
Aku berjalan perlahan, noda merah mengotori sepatuku, aku menginjak darah yang tergenang di lantai.
Kalau kalian pikir aku habis membunuh seseorang, kalian salah, ini adalah tempat tinggal Chaerin.
Dari luar memang seperti rumah jagal hewan biasa, tapi kalau di telusuri lebih jauh, akan ada ruangan khusus di sediakan untuk menjagal manusia.
Rumah jagal hewan hanya kamuflase, walaupun bisnis ini menguntungkan, tapi apa yang ada di baliknya jauh lebih menguntungkan.
Ini sebenarnya adalah kantor lintah darat yang mematok bunga pinjaman hingga 200%.
Kebanyakan tidak bisa membayar hutangnya dan berakhir di ruang operasi, ginjalnya akan di ambil untuk
melunasi hutang, kalau ginjal tidak cukup mungkin di tambah dengan sepasang bola mata akan cukup.
Pemilik tempat ini tidak lain adalah Chaerin, aku bertemu dengannya saat mengunjungi mama di penjara,
ibunya juga di penjara yang sama dengan mama.
Walaupun sekilas terlihat seperti tante-tante galak, tapi sebenarnya aku dan dia hanya berbeda lima tahun, tentu saja dia yang lebih tua.
Dia terlihat seperti wanita baik-baik dan terhormat, dia juga seorang member VIP di sebuah mall besar, kehidupannya di luar bisnis ini sangat glamor dan berkelas.
Tapi nyatanya dia lebih mengerikan di bandingkan denganku, dia yang mengajariku menggunakan pisau
daging untuk menebas kepala seseorang. Tapi dia akan jinak jika di beri alkohol, itulah satu-satunya kelemahannya.
Saat aku masuk semua orang melihatku dengan tatapan menyeramkan sambil memegang pisau gading.
Tanpa memperdulikannya aku masih saja berjalan lurus memasuki sisi dalam rumah jagal ini.
Saat sudah masuk cukup jauh, aku mendengar jeritan seseorang dari balik pintu sebuah ruangan.
"Aku sedang mencoba pisau daging yang baru ku beli, ternyata cukup bagus" suara yang sangat familiar untukku terdengar dari arah belakang.
"Kau sangat marah saat aku menelpon mu, ku pikir kau sedang tidur!!"
"Aku emang sedang tidur tadi! Untuk apa aku punya banyak anak buah tapi aku masih juga bekerja, sebagai bos pekerjaan utamaku adalah tidur"
"Kau menjadi panutanku saat bekerja" ucapku menghina.
"Aku menonton berita, kalau tidak salah wanita yang di temukan tanpa kaki itu adalah wanita yang kau incar di club, pasti kau pelakunya"
"Ya itu dia, memangnya siapa lagi"
Chaerin tertawa saat mendengar ucapanku, entah bagian mana yang lucu menurutnya.
"Berapa banyak yang kau bawa?" Seketika Chaerin mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tiga, dan kondisinya masih sangat baru" aku tersenyum bangga pada diriku sendiri.
"Aku akan membayarnya secepatnya segera setelah organnya terjual"
"Tidak apa, kau ambil saja semuanya, anggap saja itu hadiah untukmu karena sudah membantuku tempo
hari"
"Benarkah, kalau begitu terima kasih banyak" Chaerin menepuk-nepuk bahuku.
"Ngomong-ngomong kenapa matamu bengkak, kau habis menangis?"
Aku menyentuh mataku perlahan dan, ya memang agak bengkak, pantas saja seperti ada yang aneh.
"Kurang tidur" jawabku singkat, mana mungkin aku mengaku kalau aku habis menangis karena di tolak Johan.
"Mmmmm" Chaerin hanya bergumam, ku rasa dia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapanku.
☠☠☠
Sudah satu minggu berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan Johan, dia sama sekali tidak menelponku, ku rasa dia memang sama sekali tidak menyukaiku.
Tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus berhasil membuat Johan menyukaiku, tapi aku bingung bagaimana caranya.
Suasananya di kantor polisi tidak terlalu heboh seperti minggu lalu, saat mayat wanita tanpa kaki itu di
Karena kerja bagus yang aku tunjukan selama bekerja di sini, aku mendapatkan akses untuk melihat database
kepolisian, aku beruntung, kebanyakan tidak akan di beri kepercayaan secepat aku.
Aku hanya iseng membuka file kasus lama di tahun 90an, tidak ada yang istimewa di sana, hanya pembunuhan kecil, pencurian, perampokan, hanya kasus sederhana yang membosankan menurutku, tapi cukup menghibur untuk melihatnya kembali di saat bosan seperti ini.
Hpku mengeluarkan suara dentingan kecil pertanda ada pesan yang masuk, aku buru-buru mengambil hpku dari kantong coat yang aku pakai dan membacanya.
Dokter kim ❤
"Cek up?"
Aku mengerutkan kening tidak percaya, setelah menolakku dia masih bisa mengirimkan pesan seperti ini, seharusnya dia mengirimkan permintaan maaf.
Tapi dengan bodohnya aku malah membalasnya, walaupun hanya balasan singkat tapi tetap saja kan itu sangat memalukan, mengingat aku sedang marah padanya sekarang ini.
Minki
__ADS_1
"Ya, sore"
Aku tertunduk menyesali kebodohanku yang membalas pesannya dengan tergesa-gesa, seharusnya aku sedikit jual mahal terlebih dahulu.
Baekho tiba-tiba saja mendekat meletakan sesuatu yang dingin di atas kepalaku. Aku melihat puncak kepalaku dengan tangan dan mendapati dua buah ice cream rasa pisang kesukaanku.
Baekho memandangku dengan cemas dan mengambil kursi tepat di sebelahku, lalu duduk.
"Satu untuk mendinginkan kepalamu, dan satunya untuk mendinginkan hatimu" senyum Baekho mengembang membuatku sedikit lebih tenang.
"Terima kasih, aku harap ini tidak beracun"
Baekho merebut paksa satu ice cream yang sudah di berikan ya padaku sambil cemberut.
"Akan ku buktikan kalau ini sama sekali tidak beracun" dia membuka bungkusan ice cream itu dan bersiap untuk memakannya.
Aku menarik tangannya, menggigitnya, dan merebut ice cream yang hampir menyentuh mulutnya itu.
"Tidak perlu membuktikannya, aku sangat percaya padamu" aku terkekeh dan Baekho mendengus kesal.
"Dasar pelit" dia mengucapkannya dengan pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Sudah ku bilang berkali-kali, seseorang memintanya masuk ke dalam mobil, dan tidak berapa lama noda merah seperti darah menyembur, mengotori kaca mobil bagian dalam!" seorang wanita menjelaskan masalahnya dengan marah kepada seorang petugas polisi. Suaranya yang nyaring membuat seisi ruangan mengalihkan pandangan padanya.
"Ada apa?" Baekho yang mendengar keributan itu langsung menghampiri wanita itu.
"Temanku menghilang satu minggu yang lalu, aku melihatnya masuk ke dalam mobil berwarna
hitam!!" Suara wanita itu semakin nyaring saat menjelaskannya pada Baekho.
Aku menajamkan pendengaranku dari kejauhan, sepertinya ini berkaitan denganku, apa itu seorang psk yang ku tembak di dalam mobil?
"Kau ingat nomer platnya?"
"Saat itu keadaan gelap, aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi aku tahu mobil itu di kendarai oleh seorang wanita, karena aku mendengar temanku mengatakan itu" ucapnya penuh semangat.
"Sudah coba untuk menelponnya?"
"Kalau dia bisa di telpon, aku tidak akan datang ke sini untuk melaporkan orang hilang! Dasar polisi tidak berguna"
Mendengar wanita itu berbicara tidak sopan, Baekho menghembuskan nafasnya kesal, sangat terlihat dia tidak ingin berlama-lama lagi bicara pada wanita itu.
"Akan kami selidiki lebih lanjut, tolong tinggalkan saja nomer telponmu di sini, aku akan menghubungimu jika sudah menemukan sesuatu" ucap Baekho memberikan harapan.
Tidak di ragukan lagi, sudah jelas itu adalah teman dari psk yang ku bunuh minggu lalu, senangnya
punya teman yang sangat memperhatikanmu, tapi sayangnya temanmu itu akan bernasib sama, aku tertawa dalam hati.
__ADS_1
Aku tersenyum licik di belakang Baekho, sepertinya aku harus mengotori tanganku lagi hari ini.