ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
25. MINKI


__ADS_3

Apa aku sebagai wanita akan terima jika kekasihmu di katai om-om tua, huh aku tidak habis pikir, ada sisa orang bodoh yang di biarkan hidup di dunia ini.


Johan memang sudah tua, aku mengakuinya, tapi tidak seharusnya dia mengatainya sekasar itu, dasar sialan.


Dari gaya berpakaiannya dia pasti pengangguran, atau dia hanya gembel yang tidak sengaja di temukan Johan di jalan, Johan memang sangat baik, bahkan pada sampah seperti itu.


Aku mengacungkan tanganku yang memegang pecahan kaca, awalnya dia sangat tidak sopan dan menantang ku, tapi sekarang dia malah berlarian keliling ruangan, diamana dia membuang keberaniannya yang tadi, bahkan menghadapi ku saja dia takut.


Kalau saja bukan karena Johan, aku pasti sudah membunuhnya, akan ku sayat lehernya, organnya kan ku keluarkan dan akan ku jual pada Ronan, tubuhnya kan ku berikan pada anjing peliharaan Chaerin.


Huh aku jadi teringat Chaerin lagi, dia bukan hanya meninggalkan rumah jagal hewan dan anggota geng tololnya, tapi dia juga meninggalkan dua ekor anjing yang selalu kelaparan walau sudah di beri berkilo-kilo daging.


"Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya akan menusuknya sedikit untuk memberinya pelajaran" aku beralasan saat Johan mulai memarahiku.


"Itu juga namanya percobaan pembunuhan, kau tidak boleh melakukan itu" Johan mengomeli ku dan pria di sebelahku malah tersenyum melihatku yang tidak bisa berkutik.


Namanya Thomas, aku jadi teringat film kartun di minggu pagi tentang kereta api biru yang bisa bicara.


Aku menyikutnya, menyuruhnya untuk diam. Dasar brengsek.


"Aku bukan anak kecil, jangan mengomeliku" aku mendengus. Johan tidak harus mengomeliku di depan si brengsek ini kan.


"Kalian bisa bertengkar tanpa aku" Thomas berdiri, baguslah kalau dia pergi.


"Mana uangku!"


"Kau memerasnya?!" Lagi-lagi emosiku terpancing.


"Itu uangku cewek brengsek!" Balas Thomas ikut emosi.


"Jangan berkelahi lagi!" Johan berteriak kesal.


"Akan ku berikan malam ini, pergi sana"


"Baiklah, aku akan menunggumu di rumah duka"


Thomas menghilang di balik pintu, tanpa menutupnya, dengan kesal Johan berjalan menuju pintu menutup pintu itu sepelan mungkin, dia sedang menahan amarahnya.


"Kenapa kalian bertemu di rumah duka? Ada yang meninggal?" Tentu saja aku penasaran, siapa juga di dunia ini yang akan melakukan pertemuan di rumah duka.


"Dia bekerja di rumah duka milikku" Johan menghempaskan tubuhnya duduk di sebelahku.


Di raihnya tanganku dan di obatinya tanganku yang terluka dengan telaten, bukan luka yang parah, biasanya aku cuma merendam tanganku dalam larutan antiseptik yang di campur air, lukanya biasanya sembuh sendiri tanpa perlu di obati.


"Kau punya rumah duka! Kenapa aku baru tahu?" Johan meletakan kembali tanganku yang sudah selesai di obatinya.


Aku selalu mengikuti Johan kemanapun dia pergi, tapi aku tidak tahu tentang rumah duka itu, aku gagal menjadi mata-mata andal.

__ADS_1


"Bisnis turun temurun dari kakekku" ucap Johan singkat, aku tidak ingin bertanya lebih lanjut, lagipula sepertinya bukan hal yang penting.


Aku memeluk Johan dari samping, dan Johan melingkarkan tangannya ke leherku. Rasanya nyaman bisa sepeti ini bersama Johan.


Kalau Johan ku ajak untuk menikah, apa dia mau? Membayangkan aku tinggal satu rumah dengannya dan memiliki anak yang lucu membuatku senang, aku harap ini bukan mimpi.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Johan menatapku heran.


"Tidak apa-apa" aku langsung menyentuh pipiku yang memerah.


"Kau sakit? Mau ku periksa?" Johan menyentuh dahiku, membuat wajahku memanas.


Aku merasa gejolak aneh di bagian bawah perutku, rasanya menggelitik, aku meneguk ludahku kasar dan menatap Johan tepat di manik matanya dengan mulut sedikit terbuka.


"Badanmu agak panas, tunggu aku akan ambil stetoskop" Johan hendak berdiri, tapi aku menariknya


membuatnya kembali duduk.


Ku dorong tubuhnya hingga jatuh terlentang di atas sofa dengan aku berada di atasnya.


Bibirku menyentuh bibirnya perlahan, ku ***** bibirnya dengan rakus, dia membalas ciumanku, dia menggigiti bibirku.


Bibirku terasa perih, ku rasa giigtannya membuat bibirku terluka, tapi aku tidak ingin menghentikannya,


mungkin saja kami akan lanjut ke tahap selanjutnya.


Dia kembali menciumku, menurunkan ciumannya ke leher, kecupannya di sekitaran telinga membuatku geli, beberapa kali suara lenguhan kecil keluar dari mulutku, ku lihat dia tersenyum saat aku melakukannya.


Aku memberanikan diri untuk menarik kerah snelli-nya, ku elus dada bidangnya yang masih di tutupi kemeja.


Aku menutup mataku menikmati cumbuannya, dia tahu betul bagaimana cara memperlakukan ku, mungkin karena dia sudah berpengalaman dengan banyak wanita.


Walaupun sudah berumur 41 tahun, dia masih sangat tampan dan punya tubuh yang atletis, aku merasa dia masih seusia denganku. Dan pastinya dia tidak akan mengecewakanku dalam urusan ranjang.


Johan menghentikan aktifitas nya, dia duduk menghadap ku sambil tersenyum, padahal aku sangat meikmatinya.


"Aku ada jadwal operasi sebentar lagi" ucapnya santai.


"Huh!"


Johan tertawa melihat reaksi kagetku, dia mencium pipiku dan lalu membantuku untuk bangun.


Aku memukul kepalanya, persis seperti yang di lakukannya pada Thomas.


"Kau sengaja ingin mengerjaiku ya, dasar brengsek, bagaimana bisa kau berhenti saat sudah setengah jalan!"


"Aku serius" Johan memegangi kepalanya yang ku pukul, sepertinya aku sudah keterlaluan, apa pukulan ku tadi terlalu kuat.

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu ruangan Johan, dan hanya beberapa detik pintu terbuka. Seorang perawat muncul dengan pakaian serba putih dan rok mininya.


Dia perawat atau wanita penghibur sih sebenarnya.


"Dokter Kim, operasi tuan Robert lima belas menit lagi" ucap perawat ini ramah.


"Oke, terima kasih" balas Johan tidak kalah ramah.


Perawat itu segera keluar dan menutup pintu kembali.


"Kau lihat, aku tidak berbohong" Johan mengacak-acak rambutku yang memang sudah berantakan.


"Ku harap si Robert itu mati saat operasi" ucapku kesal sambil berkacak pinggang.


"Kalau dia meninggal, aku akan di persalahkan"


"Ck kalau begitu aku akan membunuhnya saat operasinya selesai" aku mulai menyusun rencana jahat.


"Dasar anak nakal. Jangan lakukan itu, kau kan sudah janji padaku" Johan mendorong kepalaku pelan sambil tertawa.


"Agh menyebalkan!"


Johan meletakan tangannya di pipiku dan mengelusnya dengan lembut.


Dia memberikanku sebuah kartu berawrna gold, terdapat barcode di salah satu sisinya.


"Di bandingkan kantorku yang berantakan, bagaimana dengan hotel" Johan mengedipkan matanya padaku.


Wah entah bagaimana sepertinya dia sudah merencanakan ini sejak lama.


"Jangan bilang kalau ini standard room" aku mengejeknya.


"Suite room"


"Kau serius?" Aku memeluknya senang, entah kemana perginya rasa kesalku yang tadi.


"Dan ini" Johan memberikanku kartu lain berwarna hitam. Aku memandangnya heran menuntut penjelasan.


"Black card"


"Aku tahu, tapi untuk apa?"


"Beli apapun yang kau mau dengan itu, tampil yang cantik malam ini untukku" Johan mengecup bibirku singkat.


"Aku harus melakukan operasi, hati-hati pulangnya"


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tidak percaya, dia memberiku kartu kredit, dan aku boleh belanja apapun yang aku mau. Aku sepeti baru menang lotre.

__ADS_1


Aku melihat Johan menghilang di balik pintu. Aku yakin semua wanita di dunia ini senang kalau di beri kartu kredit, termasuk aku.


__ADS_2