ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
18. JOHAN


__ADS_3

Minki menatapku heran, tentu saja dia bertanya-tanya kenapa aku bisa berada di sini sekarang. Tapi alih-alih menanyaiku dia malah berteriak histeris saat melihat Kevin yang duduk di atas kursi roda, tidak berdaya.


"Apa yang terjadi padamumu?" Minki menangkup wajah Kevin dengan kedua tangannya.


Sudah jelas Kevin tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi, harga dirinya pasti terluka.


"Dokter Kim, kau yang melakukan ini padanya? Teganya!" Minki menatapku marah, aku menggeleng sekuat tenaga, aku tidak ingin dipersalahkan.


Kevin tidak melakukan apapun untuk membelaku dan malah menjalankan kursi rodanya menuju kamar sendiri. Minki dengan cepat menangkap kursi roda itu untuk menghentikannya, dia berjongkok di hadapan Kevin dengan wajah khawatir.


Aku jadi kesal melihat drama sampah di hadapanku, tidak di sangka Minki ternyata punya pria lain yang di perhatikan ya selain aku. Aku bukannya cemburu, sungguh, agh tapi kenapa rasanya kesal sekali.


"Bukannya kau bilang kau di di rumah temanmu" aku hanya ingin minta penjelasan pada Minki, mungkin maksudnya bukan hanya teman, tapi teman laki-laki.


"Ini rumah temanku!" Ucap Minki setengah membentak, aku rasa di masih salah paham, aku sama sekali tidak melukai Kevin, malah aku yang menolongnya.


"Kevin apa yang terjadi?" Minki mulai mengintrogasi Kevin.


"Bukan apa-apa" Kevin hanya menjawabnya singkat sambil menunduk.


"Aku akan membencimu jika memang benar kau yang melakukan ini dokter Kim!" Minki beralih padaku, matanya menatapku tajam, tatapannya membuatku terintimidasi seperti biasa.


"Hei bocah, jelaskan padanya kalau bukan aku yang melakukannya!" Kini aku yang bicara pada Kevin, tapi dia sama sekali tidak merespon.


"Kau tidak ingin membelaku, baiklah, aku akan menceritakan semua yang terjadi padanya" ancamku, dan berhasil, Kevin mulai mengangkat kepalanya.


"Kau mengancamnya? Jadi benar kau yang melakukannya!" Ah sial, kenapa Minki jadi semakin salah paham.


"Bukan dia yang melakukannya" ucap Kevin pelan. "Aku sangat lelah, bisa bawa aku ke kamar"


Mendengar keluhan Kevin, Minki langsung berdiri, mendorong kursi roda menuju kamar.


Dia mengabaikan ku, seharusnya dia minta maaf karena sudah menuduhku tadi, agh dasar menyebalkan, aku menyesal sudah menolong Kevin.


Minki menolong Kevin untuk naik ke atas ranjang. Dia melepaskan baju Kevin dan menggantinya dengan baju lain yang bersih, memakaikan Kevin kaos kaki dan menyelimutinya dengan nyaman.


Awalnya Minki terbelalak melihat luka lebam di sekujur tubuh Kevin, tapi Kevin menolak untuk menjelaskan dengan alasan lelah, Minki langsung menyerah dan hanya duduk di sampingnya sambil mengelus-elus rambut Kevin yang berantakan.


Sepeti yang bisa di lihat, mereka pasti sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada Minki denganku.


Aku tidak ingin mengganggu mereka dan hanya berdiri di depan pintu yang terbuka. Aku persis seperti seorang ayah yang mengawasi anaknya yang sedang pacaran.

__ADS_1


"Aku datang ke sini untuk berbaikan denganmu, tapi kau tidak ada, aku menunggumu pulang, tapi kau malah pulang dengan keadaan seperti ini" wajah Minki terlihat sedih, tapi untungnya dia tidak menangis.


"Aku tidak apa-apa" Kevin bersuara datar, dasar tidak punya hati, ada orang yang sangat memperhatikannya tapi dia malah bersikap angkuh.


"Katakan siapa yang melakukan ini padamu, aku akan pastikan mereka akan mati malam ini juga"


Aku bergidik mendengar perkataan Minki, terlintas di kepalaku kejadian malam itu di rumah sakit tua, membayangkan mayat yang bergelimpangan dengan mengenaskan membuatku mual.


"Ku bilang berhenti! Jangan membuat dirimu dalam masalah lagi!"


Kevin berkata seperti itu, dia pasti tahu bagaimana Minki sebenarnya. Mereka memang benar-benar dekat ternyata.


"Aku juga sudah bilang padamu, kalau kau tidak berhak mengatur hidupku" Minki membalas ucapan Kevin dengan suara tinggi.


"Kalau begitu pergi dari sini, anggap kita tidak saling kenal! Aku tidak yakin bisa bertahan denganmu lebih lama" Kevin terdengar seperti sedang minta putus dengan pacarnya, apa mereka pacaran?


"Apa maksudmu?"


"Kau tuli?!!"


Minki terlihat sedang menahan marah sekarang, matanya memerah, dia menghela napasnya dengan kasar.


Minki melangkah keluar kamar dengan marah, aku cepat-cepat beralih dari depan pintu menuju sofa di depan tv, aku akan pura-pura tidak tahu tentang pertengkaran mereka.


"Dokter Kim" aku mendengar Minki memanggilku dari belakang, aku pura-pura kaget dan berbalik dengan wajah bingung.


"Bisa kau jaga Kevin hanya untuk malam ini, aku akan kembali lagi besok"


"Tentu saja, aku bisa menjaganya, aku terbiasa menjaga pasien di rumah sakit" ucapku bangga.


"Terima kasih dokter kim" ucap Minki lesu.


"Mau ku antar pulang" tawarku.


"Tidak, aku bawa mobil sendiri. Dokter Kim bisa aku minta satu lagi?"


"Tentu"


"Tolong seka tubuhnya dengan air hangat, juga buatkan dia teh melati, dia suka minum teh sebelum tidur, jangan matikan lampunya saat dia tidur, hanya redupkan sedikit, kalau dia mengeluh susah tidur tolong ambilkan bantal tambahan dari dalam lemari dan letakan di kiri kanan tubuhnya, dia juga kadang mengigau saat tidur, jadi tolong bangunkan dia dan berikan dia segelas air putih" Minki menjelaskan panjang lebar.


Aku ternganga mendengar ucapannya, aku tidak bisa mengingatnya sekaligus, banyak sekali yang harus ku lakukan.

__ADS_1


"Bisa kau ulangi"


"Maaf dokter Kim aku memintamu terlalu banyak"


"Tidak bukan seperti itu, aku tidak bisa mengingat semuanya, kau sepertinya hapal betul bagaimana temanmu itu ya"


"Aku bukan sengaja menghapalnya, hanya saja aku menghabiskan waktu yang cukup lama bersamanya, jadi secara tidak sengaja aku hapal segala kebiasaanya"


"Aku akan melakukannya, tenang saja" aku meyakinkan Minki, walupun ku rasa aku tidak akan bisa melakukan semua yang Minki minta barusan.


"Baiklah aku akan pulang, sekali lagi terima kasih dokter Kim"


Aku melambaikan tanganku saat Minki keluar dari pintu. Aku terjebak di sini dan harus mengurusi Kevin, secara sukarela.


Aku mendatangi Kevin yang masih terbaring di atas ranjang besarnya, dia menutup mata, tapi aku tahu dia tidak tidur.


"Kau kasar sekali padanya" ucapku sambil meredupkan cahaya lampu, sesuai permintaan Minki.


"Bukan urusanmu!" Balasnya ketus.


"Sudah berapa lama kalian pacaran, sepertinya tidak harmonis"


"Jangan berlagak bodoh brengsek, kau tahu betul kalau dia menyukaimu, kau sedang menghinaku ya"


Ya aku tahu Minki menyukaiku karena dia mengungkapkan perasaanya padaku beberapa hari yang lalu. Aku tidak bermaksud menghinanya tapi rasanya aku ingin tertawa setelah tahu Minki dan Kevin tidak berpacaran. Aku menahan tawaku sekuat tenaga, tapi Kevin melihatnya.


"Dasar orang tua, apa kau tidak malu menyukai cewek yang jauh lebih muda darimu?" Ucap Kevin sinis.


"Aku kan tidak bilang kalau aku menyukai minki"


"Terbaca jelas di wajahmu"


"Owwwhh aku tahu sekarang, kau cemburu? Itu sebabnya kau mencari tahu tentangku?"


Kevin berdecak kesal lalu membalikkan tubuhnya membelakangi ku.


"Keluar sana, aku mau istirahat"


Aku menuruti kemauannya, aku keluar dan menutup pintu sepelan mungkin.


Aaggh kenapa aku harus terlibat cinta segitiga dengan anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2