
"Kau terlihat kacau, sakit?"
Alih-alih memeriksa keadaanku, Baekho malah mendorong kepalaku, di pikirnya kepalaku ini sejenis bola, seenaknya saja, kalau aku tiba-tiba bodoh bagaimana?
Aku mendesis kesal, ku raih rambutnya dan ku tarik dengan kuat untuk membalasnya, aku harus membalasnya supaya tidak jadi kebiasaan.
Baekho tertawa nyaring, sambil meminta ampun padaku, aku bertanya-tanya di mana letak lucunya sampai dia harus tertawa sekeras itu.
Aku melepaskan kepalanya dari cengkramanku dengan kasar, suasana hatiku sedang buruk dan tingkahnya malah membuatnya semakin buruk.
"Aku yakin kau sangat sehat" ucap Baekho masih sambil tertawa.
"Begitu caramu memeriksa kesehatan temanmu huh!" Aku mengangkat tangan pura-pura ingin memukulnya.
Tapi dia malah kembali tertawa.
"Fisikku memang sehat, tapi terlalu lama berteman denganmu merusak kejiwaanku"
"Aku kan cuma bercanda" Baekho merangkul bahuku akrab.
Sudah satu bulan lebih sejak Kevin pulang dalam keadaan babakbelur, aku masih belum tahu siapa pelakunya, Johan juga tidak mengatakan apapun padaku, dia menutup mulutnya rapat, mungkin Kevin sudah membayarnya supaya dia tutup mulut.
Hubunganku dengan Kevin juga tidak terlalu baik, dia masih tetap marah, ini rekor terbaru perkelahian kami yang berlangsung lebih dari sebulan.
Aku bisa saja datang padanya lebih dulu dan minta maaf, juga menuruti permintaannya untuk tidak lagi membunuh. Tapi aku tidak bisa.
Bagi sebagian orang hobi gilaku ini memang layak untuk di hentikan, tapi tidak semudah itu.
Sama seperti pecandu narkoba, sangat sulit berhenti kalau sudah memulainya, seperti itulah aku.
Jadi, tidak terima kasih, walaupun itu permintaan Kevin, aku tetap tidak bisa, lain hal kalau yang memintaku itu Johan, mungkin aku akan berfikir ulang.
"Ayo makan, ini sudah jam makan siang" suara Baekho menyadarkanku, saat bekerja tidak seharusnya aku memikirkan hal lain, tapi fokusku terbagi.
Pada Johan, Kevin, dan juga Chaerin, masalah yang sebenarnya di mulai kemarin malam, saat aku menerima telpon dari Chaerin.
"Maaf, aku harus pergi" aku menepis tangan Baekho dari bahuku, dan langsung pergi.
Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai di tempat tujuanku. Tempat tinggal Chaerin, rumah jagal hewan.
Aku membunyikan klakson dengan membabi buta, cukup lama aku berada di depan pagar sampai akhirnya
__ADS_1
seorang pria keluar dan membukakan pagarnya untukku.
Aku bisa saja menabrakan mobilku, tapi orang-orang sekitar pasti akan heboh dan akan ada masalah besar. Pekerjaan kotor Chaerin mungkin akan terbongkar.
Aku menggebrak pintu ruang kerja Chaerin dengan kasar tanpa mengetuk.
Ku lihat Chaerin sedang duduk berhadapan dengan seorang pria, mungkin umurnya sudah kepala empat, atau mungkin lebih, wajahnya masih terlihat sangat segar seperti masih berumur 40an, tapi di lihat dari kulit tangannya yang kendur mungkin dia sudah 50 tahun keatas.
"Beraninya kau! Keluar, aku sedang ada pembicaraan penting!" Chaerin menatapku tajam, seakan-akan ingin mencabik-cabik tubuhku hanya dengan tatapannya.
"Kita harus bicara!" Aku meninggikan suaraku berharap dia memberiku perhatian lebih.
"Ku bilang keluar!" Dia mulai meneriakku
"Chaerin!!" Aku balas berteriak sambil menarik tangannya kasar.
"Apa kau minki? Nona Chae banyak bercerita tentangmu, bagaimana kau membantu bisnisnya" pria yang sedari tadi duduk, berdiri, melepaskan tanganku yang memegangi Chaerin dan membuatku bersalaman dengannya.
"Aku Ronan, senang bisa bertemu denganmu" aku terpaksa menyambut tangannya, genggamannya sangat kuat, aku kesulitan untuk melepaskan tanganku darinya.
"Cckk pria tua kurang ajar" ucapku kesal setelah berhasil melepaskan tanganku.
"Kalian mungkin butuh waktu untuk bicara, aku akan kembali lagi besok nona Chae" ucap Ronan sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Baiklah, sampai bertemu lagi" Chaerin mengantar Ronan sampai ke depan pintu, melambai seperti wanita murahan, lalu menutup pintu kembali.
Menyisakan kami berdua yang saling menatap kesal.
"Ibuku, di eksekusi mati hari ini, dia mendekam di penjara selama dua puluh tahun, menerima hukuman dari kejahatan yang tidak pernah di lakukannya" ucap Chaerin getir, air mata tergenang di pelupuk matanya.
"Kau tidak harus melakukan ini, pikirkan baik-baik!"
Aku meraih tangan Chaerin dan menggenggamnya erat, aku tahu betul seberapa terlukanya dia.
"Aku bertahan hidup dengan tujuan yang jelas, yaitu menyeret si brengsek yang memfitnah ibuku ke depan hakim, dan membuatnya membayar perbuatannya. Tapi tidak bisa, kedudukannya yang tinggi membuatku tidak bisa menyentuhnya" Chaerin duduk di kursinya lemah.
"Aku tahu, kau sudah cukup berusaha selama ini" ucapku parau, aku juga hampir menangis.
"Ini cara satu-satunya"
"Kau tidak harus bergabung dengan Ronan, bergabung dengan mafia sekelas Ronan, bukan keputusan yang baik" aku mencoba meyakinkan Chaerin untuk mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Selama ini Chaerin selalu berhubungan dengan Ronan. Dia adalah penadah organ yang selama ini di dapatkan
oleh Chaerin.
Aku hanya mendengar namanya beberapa kali, dan ini adalah kali pertama aku bertemu dengannya langsung, dia terlihat seperti pria tua biasa, orang-orang mungkin akan berfikir kalau dia pria yang lemah, tapi pada kenyataanya dia orang yang sangat berbahaya.
Dia bisa jadi lebih kejam dari pada aku. Dari cerita yang ku dengar dari Chaerin. Ronan hanya bawahan, masih ada lagi atasan yang lebih berkuasa.
Pimpinan yang sebenarnya dari organisasi mafia Gold Dragon nama panggilannya adalah GD, singkatan dari
nama organisasinya.
Dia sangat mengerikan, semua orang yang bekerja di bidang yang sama pasti tahu siapa dia.
Bukan hanya mendapatkan organ dari para penjual organ seperti Chaerin, dia juga berani menculik dan mencuri organ dari sembarang orang dengan cara ilegal, lalu menjualnya di pasar gelap dengan harga tinggi.
Menurut kabar yang beredar GD juga memiliki perusahan raksasa pengembang alat kedokteran dan juga obat-obatan legal, dan tentu saja dia juga memproduksi obat-obatan ilegal dan berbahaya.
Itulah tujuan Chaerin, bekerja di bawah GD, dan mencapai puncak, untuk membalas dendam.
Aku tahu selama ini Chaerin hidup dengan rasa sakit akibat kepergian ayahnya, dia juga harus kehilangan
ibunya di usia sepuluh tahun.
Ibunya di tangkap dan di penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana pada atasannya dan penggelapan dana perusahaan tempatnya bekerja.
Bukan seperti ibuku yang hukumannya lebih ringan karena pembunuhan untuk membela diri, ibu Chaerin harus menerima hukuman mati, dan itu hari ini.
Aku memeluknya, mencoba untuk menenangkannya, penderitaannya selama ini mungkin tidak sebanding denganku, itulah kenapa kami bisa akrab, kami berbagi penderitaan yang sama.
Hidup tanpa orang tua, tapi aku masih beruntung, karena sebentar lagi ibuku akan bisa bebas.
"Bagaimana kalau Ronan menghianatimu? Bagaimana kalau pimpinannya yang bernama GD itu malah
membunuhmu, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang pernah melihat wajah aslinya! Jangan lakukan, aku tidak mau kehilanganmu" aku memeluknya sambil menangis seperti bayi, Chaerin sudah seperti saudaraku sendiri.
"Jaga dirimu dengan baik. Dan ini hanya saran, lebih baik hentikan hobi gilamu untuk membunuh" ucapan Chaerin seketika membuatku teringat pada Kevin, kenapa semua orang malah menyuruhku berhenti.
"Hei, jangan bicara omong kosong!" Aku melepaskan pelukanku pada Chaerin.
Chaerin tertawa geli sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Mungkin itu tawa terakhir yang ku lihat darinya.