ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
5. MINKI


__ADS_3

Banyak yang menyangka umurku tidak lebih dari tujuh belas tahun.


Aku memang memiliki tubuh yang kecil, tinggi ku hanya 160 tapi bukan berarti aku ini anak di bawah umur, aku baru saja melewati ulang tahunku yang ke 25 kemarin, apa wajahku se-baby face itu sampai-sampai tidak di perbolehkan masuk ke dalam club malam.


Aku mengacungkan KTP pada penjaga pintu masuk, dia melihat dengan seksama sebelum akhirnya memperbolehkan aku masuk dan meminta maaf.


Aku tidak terlalu suka pergi ke club malam, aku benci bau alkohol, dan musik yang berdentum, musik yang nyaring membuat jantungku berdegup, ini juga tidak bagus untuk kesehatan telinga. Aku jarang pergi ke tempat ini kecuali memang ada hal yang teramat penting.


Seperti sekarang ini.


Aku melihat Chaerin menari dengan semangat sambil memegang sebotol Vodka.


Cewek gila itu bilang akan membantuku, tapi dia malah asik sendiri, aku tidak bisa mengajak Kevin, dia sangat


berpegang teguh pada pendiriannya tentang jangan menyakiti orang yang tidak berdosa.


Dia punya sisi baik yang menyebalkan, memangnya dia itu superhero pembela kebenaran dan hanya menghukum orang jahat. Dasar munafik.


"Aku mengajakmu ke sini bukan untuk bersenang-senang!"


Aku memandang Chaerin dengan marah saat dia datang menghampiriku.


"Aku tahu, tapi tidak ada salahnya bersenang-senang sedikit, kita kan sudah di sini, jadi nikmati saja"


Chaerin berbicara seperti orang mabuk, dan mengalungkan tangannya ke leherku, tapi aku melepasnya dengan paksa.


Dia hanya minum Vodka kenapa juga bisa mabuk, dia lemah dalam hal minum tapi tetap saja melakukannya, aku tidak akan bertanggung jawab kalau dia sampai pinsan di sini.


"Liat di sana, kau harus bisa memasukan ini kedalam minumannya"


Aku memberikan Chaerin bungkusan kecil berisi bubuk berwarna putih sambil menunjuk segerombolan cewek yang berkumpul di meja seberang.


"Apa ini? Narkoba? Boleh aku minta?"


"Itu bukan narkoba! Pokonya masukan saja itu dalam minumannya supaya dia tidak sadarkan diri"


"Mereka semua?"


"Cuma satu, yang rambutnya hitam ombre biru, lihat baik-baik jangan sampai salah orang"


"Baiklah, haruskah aku melakukannya sekarang?"


"Tentu saja sekarang, memangnya mau nunggu sampai besok!" Aku kewalahan bicara pada Chaerin yang sedang mabuk.


"Oke" Chaerin mengacungkan jempolnya padaku.


Semoga saja cewek bodoh itu tidak membuat masalah.


Selang beberapa jam akhirnya gerombolan cewek-cewek itu membubarkan diri.


Cewek jelek berambut ombre itu pulang naik mobil sendirian sedangkan teman-temannya sudah pergi terlebih dahulu.


Aku mengikutinya dari belakang, perasaan was-was menghampiriku, aku sudah menyuruh Chaerin untuk memasukan obat bius pada minumannya tapi cewek sialan itu masih terlihat baik-baik saja, kecuali agak sedikit mabuk. Aku rasa Chaerin pasti melakukan kesalahan. Kenapa juga aku memberikan tugas sepenting itu pada Chaerin, selain berkelahi dia sama sekali tidak bisa di harapkan.


Sebuah dentuman besar menyadarkanku dari lamunanku, aku tidak sadar bahwa mobil yang di kendarai oleh cewek itu menambrak trotoar pembatas jalan.

__ADS_1


Ternyata Chaerin tidak membuat kesalahan, cewek itu pinsan saat sedang mengemudi.


Ini kesempatan bagus untuk menculiknya, apalagi subuh begini jalanan sepi, tidak banyak kendaraan lalu lalang, dan juga tidak ada cctv di sekitar sini, ternyata Dewi Fortuna memihak gadis cantik yang sakit hati sepertiku.


Aku akan membawa cewek sialan ini ke gubuk pemberian Kevin dan menyiksanya sampai mati, itu balasan untuk cewek yang berani-beraninya merebut Johan dariku.


☠☠☠


Aku merasakan semilir angin membelai wajahku lembut dan menerbangkan rambut panjang ku membuatnya agak berantakan, tidak ku sangka setelah sekian lama akhirnya aku bisa merasakan liburan juga.


"Jangan bengong saja di sana!" Suara bentakan Baekho menyadarkanku.


Dia merusak suasana, kan jarang-jarang aku bisa berada di pantai seperti ini, cuacanya juga sedang bagus.


Aku menghampiri Baekho dengan wajah lesu, dalam hati aku berteriak "aku ingin bersenang-senang di pantai!" Tapi mana mungkin aku mengatakannya di tengah-tengah kasus seperti ini. Bekerja di kepolisian ternyata tidak terlalu menyenangkan.


"Astaga kakinya terputus dan wajahnya terkoyak, siapa si brengsek yang melakukan ini!!" Baekho berdecak.


Berani sekali dia mengataiku brengsek, tidak tahu saja dia bahwa itu hasil dari mahakaryaku yang mengagumkan.


Setelah puas menyiksanya dua hari yang lalu, aku membawa mayatnya mengunakan kantong plastik hitam, dan aku buang ke laut, siapa sangka mayatnya sekarang terdampar di pantai seperti ini, aku berharapnya sih dia di makan ikan hiu atau di telan paus.


"Terlihat jelas kalau si pembunuh sangat suka bermain-main, dia tidak langsung membunuh korbannya, tapi menyiksa mereka terlebih dahulu" aku mencoba tenang mengutarakan pendapatku.


Aku memang agak kesal dengan ucapan Baekho, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku yang sebenarnya, aku sangat senang saat orang-orang bisa melihat langsung hasil mahakarya ku. Apalagi kalau sampai Johan langsung yang melihatnya.


Saat pulang ke rumah aku akan merayakannya dengan segelas wine, haruskah aku mengundang Kevin dan Chaerin sambil berpesta? Ide bagus.


"Tapi mungkin saja kalau si pembunuh membunuhnya terlebih dahulu baru setelahnya dia baru memotong kakinya dan mengoyak tubuhnya" Baekho menyanggah ucapanku, kebiasaan Baekho saat sedang bekerja adalah, dia tidak menerima pendapat siapapun selain dirinya sendiri.


"Entahlah, serahkan saja mayatnya ke dokter forensik, jadi kita bisa tahu dengan jelas apa yang terjadi sebenarnya" aku tersenyum hambar.


"Kau benar, hei semuanya biarkan bagian forensik yang mengurus mayat ini, ayo kita telusuri daerah ini untuk menemukan kedua kakinya" Baekho membuat arahan pada anggota timnya.


☠☠☠


Di kantor polisi


Aku menonton acara berita melalui hp miliku, seperti dugaan ku, pasti ini akan jadi kasus yang menggemparkan, buktinya sekarang semua stasiun tv menyiarkan masalah di temukannya mayat tanpa kaki. Semua orang melihatnya, entah kenapa ada rasa puas dalam diriku.


"Baru satu jam setelah hasil otopsi keluar, tiba-tiba seluruh stasiun tv memberitakan tentang pembunuhan itu


beserta data korban, seharusnya mereka lebih menghormati orang yang telah meninggal" Baekho mengeluh sambil memeriksa data korban yang ternyata bernama Martha, dia seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan Johan.


Dan benar kan kataku, umurnya sudah kepala tiga, dia cuma tante-tante tua, mana pantas untuk Johanku yang tampan.


"Mereka tidak punya sopan santun, mereka hanya memikirkan rating untuk acaranya" aku berpura-pura ikut


kesal.


"Hhhhuuuuuhhhh" aku mendengar Baekho melenguh panjang sebelum akhirnya tenggelam lagi dengan berkas yang menggunung.


Hp yang tadinya ku pakai untuk menonton berita malah bergetar dan layarnya berganti dengan nama Johan.


Entah apa yang terjadi, akhirnya Johan menelpon ku lebih dulu, ini menjadi kebahagian ekstra untuku hari ini.

__ADS_1


"Ini dokter Kim, apa aku mengganggumu?"


"Tentu saja tidak, walaupun kau menggangguku, aku sama sekali tidak keberatan" ucapku riang dan aku


mendengar Johan tertawa renyah di sebrang sana.


"Kau tidak lupa dengan jadwal cek up mu hari ini kan? Ini sudah sore dan kau belum juga muncul, aku sudah mau pulang"


"Sebenarnya aku sedang berada di tengah-tengah kasus sekarang. Apa aku sudah cerita padamu kalau aku bekerja di kepolisian sebagai psikolog forensik sekarang?"


"Belum, mungkin kau lupa menceritakannya padaku, atau mungkin om-om tua sepertiku tidak cukup penting untuk diingat"


"Jangan seperti itu dokter Kim, aku selalu ingat padamu sesibuk apapun aku, tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa ke rumah sakit"


"Ya aku mengerti, kondisimu sekarang baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja, tapi akan lebih baik lagi kalau aku bisa cek up hari ini dan bertemu denganmu"


"Kita bisa mengatur ulang jadwalmu mulai sekarang, dua bulan sekali mungkin?"


"Tidak! Aku akan tetap menemuimu satu minggu sekali. Aku punya ide bagus, kenapa kau tidak memeriksaku di rumah malam ini?"


"Itu ide buruk, mana mungkin aku ke rumahmu saat kau tinggal sendirian, orang-orang akan bicara buruk tentangmu"


"Ah yaa, tapi aku khawatir mungkin saja tiba-tiba kesehatanku memburuk jika tidak di periksa teratur, sekarang saja dadaku agak sesak"


Aku hanya mengarang, membuatnya terdengar dramatis supaya Johan khwatir padaku.


"Baiklah, kalau begitu kau saja yang ke rumahku, aku akan mengirimkan lokasinya"


"Oke, aku akan datang"


"Aku akan menunggumu, tapi jangan terlalu malam kalau kau tidak ingin ku tinggal tidur"


"Siap dokter, aku ini pasien yang penurut kok"


"Sampai ketemu nanti malam"


"Ya"


Telpon terputus


Tak berapa lama pesan masuk berisi alamat rumah Johan. Sebenarnya aku tidak memerlukannya, tanpa di beri tahu pun aku sudah tahu di mana rumahnya.


Aku tidak percaya ini, aku akan ke rumah Johan? Apa aku sedang bermimpi, hari ini benar-benar hari yang indah.


Aku penasaran kenapa Johan terdengar sangat santai, bahkan dia masih bekerja hari ini, seharusnya dia sudah tahu bahwa pacar sialannya terbunuh, dan mayatnya di temukan tanpa kaki.


Tapi masa bodoh, yang penting aku akan berduaan dengan Johan nanti malam, aku harus memilih baju yang bagus. Mungkin aku juga perlu membeli pakaian dalam baru yang cantik, siapa tahu nanti malam akan terjadi sesuatu yang tidak di rencanakan.


"Kenapa namanya selalu muncul, terakhir dua bulan yang lalu juga dia di panggil sebagai saksi untuk kasus pembunuhan, kurasa dia pelakunya, seharusnya aku menangkapnya dari dulu!" Baekho mengagetkanku dengan teriakannya.


"Siapa?" Tanyaku seolah terlihat penasaran, aku sudah tahu nama siapa yang akan dia sebutkan.


"Johan Kim!"

__ADS_1


__ADS_2