ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
40. JOHAN


__ADS_3

Semuanya menjadi sangat kacau.


Perasaanku mulai tidak nyaman sejak kemarin malam dan berlanjut sampai hari ini.


Entah apa, tapi firasatku mengatakan bahwa hal buruk akan terjadi.


Dan benar saja, saat aku tiba di rumah Minki, aku mendengar pertengkaran Minki dengan salah satu teman polisinya.


Akal sehatku menyuruh untuk pergi dari sana secepatnya dan jangan ikut campur, berpura-pura menjadi orang bodoh dan biarkan saja Minki membayar semua perbuatannya.


Tapi hatiku yang lemah ini malah berlari masuk ke dalam rumah, dan menariknya untuk kabur.


Dasar bodoh!


Aku agak terkejut saat teman polisinya itu menembak kakinya sendiri untuk membiarkan kami lolos, ternyata Minki punya banyak pria yang rela melakukan apapun untuknya, lagi-lagi aku merasa rendah diri.


Aku memacu mobilku secepatnya kilat, dan sialnya, ini adalah jam sibuk, aku tidak bisa menghindari kemacetan, kemanapun aku memutar arah, jalanan akan selalu ramai.


"Bagaimana ini?" Minki mulai panik saat ia melihat tidak ada satupun jalan untuk mobil kami bergerak, aku bahkan tidak bisa mundur ataupun berbalik arah.


"Keluar!" perintahku setengah berteriak.


Aku bukannya marah, tapi dalam keadaan kalut seperti ini menurutku wajar jika seseorang meninggikan suara dan agak sedikit panik.


Selama aku hidup aku tidak pernah berurusan dengan polisi. Walaupun aku melakukan kejahatan dengan


memperdagangkan organ tubuh mayat, aku sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan polisi, entah mereka yang bodoh atau aku yang terlalu cerdas.


Tapi sekarang, aku malah berlari dari kejaran polisi untuk melindungi seseorang.


Aku menarik Minki keluar dari mobil dan menuntunnya berjalan menuju trotoar.


Dengan perasaan sedikit menyesal, aku meninggalkan mobil mahalku di jalanan, di tengah kemacetan, aku harus merelakan mobil itu dan lari sebelum para polisi melacak keberadaan kami.


Agh padahal itu adalah mobil yang paling ku suka.


Aku masih punya cukup banyak uang untuk membeli mobil baru yang sama persis, tapi, aku tidak yakin setelah hari ini aku akan bisa bebas menyetir tanpa rasa was-was di jalanan, sebentar lagi aku akan menjadi buronan.


Orang-orang memandangi aku dan Minki dengan tatapan aneh, terutama pada Minki.


Jika aku jadi mereka aku juga akan melakukan hal yang sama.


Minki hanya mengenakan bathrobe berwarna putih yang sangat pendek, saat ia berlari bathrobe yang di pakainya ikut terangkat naik memperhatikan pahanya yang mulus.


Aku ingin sekali menutupi kakinya dengan sesuatu tapi aku bingung. Aku tidak mungkin melepas pakaiannku, dan kami juga tidak punya waktu untuk pergi berbelanja, kami harus kabur secepatnya.


Minki menghentikan langkahnya dan bersandar ke dinding kaca sebuah toko perkakas.


Saat aku sadar ia tidak lagi mengikuti di belakang, aku langsung berbalik dan menghampirinya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Biarkan aku mengatur nafasku sebentar" Minki menarik dan membuat nafasnya cepat.


Akupun melakukan hal yang sama tapi dengan ritme yang lebih teratur.


"Kita akan kemana?" Minki bicara di tengah nafasnya yang berantakan.


"Apartemenku, kita perlu uang untuk bisa kabur, aku tidak mungkin menarik uang di bank"


"Tidak, maksudku, kita akan kabur ke mana?"


"Entahlah, luar kota, luar negeri, atau luar angkasa, belum terfikirkan olehku"


Aku menghela nafasku sedikit lebih keras, menandakan aku sedang frustasi.


"Jangan memaksakan diri, kau boleh menyerah sekarang, aku tidak akan menyalahkanmu" Minki tersenyum, tapi dengan raut wajah menyesal.


Aku cukup yakin, ia tidak serius mengatakan hal itu. Di saat seperti ini, ia membutuhkan seseorang yang selalu ada untuk tempatnya bersandar.


Aku bukannya membenarkan setiap perbuatan brutal Minki. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang telah ia bunuh, siapa saja, dan untuk alasan apa.


Aku juga bukan orang suci yang bisa menghakiminya seenaknya, menjatuhkan hukuman dengan alasan moralitas.


Aku yakin, setiap perbuatannya memiliki alasan, walaupun alasannya tidak cukup kuat untuk bisa memaklumi tindakannya yang di luar nalar itu.


Tapi ia ingin berubah, ia telah mencoba untuk berubah, dan aku mendukung sepenuh hatiku.


Dia gadis yang baik, dan tidak ada salahnya intuk memberikan kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, jauh dari masa lalunya yang suram.

__ADS_1


"Jika berhasil kabur dari sini, ayo kita mulai hidup dari awal"


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Aku memegang tangan Minki dan menciumnya. Minki tersenyum dan menggangguk dengan semangat.


Tony sedang menyetir menuju klinik kecil miliknya di dekat bekas gudang karet ketika tiba-tiba sekelompok polisi menghentikan mobilnya, bukan hanya mobilnya, tapi juga puluhan mobil yang ada di depannya.


"Hanya pemeriksaan biasa, tidak perlu khawatir" seorang polisi menyambut driver license dan id milik Tony lalu memeriksaanya dengan teliti.


Polisi itu juga memeriksa jok penumpang di belakang yang kosong


"Bisa buka bagasi anda?"


Tony menggaruk belakang kepalanya, ia tampak gusar, jelas terlihat bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Tid-ak ad-a apa-pun di bel-akang" ucap Tony tergagap.


"Saya hanya akan melihat sebentar"


Polisi itu berjalan menuju belakang mobil dan bersiap untuk membuka pintu bagasi.


Tapi ia terhenti.


"Hei kemari!" Tony mengeluarkan tangannya dari jendela dan memukul-mukul pintu mobilnya dari luar.


Suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya, dan bisa di pastikan dia bukanlah Tony, tapi Thomas, entah kenapa Thomas tiba-tiba mengambil alih.


Polisi itu melepaskan pegangan bagasi dan kembali menghampiri Thomas.


"Kau liat apa ini?" Thomas menunjukan dua  buah emas batangan dengan berat 500 gram.


Polisi itu mendekati jendela mobil untuk melihat benda yang di pegang Thomas itu dengan lebih jelas.


"Anda akan di hukum jika mencoba menyuap seorang aparat negara" polisi itu bicara dengan wajah tanpa ekspresi, seakan ia memang aparat yang baik.


"Ehm, bagaimana jika ku tambah satu lagi"


Thomas masih berusaha untuk bernegosiasi, sambil menunjukan 3 kepingan emas batang.


Polisi itu tersenyum angkuh sambil melihat ke kiri dan kanannya.


"Jadikan 5 dan kau boleh lewat"


Thomas mengangguk paham dan mengambil dua lagi.


"Kau tahu caranya berbisnis" Thomas mengedipkan sebelah matanya dan menyerahkan emas batangan itu pada petugas polisi.


"Ya, dia bersih" petus polisi itu berteriak, lalu dua orang yang menjaga pembatas jalan segera membukakan portal.


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


"Kau harus mengganti emasnya, itu milik Tony!" Thomas berteriak kedalam lubang besar di bawahnya membuat gema yang berulang lebih dari 3 kali.


Aku membawa Minki menyusuri lorong di bawah klinik. Aku membawa berlari dengan lebih leluasa karena ia sudah berganti pakaian sebelumnya. Dari yang tadinya memakai bathrobe super sexy, menjadi baju kaos dan celana panjang milikku.


Aku tidak tahu kenapa ada lorong di bawah klinik bobrok milik Tony ini, tapi di saat genting seperti ini, terowongan tua ini sangatlah membantu.


Ku tebak sepertinya terowongan ini bekas saluran pembuangan yang sudah tidak lagi di pakai.


Thomas sebelumnya pernah kabur dari kejaran para rentenir memalui lorong ini. Menurut Thomas lorong ini mengarah tepat ke lautan, mungkin itulah alasan mengapa saluran ini di tutup, untuk mengurangi pencemaran lingkungan.


Polisi sudah di kerahkan ke berbagai tempat termasuk stasiun, terminal, bandara, juga pelabuhan, tidak ada lagi tempat untukku dan Minki lari. Jadi ini mungkin adalah cara satu-satunya yang aku dan Minki punya untuk bisa lepas drai kejadian polisi.


Sudah ada sebuah kapal kecil yang menungguku dan Minki di ujung saluran ini, ia akan membawa kami menuju kapal yang lebih besar, dan selanjutnya kami akan berlayar dan menuju negara lain.


Di tempat yang tidak mengenal kami, tempat dimana kami akan memulai hidup baru.


"Pelan-pelan"


Aku menyambut Minki yang meloncat turun ke kapal kecil sambil memegangi pinggang rampingnya.


"Kalian sudah siap?" nelayan pemilik kapal bertanya dengan nada suara tinggi.


Entah apa yang terjadi padanya di lautan, tapi wajahnya penuh dengan goresan yang tidak seharusnya ada.


"Mungkin dia dulunya seorang bajak laut" Minki berbisik pelan, saat kapal mulai berjalan meninggalkan daratan.


Aku hampir saja tertawa. Pada saat situasi seperti ini, Minki masih saja bisa melucu.


"Hentikan kapal, matikan mesin!"


Sebuah suara berdesis di sertai sirine membuatku terlonjak.


Aku tidak sadar ada kapal besar di depan, tidak jauh dari kapal kami.


Dari tulisan besar yang tercetak di badan kapal, dan juga bendera yang berkibar di atas junjungan, langsung bisa tahu bahwa itu adalah kapal patroli laut.


Habislah sudah.


"Kenapa kau berhenti!"


"Mereka menyuruh kita berhenti, aku tidak mau kapalku di tenggelamkan" Nelayan itu berucap santai, padahal aku sudah memberinya banyak uang.


Dalam keadaan kalut, aku tidak sadar bahwa Minki sudah menyeret nelayan itu ke pinggiran kapal lalu menendangnya hingga jatuh ke dalam air, dan aku hanya bisaelihat dengan tatapan takjub.


"Tunggu apa lagi, jalankan kapalnya, kita harus pergi dari sini"


Ucapan Minki menyadarkanku.


Aku tidak pernah mengemudikan kapal sebelumnya, tapi sepertinya ini cukup mudah.


Aku menyalakan kembali mesin yang belum sempat sepenuhnya mati, lalah dengan kecepatan penuh ku putar roda kemudi untuk menghindari kapal patroli yang mulai mendekat.


"Berhenti di sana atau kami tidak akan segan untuk menembak!" terdengar suara serius yang mengancam, tapi aku sama sekali tidak peduli.


Sebuah tembakan peringatan melundur ke air dekat dengan kapal yang aku tumpangi.


Seruan kembali terdengar, tapi aku tidak mendengarkan dengan jelas karena sibuk mengemudikan kapal.


Aku emndengat suara tembakan kedua, berbarengan dengan suara teriakan Minki.


Karena panik, aku langsung keluar dari anjungan dan melihat Minki jatuh ke air secara perlahan dengan luka tembak di dadanya.


Aku segera berlari mengampirinya, berusahan untuk meraih tangannya yang terulur tapi sayangnya, aku gagal.


Minki jatuh ke air, dan langsung tenggelam beberapa detik kemudian.

__ADS_1


__ADS_2