ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
39. MINKI


__ADS_3

Aku sedang berada di kamar mandi ketika seseorang dengan kasar mendobrak pintu rumahku.


Sudah lebih dari satu minggu sejak aku membunuh Matthew dan belasan anak buahnya, aku tidak merasa bersalah sedikitpun, dia pantas mati dengan cara mengenaskan sepeti itu.


Hari-hari berjalan seperti biasa. Mama awalnya sangat kaget, tapi dia cukup pengertian, dia tidak marah padaku, dan malah marah lada dirinya sendiri.


Mama merasa bahwa sifatku yang mengerikan ini adalah akibat dari trauma yang aku alami saat menyaksikan ia membunuh ayah tiriku.


Aku agak sedikit kesulitan untuk menenangkan mama, tapi aku berjanji padanya untuk tidak melakukan pembunuhan lagi, walaupun mama ragu tapi ia mempercayaiku.


Aku juga memang tidak punya niat untuk membunuh lagi. Aku sudah berjanji pada Johan. Matthew Gill adalah pengecualian, karena ia yang membuat masalah denganku terlebih dahulu.


Untuk menenangkan mama, aku mengirimnya unik liburan ke luar negeri, dan akan kembali di hari pernikahanku nantinya.


Johan mengajakku tinggal bersamanya saat mama tidak ada, tapi aku menolak, aku ingin menikmati hidupku sendirian sebelum akhirnya menikah.


Dengan segera aku keluar dari kamar mandi dengan bathrobe menutupi tubuhku yang masih setengah kering.


"Kau gila!!!" Aku tidak bisa menahan emosiku saat melihat Baekho berdiri di depan pintu yang terlepas.


Aku sangat ingin mencaci makinya.


Kenapa dia sangat tidak sabaran, dan malah menghancurkan pintuku.


"Kau yang gila!! Jelaskan padaku!!"


Baekho melemparkan amplop coklat ke arahku, aku tidak berhasil menangkapnya dan amplop itu jatuh ke lantai, aku berjongkok perlahan untuk memungutnya.


"Apa ini?" Ucapku bingung, sambil membuka amplop itu dan melihat isinya.


Apa yang membuat Baekho datang ke sini dengan amarahnya, dia bukan orang yang mudah marah, apalagi denganku.


Bukan hal yang baik ternyata.


Dia dalam amplop itu terdapat fotoku yang duduk memegang kapak berlumuran darah di depan mayat Matthew, fotonya tidak terlalu jelas, tapi siapapun pasti akan berpikir kalau itu memang aku.


Bukan hanya itu, di dalam amplop juga ada hasil tes DNA, dari darah yang di temukan di pakaian Kulkyung, dan DNA pembandingnya adalah darahku.


Sepertinya aku melakukan kesalahan yang fatal, saat aku mendorong Kulkyung dari atas gedung tanganku memang terluka karena tergores paku pada pagar pembatas atap, tapi aku tidak menyangka mereka akan membandingkannya dengan DNA ku.


Dan sialnya lagi, bukan hanya itu, ada lima sampel yang di bandingkan dengan DNA ku, termasuk wanita

__ADS_1


yang kakinya ku potong. Dan hasilnya positif sama 99.99%, aku tidak bisa berkelit lagi.


Padahal aku sudah berhati-hati dan menghilangkan jejak, aku pasti banyak melakukan kesalahan karena aku sangat marah.


Dan lagi siapa yang memberikan foto ini pada Baekho, aku yakin pasti ada seseorang yang sengaja melakukan ini, aku sudah di jebak dari awal.


"Bisa tolong jelaskan!" Baekho berteriak tak terkendali, aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya menunduk lesu tidak berani menatap Baekho, dia sangat kecewa padaku pastinya.


"Tolong yakinkan aku bahwa ini bukan perbuatanmu!" Baekho mengguncangkan tubuhku.


Ini pertama kalinya aku melihat Baekho menitikkan air matanya, entah dia marah, atau sedih, yang pasti dia merasa sangat terhianati.


Sepertinya aku harus menunda rencana pernikahanku dengan Johan, untuk waktu yang tidak dapat di tentukan.


"Aku minta maaf" ucapku pelan.


"Jangan minta maaf! Bukan kau yang melakukannya" Baekho coba menyangkal kenyataan yang ada di hadapannya.


Bukan salahnya terlibat dalam situasi seperti ini, aku yakin dia pasti datang ke sini untuk menangkap ku, tapi dia merasa berat karena aku sahabatnya. Aku sangat beruntung memilikinya.


"Kau tidak bersalah, kau pasti punya alasan untuk melakukannya"


Baekho meraih dan memelukku erat, dia masih tetap menangis seperti bayi, aku juga ikut menangis di pelukannya.


Aku menjulurkan kedua tanganku, sebagai isyarat kalau dia boleh memborgol ku dan membawaku ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku.


Aku bisa saja kabur, tapi kalau aku kabur, itu akan berakibat buruk untuk Baekho. Dia adalah temanku, dia bisa saja di tuduh berkomplot denganku, hidupnya tidak boleh hancur hanya karena melindungi psikopat sepertiku.


Baekho mengeluarkan borgol dan mencoba untuk memasangkannya ke tanganku. Ku lihat tangannya gemetar, dia tidak benar-benar berniat untuk memakaikannya padaku.


Aku menyentuh tangannya supaya dia bisa lebih tenang, tapi itu tidak membantu sama sekali, Baekho malah melemparkan borgol itu kelantai.


"Polisi akan segera kemari"


Aku menarik napas panjang untuk mempersiapkan diriku, bagaimanpun juga sebentar lagi aku akan berada di penjara, penjara bukan tempat yang mudah. Mungkin saja setelah persidangan pertama aku akan langsung di jatuhi hukuman mati. Itu memang hal yang pantas untukku.


Baekho mengambil pistol yang terselip di pinggangnya, dia melemparkan pistol itu padaku, aku berhasil menangkapnya tapi aku bingung, kenapa Baekho memberikan pistolnya padaku.


"Tembak aku sebelum mereka sampai di sini" ucap Baekho pasrah.


Seketika aku ternganga mendengar ucapan Baekho, dia tidak berniat mati untukku kan, aku tidak akan mungkin bisa menembaknya, seberapa pun kejamnya aku, dia tetap orang yang berharga untukku, mana mungkin aku menyakitinya.

__ADS_1


"Cepat tembak aku!!"


"Kau gila! Mana mungkin aku melakukannya!!"


Baekho yang kesal dengan tingkahku, merebut pistol yang ku pegang, dan mengarahkannya pada dirinya sendiri.


Suara tembakan keras terdengar, dan darah segar mengalir dari kakinya. Baekho menembak kakinya sendiri. Itu bukan tempat yang mengancam nyawa, tapi jika dia terus kehilangan darah, tetap saja dia juga akan mati.


Baekho melemparkan pistol yang di pegangnya ke sembarang tempat, dia menatapku nanar.


Aku segera mengambil taplak meja dan menutup lukanya, hanya itu yang terlintas di kepalaku saat ini, aku menekannya dengan kuat supaya dia tidak kehilangan banyak darah.


"Pergi, aku akan baik-baik saja" ucap Baekho sambil meringis menahan sakit.


Aku menangis keras sambil masih menekan luka di kakinya, kenapa Baekho sangat bodoh, kenapa dia melakukan hal gila semacam ini.


"Aku tidak akan kemana-mana" ucapku sambil terisak.


"Anggap kau telah melukaiku dan kabur, jangan sampai mereka menangkapmu, tenang saja aku tidak akan mati" ucap Baekho mengelus lembut pipiku.


Tangisku semakin meledak, aku akan sangat merasa bersalah jika meninggalkan Baekho dalam keadaan terluka seperti ini. Dia selalu melindungi ku tapi aku tidak bisa melindunginya.


Tiba-tiba muncul bayangan seseorang berdiri di depan pintu, terlalu silau, aku tidak bisa melihat itu siapa. Mungkin itu polisi yang sudah sampai ke sini untuk menangkap ku.


Bayangan itu mendekat lalu berjongkok di hadapan Baekho.


"Kau tidak apa?" Ucapnya khawatir.


Mungkin aku terlalu kalut akan perasaanku sampai aku tidak sadar bahwa itu adalah Johan, aku baru sadar setelah mencium aroma antiseptik dari tubuhnya. Ciri khas dari seorang Johan.


"Tidak, bawa Minki pergi, pergi yang jauh, jangan pernah kembali ke sini" Baekho memohon pada Johan dan di sambut Johan dengan anggukan.


Johan menariku untuk bangun, tapi aku bersikeras untuk tetap tinggal.


Pada akhirnya karena sifat keras kepalaku yang sama sekali tidak mau mengalah, Johan terpaksa menariku dengan aksara sampai-sampai tanganku terkilir.


Setelah berhasil mengunciku di dalam mobil, Johan kembali masuk ke dalam rumah.


"Kau harus ke rumah sakit" samar-samar ku dengar suara Johan yang berbicara pada Baekho.


"Saat polisi sampai di sini, mereka akan membawaku ke rumah sakit, tenang saja, jaga saja Minki, aku akan menghajarmu jika terjadi sesuatu padanya" pada saat-saat seperti ini Baekho masih sempat untuk mengancam.

__ADS_1


"Pasti" ucap Johan mantap sambil menepuk bahu Baekho.


Johan tersenyum penuh arti sambil meninggalkan Baekho yang terluka.


__ADS_2