
Aku meraih hp yang ada di saku jaketku dan mulai menekan mencari nomer Kevin.
Api sudah mulai membesar dan aku terjebak di ruang bawah tanah ini, aku harus minta tolong padanya, kalau tidak aku juga akan mati terpanggang.
Aku merapatkan diriku ke dinding menghindari api yang mulai mendekat dan ruangan ini juga sudah di penuhi asap, membuatku sulit bernafas.
"Kenapa baru mengangkat telpon! Kau ingin membalasku tentang yang tadi pagi heh!!" Aku senang akhirnya Kevin mengangkat telponnya setelah sekian lama, tapi aku juga harus mengomelinya terlebih dahulu.
"Maaf aku ketiduran, kau sudah selesai?"
"Sudah! Tapi aku terjebak di sini, aku membakar sesuatu dan aku melupakan diriku sendiri, selamatkan aku"
Aku berbicara selembut mungkin, itu senjata terampuh cewek untuk meminta sesuatu dari seorang cowok. Walaupun aku agak jijik juga dengan diriku sendiri, kenapa juga harus bersikap lembut pada Kevin.
"Apa kau bisa menjangkau lemari di pojok sebelah kanan?"
Aku melihat sekelilingku dan ya, memang ada lemari di pojok kanan, dan aku bisa menjangkaunya karena di sana tidak terjamah api.
"Iya aku bisa menjangkaunya"
"Di dalam lemari itu ada respirator mask, kau bisa memakainya supaya tidak terhirup asap"
"Bagaimana dengan apinya?!" Aku mulai panik, bagaimana tidak panik kalau Kevin sangat santai bicara di telpon padaku, sepertinya dia memang ingin aku mati di sini.
"Di dinding dekat lemari ada tombol warna merah, tekan saja itu" lagi-lagi Kevin menjawab ku santai.
Setelah memakai masker aku mencari-cari di mana tombol merah itu berada, saat menemukannya aku langsung menekannya dengan sekuat tenaga, hidupku tergantung pada tombol merah sialan ini sekarang.
Seketika air menyembur dari arah atas, aku merasa seperti di guyur hujan, tapi ini terjadi di dalam ruangan, seketika api berhenti dan aku bisa menuju tangga untuk keluar.
Hebat juga Kevin bisa-bisanya dia terpikir untuk memasang sprinkle pemadam otomatis di ruang bawah tanah ini. Ku akui dia memang pintar untuk ukuran orang yang menghabiskan waktu 7 tahun untuk bisa lulus kuliah.
Aku segera berlari keluar gubuk tua reot ini dan juga aku ingin segera keluar dari hutan, sambil mengingat-ingat jalan mana yang ku ambil saat datang tadi.
Akhirnya aku menemukan jalan yang tepat, aku melihat Rubicon merah milik Kevin sangat menonjol di balik rimbunnya dedaunan hijau.
Ku lihat Kevin berdiri bersandar di depan mobilnya mengenakan kacamata hitam, dia pikir dia keren, menurutku sih dia lebih terlihat seperti tukang pijat tunanetra.
Kevin membentangkan tangannya menyambut kedatanganku, bukannya memeluknya aku malah memukul kepalanya dengan keras menggunakan tanganku, masih untung aku tidak memukulnya dengan kunci Inggris.
"Harusnya aku dapat pelukan dan ucapan terima kasih, bukannya pukulan!!" Kevin memegangi belakang kepalanya yang berdenyut.
"Aku hampir mati tadi, kenapa tidak bilang kalau ada tombol pemadam otomatis di sana! Kau sengaja ingin membunuhku yaa!!" Aku sangat kesal dan beberapa kali memukuli lengannya dengan tinju kecil.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengan seorang Minki meminta pertolongan, aku sudah merekam ucapanmu di telpon barusan" Kevin tertawa geli, wajahku memanas dan berubah menjadi merah, ini sangat memalukan, di mana sebaiknya aku meletakan wajahku.
"Ternyata walaupun mengerikan, kau ini tetap cewek yang harus di lindungi" sekali lagi Kevin tertawa ,dan mencubit pipiku gemas.
Aku menendang kakinya, itu cukup untuk membuatnya mengaduh kesakitan. Siapa suruh dia berani menertawai ku.
Aku masuk lebih dulu ke dalam mobil sedangkan Kevin masih memegangi kakinya sambil melotot ke arahku.
Tak berapa lama Kevin
menyusul ku masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin, aku ingin segera pulang
ke rumah dan mandi. Badanku lengket dan bau anyir darah, tubuhku juga kotor
seperti di coret-coret dengan arang karena kebakaran itu, aku yakin aku sangat
jelek sekarang.
Sepanjang perjalanan Kevin masih saja tertawa, aku ingin marah tapi apa yang di tertawakannya semuanya benar.
"Kau tahu satu-satunya cowok yang kau berikan padaku untuk jadi mainanku itu?"
"Yup, kenapa?"
Kata-kata ku sukses membuat Kevin terdiam, sepanjang perjalanan pulang Kevin tidak berani mengajakku bicara lagi, hanya sesekali melirik ke arahku.
☠☠☠
Bel berbunyi dan aku langsung lari untuk membukakan pintu, aku punya janji dengan Baekho.
Saat aku pindah kembali ke negara kelahiran ku ini, Baekho adalah teman pertamaku, kami berada di panti asuhan yang sama selama dua tahun, setelah itu Baekho di adopsi oleh pasangan suami istri yang sangat baik. Orang tua angkatnya bahkan menganggap ku sebagai anak mereka sendiri.
Saat di panti asuhan aku sering sekali kabur ke rumah Baekho, sampai-sampai orang tuanya ingin mengadopsi ku juga, tapi aku menolak mati-matian. Aku kan masih punya mama.
"Ayo masuk" aku menyambut Baekho yang datang membawakanku sekotak cake, aku yakin itu pasti cheese cake, aku sudah bisa mencium baunya dari jarak sepuluh meter.
Cheese cake adalah hal yang ku suka selain darah dan teriakan kesakitan.
"Kau baru mandi?" Baekho mengusap rambutku yang masih basah dan meneteskan air.
"Aku baru bangun tidur" ucapku berbohong.
Tidak mungkin kan aku bilang pada Baekho bahwa aku habis datang dari hutan dan membunuh tiga orang sampah kampus sekaligus.
__ADS_1
Di mata Baekho aku ini cewek baik-baik yang alim, sopan, naif dan kekanakan. Hanya Kevin dan satu lagi temanku Chaerin yang tahu sifat asliku.
Aku tidak punya niat sedikitpun untuk jujur pada Baekho. Baekho itu seorang polisi, yang ada aku malah di tangkap dan di penjarakannya. Dan lagi Baekho itu satu-satunya orang yang kukenal dengan pikirnya yang sangat lurus.
Saat dulu aku bolos sekolah, Baekho akan mengomeli ku seharian. Saat aku berbohong bahwa aku hanya mengambil dua gorengan padahal aku makan lima, Baekho dengan baik hatinya pergi ke kantin dan minta maaf atas namaku.
Pokoknya aku tidak boleh ketahuan melakukan hal buruk kalau tidak ingin ketenangan ku rusak karena omelannya, belum lagi saat sifat cerewetnya kumat.
"Cewek kok bangunnya siang, pantas saja kau belum punya pacar sampai sekarang" dan sifat cerewet Baekho pun di mulai.
"Apa hubungannya dengan pacar, aku kan cuma menikmati hari liburku" aku mendengus, kenapa harus bawa-bawa pacar sih.
"Kapan mama mu bebas?"
Baekho mengalihkan pembicaraan, lebih baik di alihkan sebelum kami bertengkar tentang siapa yang lebih laku, kami sering bertengkar karena hal sepele seperti itu, dan selalu saja Baekho yang memulainya.
"Beberapa bulan lagi, sebentar lagi aku akan bisa tinggal dengan mama"
Baekho tersenyum mendengar ucapanku, dia pasti juga sangat senang, karena ini kabar baik. Dari dulu Baekho itu selalu saja ikut campur dalam segala urusanku.
Jadi dia akan menangis saat aku sedih, dia juga akan merasa tertekan saat aku stres, dia akan tertawa saat aku senang. Bukan seperti Kevin yang akan tertawa paling nyaring saat melihat aku menangis, tadi saja dia menertawakan ku. Si brengsek itu memang sesuatu.
Baekho sama sekali tidak terganggu dengan kenyataan bahwa ibuku adalah seorang pembunuh dan sekarang
berada di dalam penjara, lagipula alasan ibuku membunuh juga untuk melindungi ku.
Baekho sering sekali berkata kalau dia sangat iri padaku karena punya mama yang sangat sayang padaku, bukan seperti orang tua kandungnya yang tega membuangnya ke panti asuhan saat bayi.
"Jadi kau suka bekerja di kantor polisi?" Tiba-tiba Baekho bertanya.
Aku memang sudah satu bulan bekerja di kantor polisi yang sama dengan Baekho sebagai psikolog forensik.
Karena memang aku kuliah di jurusan psikologi kriminal, aku membantu
menganalisis pelaku kejahatan dan melakukan profiling.
Pekerjaan yang sangat mudah menurutku, karena aku tahu betul apa yang ada di pikiran mereka saat melakukan, kejahatan, itu hanya berkisar masalah dendam, ketidak sengajaan, atau memang kelainan kejiwaan, seperti aku.
Saat aku menyusun tesis untuk S2 ku, aku menjadikan diriku sendiri sebagai objek penelitian, tapi tentu saja aku tidak menulis namaku secara terang-terangan.
"Sangat suka"
Aku tersenyum lebar dan lalu merebut sepotong cheese cake dari tangan Baekho, aku langsung memakannya dengan lahap diiringi tatapan kesal dari Baekho.
__ADS_1