gill, seorang pebisnis furnitur, yang lumayan sukses.


Aku pernah membaca tentangnya di internet, namanya cukup populer beberapa bulan terakhir saat dia kedapatan menyelundupkan narkoba yang di selipkan dalam furnitur miliknya.


Harusnya sebelum datang ke sini aku telpon polisi, mungkin aku akan dapat penghargaan karena sudah berhasil menangkap buronan.


Matthew menendang seorang pria ke arahku, dia masih muda, mungkin dia seumuran dengan Minki.


Dia terlihat sangat menyedihkan, hanya memakai celana dalam memperlihatkan tubuhnya yang babak belur, dia benar-benar di pukul habis-habisan. Kasihan sekali.


Bukan ucapan terima kasih yang ku terima karena sudah menyelamatkan nyawanya, tapi dia malah melotot ke arahku dengan matanya yang sipit.


"Jangan berlagak seperti pahlawan, aku akan mengembalikan uangmu secepatnya" ucapnya pelan, aku tahu dia kesulitan bicara tapi masih tetap di paksakan, anak muda jaman sekarang memang hebat, mereka seakan-akan tidak bisa merasakan sakit.


"Tentu saja kau harus bayar, tapi sebelumnya ayo kita pergi dari sini" aku mencoba untuk membantunya berdiri dan memapahnya supaya dia bisa berjalan, dia terlihat kurus tapi badannya berat juga, apa aku saja yang terlalu tua dan tidak memiliki banyak tenaga lagi?


"Namamu Kevin?"


"Eeemm" dia hanya bergumam, sambil memegang dadanya kesakitan, dia harus segera di bawa ke rumah


sakit.


Aku memperlaju mobilku, setalah dua puluh menit kami tiba di rumah sakit, Kevin segera di bawa ke IGD


untuk penanganan.


Setelah berjam-jam di rumah sakit, melakukn pemeriksaan ini dan itu, akhirnya dokter bilang Kevin bisa pulang malam ini juga.


Tidak ada yang buruk terjadi padanya, tidak ada luka dalam dan lain sebagainya, hanya luka memar bekas pukulan, dia beruntung, hanya saja kakinya harus di gips, tulang kakinya retak sedikit.


Kalau aku yang di pukuli sepeti itu mungkin tulangku akan patah-patah menjadi remahan kecil. Aku hanya


kan berada di rumah sakit dalam waktu yang lama dan tidak bisa melakukan apa-apa.


Ternyata dia tinggal tidak jauh dari apartemen ku, gedung apartemen kami bersebelahan. Bisa-bisanya takdir


membuat segalanya begitu dekat.


Dia tetap tidak bisa berjalan dengan baik, aku meminjam kursi roda dari rumah sakit untuk di bawa pulang, dan pihak rumah sakit mengijinkan, untung saja itu rumah sakit tempatku bekerja, jadi aku bisa meyakinkan mereka.


Aku membawa Kevin masuk ke apartemennya. Aku bingung, saat tidak ada orang kenapa lampu rumahnya malah menyala semuanya, ku lihat Kevin juga sama bingungnya denganku.

__ADS_1


"Kevin, dokter Kim?" Minki tiba-tiba saja muncul dari arah dapur membawa sebungkus keripik kentang dan jus.


__ADS_2