
"Aku sudah bilang kan, aku dulu sangat populer di sekolah" ucap mama sambil meminum capuccino nya.
Rencananya hari ini aku akan memperkenalkan Johan pada mama. Johan mengajakku menikah, tentu saja aku harus mempertemukannya dengan mama.
Tapi sepertinya segalanya tidak sesuai rencana, mana aku tahu ternyata Johan adalah teman sekolah mama, umur mereka tidak berbeda jauh hanya selisih beberapa bulan, harusnya aku sadar.
Mama terlihat sangat senang saat bertemu Johan, dia tidak henti-hentinya mengoceh tentang masa sekolahnya, membuatku tidak punya kesempatan untuk memperkenalkan Johan sebagai kekasihku.
Sikap Johan juga cukup menggangguku. Saat pertama melihat mama dia langsung memeluknya, mama dan Johan pasti sangat dekat dulunya.
Bahkan sekarang, saat kami duduk bertiga di satu meja, Johan hanya fokus pada mama dan mengabaikan ku, seakan aku tidak ada.
"Johan ini dulunya adalah pacarku" ucap mama bangga sambil tersenyum padaku.
Wajah Johan langsung menegang, dia melirik ke arahku, dia pasti merasa tidak enak.
"Itu sudah sangat lama, hubungan kita sudah berakhir sekarang" ucap Johan mencoba untuk membuat mama diam.
"Tapi setalah di pikir-pikir, kita tidak pernah putus, apa jangan-jangan kau belum menikah sampai sekarang karena masih menyukaiku?" Mama menutup mulutnya berpura-pura kaget, lalu tertawa keras.
Aku ikut tertawa dengan terpaksa, begitu pula Johan.
Pacar, tentu saja, olah sebabnya Johan langsung memeluk mama awal bertemu tadi, itulah sebabnya Johan terlihat sangat senang sampai-sampai mengabaikan aku.
Kalau itu adalah wanita lain mungkin aku akan membunuhnya, tapi mama, aku bingung harus bereaksi seperti apa. Seletah mama mengatakan kalau Johan adalah pacarnya, mana mungkin aku juga mengatakan kalau Johan adalah pacarku, itu akan melukai hati mama.
"Baiklah, kita resmi putus hari ini kalau begitu" ucap Johan bercanda.
"Seharusnya aku yang memutuskanmu" ucap mama kesal.
"Kau tidak mau menikah?"
"Aku sudah menikah"
"Dan, dimana pria yang beruntung itu?"
"Aku membunuhnya, itulah kenapa aku berada di penjara selama 13 tahun" ucap mama lirih.
"Hidupmu kacau sekali" Johan menekan pelipisnya.
__ADS_1
Apa yang harus ku katakan pada Johan, padahal aku mengaku kalau ibuku bekerja di luar negri, bukannya
berada di penjara. Johan pasti menganggap ku seorang pembohong.
"Di mana pacarmu kenapa dia lama sekali?" Mama memandangku, mama masih belum tahu bahwa pacarku sekarang tepat berada di hadapannya.
"Aku..." Johan sudah mau mengaku tapi aku menahannya.
"Dia tidak jadi datang, dia tiba-tiba sibuk" ucapku lesu.
"Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku mantan narapidana? Aku mengacaukan hidupmu lagi, maaf" mama menggenggam tanganku, dia merasa bersalah tanpa alasan.
Mama memang suka bersikap berlebihan, dia menyalahkan dirinya sendiri atas hal buruk yang terjadi dalam hidupku, dia terus menerus meminta maaf atas kesalahan yang aku lakukan. Mama tidak harus melakukan itu.
"Tidak, dia benar-benar sibuk"
Mama mengangguk tanda mengerti, dia melepaskan tanganku dan kembali mengobrol dengan Johan.
Johan menatapku dengan tanda tanya besar tercetak di wajahnya. Aku punya alasanku sendiri, aku akan menjelaskan padanya nanti.
"Jong, kau tahu anakku sebentar lagi akan menikah, dia punya pacar seorang dokter, dan lagi seorang direktur di rumah sakit, bisa kau bayangkan itu? Aku akan punya menantu seorang dokter" ucap mama bersemangat membanggakan ku pada Johan.
"Dia sangat cocok untuk anakmu yang cantik" Johan tersenyum senang, secara tidak langsung dia sedang memuji dirinya sendiri.
"Dia pasti sangat tampan"
"Ya, Minki bilang dia memang sangat tampan. Sebenarnya aku tidak percaya diri untuk bertemu dengannya hari ini, bagaimana kalau dia meremehkan anakku karena punya ibu tidak berkompeten sepertiku, aku terlihat seperti gembel kan?"
"Kau cantik, masih sama seperti dulu" Johan menyentuh wajah mama dengan jari telunjuknya "tapi kemana perginya pipimu yang mirip bakpau?"
Agh brengsek, kenapa mama dan Johan malah bermesraan di depanku.
Aku bingung, apa aku harus sedih atau senang. Aku sedih karena Johan bersikap sangat manis bukan hanya denganku, dan aku senang mama kelihatan sangat bahagia.
Apa aku harus mundur?
☠☠☠
Aku melemparkan tubuhku kasar ke atas kursi kerja Chaerin. Kevin yang sedang tertidur di sofa kaget dan bangun mendengar keributan yang ku sebabkan
__ADS_1
"Hei aku sedang tidur siang!!" Kevin meneriaki ku dengan kasar, biasanya aku tidak tersinggung, Kevin sudah biasa berteriak padaku.
Aku bangun dan menatapnya tajam, mood ku sedang kurang bagus, tidak seharusnya dia memulai perkelahian denganku.
"Kenapa? Johan berselingkuh?" Ucapan Kevin langsung menubruk ke ulu hatiku.
Sebenarnya Johan tidak berselingkuh, hanya saja, aku bingung dengan perasaanku, aku harus memilih salah satu. Melepaskan Johan untuk mama, atau menjadi egois untuk kebahagian ku sendiri.
"Menurutmu bagiamana mamaku?" Aku duduk di samping Kevin. Dia terlihat belum terlalu sadar dari
tidurnya.
"Dia pintar memasak" ucap Kevin sambil menguap, matanya yang sipit makin terlihat sipit ketika bangun tidur.
Tidak heran Kevin berkata begitu, aku pernah mengundang Kevin dan Baekho untuk makan malam, dan benar, masakan mama sangat enak.
Selesai makan malam di tempatku Kevin mendapatkan kenaikan berat badan yang lumayan besar, kalau Baekho tidak usah di tanya, semua makanan yang masuk ke mulutnya akan berubah menjadi otot dalam sekejap.
"Bukan, maksudku, apa mamaku cantik?"
Kevin memandangku heran, tidak seperti biasanya aku bertanya hal semacam ini pada Kevin.
"Untuk ukuran wanita berumur di atas 40, dia sangat cantik" ucap Kevin mantap.
Aku tidak terkejut dengan jawabannya, Kevin adalah tipe orang akan menyebutkan kata cantik dengan mudah.
"Aku serius" ucapku sambil mengepalkan tinjuku.
"Aku juga serius, bahkan wajah cantikmu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengannya" ucap Kevin kesal, karena aku tidak percaya dengan ucapannya.
Dia kembali berbaring dan meletakan kepalanya di atas pahaku. Hanya butuh satu menit sampai Kevin tertidur kembali.
Aku menyenderkan tubuhku ke sofa sambil menengadah ke atas.
Mungkin aku sudah gila, tapi sepertinya Johan tidak akan keberatan karena mama sangat cantik, dan lagi mereka pernah berpacaran sebelumnya, Johan juga sangat peduli pada mama, mereka akan cocok bersama.
Tidak ada alasan untukku tetap berada di samping Johan. Bagaimanapun mama berada di peringkat teratas prioritas hidupku, sudah sepantasnya aku mengalah.
Pria di dunia ini bukan hanya Johan, aku masih bisa bertemu pria lain yang sama baiknya suatu hari nanti, aku juga masih muda, aku punya banyak kesempatan.
__ADS_1
Aku akan menjauhi Johan mulai sekarang.
Aku menutup mataku untuk menenangkan diri, tidak terasa air mata jatuh membasahi pipiku, untung Kevin sedang tidur jadi dia tidak melihatnya, kalau tidak mungkin dia sudah menertawakan ku.