
Aku meletakan snelli di jok samping, aku memacu mobilku dengan kecepatan penuh.
Jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Dan dengan bodohnya aku melupakan hal yang penting.
Hari ini adalah peringatan lima tahun meninggalnya ibuku, aku ingin pulang secepat mungkin untuk mengadakan acara sekedar memberikan penghormatan pada ibuku yang sudah tiada. Aku memang anak kurang ajar, bagaimana bisa aku melupakan hari sepenting ini.
Selain memikirkan peringan meninggalnya ibu, ada satu hal lagi yang mengganjal di hatiku.
Ada seorang anak yang menarik perhatianku, dia sudah berada di rumah sakit selama sebulan penuh, keadaannya semakin hari semakin memburuk.
Jantungnya sangat lemah, dia harus mendapatkan donor jantung secepatnya, kalau ada yang bisa ku lakukan, aku akan melakukannya, tapi kemampuanku terbatas, dan lagi bukan hanya dia paisen yang menunggu donor.
Dia mengingatkanku pada ibuku, ibuku meninggal karena gagal ginjal, ginjalnya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, walaupun melakukan cuci darah, itu sama sekali tidak membantu.
Cara satu-satunya hanya dengan mendapatkan donor, tapi sampai saat terakhirnya pun, ibuku tidak bisa mendapatkan donor.
Aku ingat betul, saat itu aku masih berstatus sebagai dokter intership di rumah sakit kecil, tidak banyak yang bisa ku lakukan. Aku hanya bolak balik bertanya pada pihak rumah sakit apa ibuku bisa mendapatkan donor secepatnya.
Saat sebuah kesempatan muncul, seorang dengan senang hati mendonorkan ginjalnya saat dia meninggal, tapi ibuku tidak mendapatkannya, ginjal itu malah di berikan kepada orang lain.
Aku tahu dunia ini bisa berputar dengan baik karena adanya uang, tapi untuk ibuku yang sudah berada dalam daftar tunggu selama bertahun-tahun itu sangat tidak adil.
Aku bertekad untuk membantu anak itu, akan ku usahakan semampuku, sekarang aku bukan lagi dokter intership, aku dokter bedah yang kemampuannya cukup di perhitungkan, akan ku lakukan yang terbaik untuk anak itu.
Aku tersadar dari lamunanku saat merasakan guncangan pada mobil yang ku kendarai, tanpa sadar aku pasti menabrak sesuatu. Aku harap itu bukan makhluk hidup.
Aku keluar dari dalam mobil perlahan, saat menginjakan kakiku ke aspal, genangan air berwarna merah mengotori sepatuku.
Ya, aku tidak apa kalau itu makhluk hidup, asal jangan manusia, ku mohon.
Tapi apa yang kulihat ternyata tidak sesuai dengan harapan. Seorang pria terkapar bersimbah darah tepat di depan mobilku. Kakinya terluka cukup parah, ku rasa kakinya hampir putus, aku hampir tidak sanggup melihatnya.
Kelihatannya dia masih sadar. Bibirnya mengisyaratkan meminta pertolongan, dia meringis kesakitan, tapi suaranya tercekat.
Ku rasa akan memakan waktu lama kalau aku harus menelpon ambulan, jadi aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit dengan mobilku.
Ku papah dia perlahan dan membantunya untuk masuk ke dalam mobil, sebelumnya ku ikat kakinya menggunakan ikat pinggangku, untuk menghentikan pendarahan.
Aku berdoa dalam hati supaya dia tidak kenapa-kenapa, karirku bisa hancur jika dia sampai meninggal.
Ku lihat ke jok belakang melalui sepion, pria yang ku tabrak masih meringis kesakitan, matanya terpejam menahan rasa sakit.
__ADS_1
Aku melihat wajahnya lebih seksama, aku seperti mengenalnya, wajahnya tidak asing bagiku, aku pasti pernah melihatnya di suatu tempat.
Aku tersadar saat melihat tato di pergelangan tangan kirinya, ada tato berbentuk sabit di sana.
Dia, aku mengingatnya, aku menginjak rem dalam-dalam, menarik nafas dan membuangnya kasar.
Lima belas tahun yang lalu, aku bertemu dengannya, di pengadilan.
Saat itu aku menjadi saksi atas penculikan teman satu sekolahku, Minji.
Minji di tarik paksa masuk ke dalam mobil dan di bawa pergi, aku mencoba untuk mengejarnya tapi aku tidak bisa, mana mungkin aku bisa mengejar mobil dengan sepeda butut ku. Aku masih ingat, tato itu, dia penculiknya.
Minji di perkosa dan buang di pinggir jalan, dia terpaksa putus sekolah dan membesarkan anaknya di usia lima belas tahun.
Dia menghilang, setelah sidang selesai, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, dan lagi si penculik hanya di kenakan hukuman selama dua tahun penjara, tidak setimpal dengan perbuatannya keji yang di lakukannya.
Aku menelan ludahku kasar, aku teringat bagaimana Minji menangis pilu saat hidupnya hancur oleh si sialan yang sekarang ada di jok belakang mobilku.
Terlintas pikiran gila di kepalaku, dia harus membayar semua perbuatan buruknya, sampai lunas.
Aku membalikan badan dan menatap pria di belakangku tajam, aku ingin sekali membunuhnya dengan tanganku.
Aku berfikir sejenak, aku berencana untuk menurunkannya dan membiarkannya mati di jalan, tapi mayatnya pasti akan di temukan oleh polisi dan pasti aku akan dapat masalah.
Hanya ada satu jalan, dan aku rasa itu adalah jalan yang terbaik untuk saat ini.
Aku memutar balik mobilku, menuju pinggiran kota dengan kecepatan penuh.
Tidak ada rasa takut dalam diriku, yang ada hanya perasaan marah dan rasa bersalah, jika saja aku dulu berhasil mengejarnya, Minji tidak akan mengalami hal buruk dan hidupnya kini pasti baik-baik saja.
Mobilku berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar tua yang sudah tidak terawat. Sudah bertahun-tahun tempat ini di biarkan kosong.
Di
palang atas tertulis
'Elizabeth Funeral Home'
(Rumah duka elizabeth)
Tempat ini adalah usaha milik ayahku sebelum beliau meninggal. Dan sekarang menjadi miliku, tapi aku sama sekali tidak berniat melanjutkan usahanya mengurusi mayat.
__ADS_1
Aku menyeret pria itu keluar dari mobil dengan kasar, dia meracau minta di lepaskan, tapi aku tidak bergeming, tidak ada lagi belas kasihan untuk pria sampah sepertinya.
Aku menempatkan pria itu di atas meja besar, aku menyalakan senter dari hpku untuk memberi sedikit penerangan.
"Akan ku buat kau lebih berguna, sialan!"
Aku membongkar isi tasku dan mengambil scapel, aku mensterilkannya dengan mencucinya dengan alkohol.
"Aku minta maaf sebelumnya, mungkin ini akan terasa sangat sakit, aku tidak memiliki anastesi "
Dengan lembut aku mengelus kepala pria itu sambil tersenyum menyeramkan.
"Aku baru ingat ada seorang anak yang sedang memerlukan donor jantung, dari pada kau mati sia-sia lebih baik kau berbuat baik dengan memberikan jantungmu, aku harap jantungmu cocok untuknya"
Aku tidak bisa menahan senyuman saat aku membayangkan betapa sakitnya di bedah tanpa anastesi, mungkin jika dalam keadaan normal, dia sudah berteriak-teriak seperti nenek tua.
Sudah ku bilang sebelumnya, aku menjadi dokter yang di perhitungkan sekarang. Aku tidak pernah gagal dalam operasi, aku yang terbaik.
Setelah selesai aku membuang tubuh pria itu ke dalam tungku pembakaran.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir rumah duka milik ayahku beroperasi kembali.
☠☠☠
Setelah dua puluh lima tahun, aku melihatnya kembali.
Senyumannya membuatku lega, ku rasa dia hidup dengan baik selama ini.
Aku berlari menghampirinya, aku tidak perduli dengan tatapan aneh orang sekitar, aku memeluknya sambil mengelus rambutnya dengan lembut. Aku bahkan tidak bisa menahan air mataku.
Orang-orang pasti berfikir aku sedang syuting drama.
"Tuhan, terima kasih, kau baik-baik saja"
Dia mendorongku menjauh dan menatapku heran. Raut wajahnya terlihat kesal, sedetik kemudian dia melembut. Dia tersenyum kepadaku, bukan senyum getir setelah persidangan berakhir, tapi senyum bahagia.
"Sudah lama ya, Johan"
"Ya, Minji, kau masih cantik seperti dulu"
Minji tertawa sambil memukul dadaku, di sebelahnya Minki berdiri mematung melihatku.
__ADS_1