ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
8. MINKI


__ADS_3

Dasar tidak tahu diri, berani-beraninya dia menolakku dengan alasan dia masih mencintai pacarnya yang tua dan jelek itu. Seharusnya dia bersyukur aku yang sempurna ini suka padanya.


Kalau atau tidak sangat mencintainya, mungkin aku akan membunuhnya saat itu juga. Ini menghancurkan harga diriku, bagaimana aku akan menghadapi dunia, orang-orang mungkin akan menghinaku karena aku, cewek yang paling cantik di kampus, bahkan setiap harinya ada saja yang menyatakan cinta padaku, baru saja di tolak oleh seorang pria berumur 41 tahun, sangat memalukan.


Aku mempercepat laju mobilku mencapai 180 km/jam, ini sudah lewat dari tengah malam, jalanan sudah sangat sepi, hanya ada satu dua mobil yang melintas di sekitarku.


Aku memandang ke sebelah kiri dan kulihat seorang polisi dengan motor besarnya mengetuk-ngetuk kaca mobilku, memintaku untuk menepi.


Kenapa di saat seperti ini aku malah harus berurusan dengan polisi lalulintas.


Dengan marah terpaksa aku menghentikan mobil, dan keluar.


Polisi yang ada di hadapanku memandang ke arah bawah, di lihatnya kakiku yang menapak aspal yang dingin tidak memakai alas kaki.


"Kau baik-baik saja nona?"


"Ya" jawabku singkat.


"Kau melanggar batas kecepatan, tolong tunjukkan SIM mu"


Aku menatapnya tajam, saat seperti ini sepertinya akan sangat baik kalau aku melampiaskan kekesalanku. supaya stes ku sedikit berkurang.


Aku berbalik, membuka pintu mobil berpura-pura ingin mengambil SIM, tapi aku malah mengambil pisau dari dalam dasbor mobil.


Aku kembali menghadap polisi lalu lintas itu dengan senyum penuh arti, dia juga tersenyum ramah.


Itu akan jadi senyum terakhirnya sebelum akhirnya mati di tanganku.


Aku mendekatinya perlahan, dan aku menusuknya tepat di perutnya, aku memutar pisauku membuat isi dalam perutnya porak poranda, dia menatapku terkejut tanpa bisa melakukan apa-apa, matanya melotot dan berair, mulutnya ternganga, dengan tangan kanannya memegangi perutnya.


Aku menghujamkan pisauku semakin dalam, dan menggerakkan pisauku ke arah kanan, merobek perutnya hingga ususnya terburai keluar.


Polisi itu roboh tak sadarkan diri, dia sudah mati, mati dengan menyakitkan.

__ADS_1


Itulah balasan untuk orang g yang berani menggangguku.


Dalam kehidupanku sehari-hari aku memang kelihatan sangat lemah, dan lugu, tapi pada kenyataannya aku sangat kuat. Aku menyerat polisi bertubuh dua kali lipat dariku itu dan memasukannya ke bagasi mobil seorang diri.


Aku masuk kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan ku.


Memang aku sudah melampiaskan kemarahannya pada polisi itu, tapi kenapa rasanya masih kurang, hatiku masih saja berdenyut sakit, apalagi kalau aku teringat dengan wajah Johan si sialan itu.


Aku melihat gelandangan yang akan menyebrang jalan dari kejauhan, seketika kumainkan kecepatan mobilku dan berniat untuk menabraknya.


Gelandangan itu terlempar sejauh lima meter dan kepalanya membentur trotoar hingga isi kepalanya keluar, otaknya berceceran di aspal.


Aku keluar dari dalam mobil dan menghampirinya, gelandangan yang malang, aku sudah berbuat baik dengan mengakhiri penderitaannya hidup di dunia yang kejam ini.


Sekali lagi, korbanku ku seret dan ku masukan ke dalam bagasi mobil.


Seharusnya cukup dengan dua orang tapi nyatanya aku masih harus darah, aku menjalankan mobilku pelan sambil melihat kiri dan kanan mencari seseorang yang bisa ku jadikan korban selanjutnya.


Mataku cukup jeli untuk melihat seorang wanita yang berdiri di trotoar jalan sambil merokok, aku yakin dia adalah psk yang sedang menjajakan diri, di lihat dari pakaiannya yang norak dan tidak berkelas.


Aku membukakannya pintu dan melambaikan tanganku memintanya untuk masuk.


"Maaf aku tidak bermain dengan sesama wanita" ucapnya menolak setelah melihatku.


"Bukan aku yang akan bermain denganmu, masuk saja" nada bicaraku meninggi.


Dia menuruti perkataan ku dan masuk ke dalam mobil.


"Siapa yang akan bermain denganku? Ayahmu?" Ucapnya sambil tertawa dengan leluconnya sendiri.


"Bukan, tapi raja neraka"


Aku menodongkan pistol berperedam padanya, dan menembaknya tepat di kepala, darahnya menyembur keluar dari kepalanya dan mengotori kaca mobilku. Aku akan butuh waktu untuk membersihkannya.

__ADS_1


Aku meruntuki diriku sendiri, kenapa dia tidak ku bunuh dia di luar saja.


☠☠☠


Jam sudah menunjukan pukul tiga pagi, saat aku tiba di depan sebuah pasar, lebih tepatnya di tempat jagal hewan yang ada di dekat pasar.


Aku mengambil hp ku dan mulai menelpon seseorang.


"Kau tahu ini jam berapa?!"


Suara kesal Chaerin di seberang sana terdengar khas baru bangun tidur.


"Kau tidak tahu, perlu ku belikan jam untukmu??"


"Cepat katakan kau mau apa sialan! Karena aku selalu baik padamu kau pikir kau bisa bertindak sesukamu! Kau ingin mati!"


"Ayo kita mati bersama"


"Ck pelacur sialan, beraninya!!"


"Baiklah aku tidak ingin bertengkar denganmu, aku sekarang ada di depan toko dagingmu, aku membawa barang bagus, kau mau?"


"Benarkah? Masukan mobilmu, aku akan menyuruh anak buahku mengurusnya"


Calling end


Aku menunggu sebentar dan tak berapa lama seorang lelaki dengan tubuh kekar membukakan pintu untukku, aku membawa masuk mobilku ke dalam dan pintu di belakangku kembali di tutup.


Aku keluar dari mobil dan menyerahkan kunci mobilku pada salah seorang anak buah Chaerin yang lain.


"Di bagasi, dan juga di kursi depan" ucapku sambil berjalan masuk, sebaiknya aku menyapa Chaerin sebelum


pulang.

__ADS_1


"Oh iya, sekalian bersihkan mobilku" ucapku memerintah dan langsung di tanggapi anggukan oleh seorang


pria tinggi di sampingku.


__ADS_2