ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
33. JONGHYUN


__ADS_3

Entah kenapa selama berhari-hari Minki tidak bisa di hubungi, aku coba untuk menemuinya di rumah, tapi dia selalu tidak ada.


Dia mulai berubah setelah pertemuanku dengan Minji, apa aku melakukan kesalahan tanpa ku sadari?


Dia hanya mengirimkan pesan untuk tidak menghubunginya lagi, bukankah itu aneh. Seakan-akan dia sedang minta putus dariku.


Aku sangat merindukannya, bagaimana bisa aku bertahan, biasanya dia selalu mengirimkan pesan padaku, mengingatkan ku untuk makan, dan sekedar basa basi membahas hal tidak berguna.


Ku akui, aku memang agak mengabaikan Minki waktu itu, tapi bukan berarti aku tidak perduli, aku hanya terlalu senang bertemu dengan Minji setelah bertahun-tahun.


Rasa bersalahku karena tidak berhasil menyelamatkannya waktu itu langsung lenyap entah kemana, saat melihatnya baik-baik saja.


Dan lagi kami hanya teman, dulu kami memang berpacaran tapi bukan untuk serius, aku dan Minji pura-pura berpacaran untuk menghindarkan Minji dari para fans fanatiknya.


Dia sangat cantik sampai-sampai hampir semua anak laki-laki di sekolah jatuh cinta padanya. Aku sudah berteman dengannya sangat akrab, entah kenapa perasaanku tidak bisa berkembang lebih dari teman.


Aku khawatir Minki merasa terganggu dengan lelucon yang di lontarkan Minji waktu itu, tentang aku dan dia berpacaran. Minki anak yang sangat sensitif, dia mungkin akan berfikiran buruk tentangku dan Minji.


Aku sedang mencoba fokus memeriksa riwayat para pasien, tapi rasanya sangat sulit, wajah Minki yang sedang menangis terus berputar-putar di dalam kepalaku, anak itu, apa dia baik-baik saja?


Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan ku di ketuk, Minji muncul dengan wajah sumringah, tanpa ku persilakan dia masuk dan duduk di depanku. Sama seperti dulu, dia memang selalu seenaknya sendiri.


"Aku membawakan mu makan siang" Minji menunjukan kotak bekal yang di bawanya.


"Jangan terlalu sering datang ke sini" ucapku acuh.


Aku tidak ingin Minki salah paham kalau melihatnya.


"Iya aku tahu, kau sebentar lagi menikah kan, kau tidak ada niat untuk memperkenalkan ku dengan calon istrimu?" Minji menatapku dengan mata bulatnya, setelah di lihat lebih dekat, ternyata wajahnya cukup mirip dengan Minki, apalagi matanya.


"Kau sudah mengenalnya"


"Dia, teman satu sekolah kita?" Minji mulai antusias, tapi aku tidak menggubrisnya.


"Boleh aku bertanya satu hal? Kau dokter yang selama ini menangani Minki, termasuk saat transplantasi jantungnya, boleh aku tahu, dari mana kau mendapatkan jantung itu?" Tanpa basa-basi Minji melontarkan pertanyaannya.


Aku berdecak kesal, aku sama sekali tidak ingin membahas masalah itu, tidak ada sedikitpun niat untuk mengatakan kebenarannya. Itu adalah kejahatan pertama yang ku lakukan, mana mungkin aku mengakuinya.


Aku kembali menyibukkan diri dengan berkas di hadapanku, dan mengabaikan pertanyaan Minji.

__ADS_1


"Ini hanya tebakanku, tapi ku harap ini benar. Minki memiliki darah langka dengan resus negatif, jadi sangat sulit menemukan pendonor untuknya, apa jantung itu milik si brengsek yang dulu menculik ku?"


Aku menghentikan kegiatanku menulis, dan meletakan pulpen setengah membanting, aku tidak tahu bahwa Minji akan sampai pada kesimpulan itu.


Memang benar, jantung yang ku berikan pada Minki adalah milik ******** yang menculik dan memperkosa Minji 25 tahun yang lalu.


Aku tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya memandang Minji.


"Di lihat dari ekspresi mu, sepertinya itu benar" Minji tersenyum getir "baguslah itu artinya dia sudah mati" sambungnya lagi.


"Ya kau tidak perlu khawatir" jawabku datar.


"Apapun yang terjadi, walaupun kau harus mati, jangan pernah katakan hal ini pada Minki, dia mungkin akan sangat marah dan merobek dadanya sendiri, mengeluarkan jantung si brengsek itu dari tubuhnya"


Yang di ucapkan Minji sangat masuk akal, Minki sangat dendam pada pria yang dulu menghancurkan hidup


mamanya itu, dia pasti sidak akan rela jantung ******** itu berdetak di dalam tubuhnya.


"Aku memang tidak ada niat sedikitpun untuk mengatakannya, tenang saja"


Minji menggenggam tanganku dan tersenyum hangat. Sangat terlihat Minji sangat menyayangi anaknya, dia ibu yang sangat baik, aku iri.


"Aku punya satu permintaan lagi, bisa kau mengabulkannya?" Ucap Minji penuh harap.


"Aku mengidap Multiple Myeloma"


Sekali lagi aku menjatuhkan pulpenku, aku tersandar di kursi dan menatap Minji penuh pertanyaan.


"Kau serius?" Ucapku tidak percaya, mungkin saja Minji hanya bercanda, tapi ini sama sekali tidak lucu.


Minki menyerahkan amplop berwarna coklat padaku.


"Aku melakukan pemeriksaan kesehatan saat masih di dalam penjara, seminggu sebelum aku di bebaskan. Hasilnya cukup mengejutkan"


Untuk ukuran orang yang di diagnosa mengidap kanker, dia terlalu tenang.


"Myeloma bukan keahlian ku, aku akan mengatur pertemuanmu dengan ahli onkologis terbaik di rumah sakit ini, jangan khawatir"


Aku menekan pelipisku, nasib Minji memang sangat tidak beruntung, baru saja bebas dari penjara, dan

__ADS_1


dia di diagnosa menderita kanker. Kalau aku jadi dia mungkin aku akan bunuh diri, dari pada hidup menderita di dunia yang kejam ini.


"Aku tidak berharap banyak dengan pengobatan, permintaanku bukan itu"


Aku memandang Minji heran, kalau bukan masalah penyakitnya lalu apa, apa yang akan di mintanya kepada


seorang dokter sepertiku?


"Tolong jaga Minki untukku, saat nanti aku tidak ada" ucap Minji, dia tertunduk lesu.


Bahkan saat dirinya hampir mati sekalipun, yang ada di pikirannya hanya Minki, seharusnya dia memikirkan dirinya terlebih dahulu sebelum orang lain.


"Kau akan baik-baik saja" ucapku menghibur.


"Dokter bilang, Meraka belum menemukan cara untuk mengobatinya, aku harus melakukan kemoterapi dan


juga transplantasi stem cell, itu pun tidak menjamin"


"Setahuku kau bukan tipe orang yang akan cepat putus asa, keajaiban mungkin terjadi" aku


menggenggam tangan Minji untuk memberinya kekuatan, sebenarnya aku juga tidak yakin dengan apa yang aku ucapkan.


"Satu-satunya keajaiban yang terjadi dalam hidupku adalah saat Minki lahir, tubuh kecilnya yang rapuh dan tangisannya, memberiku kekuatan untuk bertahan hidup sampai hari ini, itu sebabnya tolong jaga dia untukku" Minji menatapku dengan mata sendunya, aku jadi sedih di buatnya.


"Kenapa harus aku?"


"Bukannya pria yang ingin di kenalkan oleh Minki padaku hari itu adalah kau?" Ucap Minji dengan senyum meledek.


"Sejak kapan......"


"Baru tadi pagi, saat aku membersihkan kamarnya, aku menemukan foto kalian berdua di kolong tempat tidurnya, entah kenapa di sembunyikan di bawah sana"


"Eemmm" aku hanya bergumam, Minji ternyata tahu segalanya, padahal aku berniat untuk mengakuinya.


"Aku tidak keberatan, yah walaupun perbedaan usia kalian sangat mencengangkan"


"Bisa kau bicara pada Minki? Dia menghindari ku selama beberapa hari, ku rasa dia salah paham tentang


hubungan kita" ucapku lesu.

__ADS_1


"Kita?!"


Berbanding terbalik dariku, Minji malah tertawa, padahal bagiku ini adalah masalah yang gawat. Hubunganku dan Minki terancam.


__ADS_2