ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
12. MINKI


__ADS_3

Pelipis ku basah oleh keringat, aku terbangun karena kepanasan. Aku melihat sekeliling, tempat ini sepertinya aku kenal, tapi ini di mana?


Aku terbangun di atas sebuah tempat tidur besar, sepertinya ini kamar tidur pribadi, pencahayaan di


sini sangat minim, aku harus menajamkan penglihatan ku supaya bisa melihat dengan jelas.


Ku pegang belakang kepalaku yang terasa berdenyut-denyut, aku di pukul cukup keras, aku harus bersyukur karena pukulan itu tidak membuat luka serius, selain bengkak besar di belakang kepala.


Aku harus memeriksakan dirike rumah sakit, kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan kepalaku. Mungkin saja kan aku malah kehilangan ingatan sepeti di drama.


Aku mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat-ingat lagi, di mana sebenarnya tempat ini.


Seketika aku ingat Johan, ini kamarnya, oh tuhan mimpi apa aku bisa tidur di atas tempat tidurnya yang selama ini hanya bisa aku lihat dari balik layar hp.


Bukankah terjadi sesuatu semalam?? Oh tidak! Johan menolongku.


Aku memukul-mukul kepalaku pelan, Johan pasti melihatku membantai banyak orang.


Aku bisa gila kalau begini, dia akan tahu bahwa aku adalah psikopat yang mengerikan. Dia mungkin akan menjauhiku sejauh-jauhnya.


Kenapa juga dia bisa ada di tempat itu.


"Sudah sadar?" aku kaget saat mendengar suara Johan dari arah pintu.


Apa yang harus ku katakan pada Johan, apa aku harus pura-pura kesurupan. Johan mungkin saja akan melaporkanku ke polisi dan aku akan di penjara.


Apa sebaiknya ku bunuh saja Johan?


Tapi mana bisa aku membunuhnya, bahkan melihatnya terluka saja membuatku sangat sedih, apalagi kalau dia harus mati di tanganku sendiri.


Sungguh ironis.


"Bagaimana?" Johan mendekat dan membelai rambutku.


"Kau melihatnya?" Ucapku penasaran.


"Melihat apa?"


"Orang-orang yang mati dengan menegaskan di ruang sakit tua itu...."


"Aaaaaaaa iya, itu mengerikan sekali, kira-kira siapa orang yang melakukannya? Apa saat kau sampai di sana, mereka sudah di bantai seperti itu?"


Ucapan Johan dan juga wajah bingungnya membuatku lega, dia tidak melihatnya, dia pasti tidak melihatnya. Aku membuang nafasku yang tadinya tercekat di tenggorokan, aku bisa bernafas normal lagi sekarang.


"Kau sangat pemberani, datang ke tempat seperti itu sendirian, seharusnya kau menelpon ku, atau kau bisa ajak teman polisimu" aku melihat raut wajah khawatir yang tidak di buat-buat.


Johan menariku dan menenggelamkan ku dalam pelukannya, ini pertama kalinya dia memelukku seerat


ini, hampir saja aku kehabisan nafas jika ia tidak segera melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan anak-anak yang di sekap di sana??"


"Tidak tahu, tidak ada anak-anak di sana, saat kau pingsan aku langsung membawamu ke sini?"


"Apa polisi tahu tentang tempat itu?"


"Entahlah, sudah ku bilang kan, aku langsung kabur membawamu pergi dari tempat menyeramkan itu, jadi aku sama sekali tidak tahu, aku ingin menelpon polisi tapi aku tidak ingin terlibat, jadi biarkan saja polisi menemukannya dengan sendirinya"


"Lupakan saja, jangan terlibat dengan orang mengerikan seperti itu, serahkan pekerjaan sulit seperti


itu pada polisi, kalau sampai gadis lemah sepertimu celaka bagaimana?" Johan mulai menceramahi ku, kalau seperti ini dia jadi mirip seperti Baekho.


Aku yakin Johan tidak akan sekhawatir ini jika tahu aku yang sebenarnya. Aku memandang Johan dan mengangguk dengan cepat, seperti seorang gadis manis yang penurut.


Sedetikpun aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari rumah sakit tua itu. Bagaimana jika polisi tahu tentang tempat itu dan melakukan penyelidikan, aku bisa dalam masalah besar. Paling tidak aku harus membereskan mayatnya dulu sebelum polisi menemukannya.


"Dokter Kim, bisa aku pinjam hp mu? Aku ingin menelpon seseorang"


Tanpa bertanya apapun Johan menyerahkan hpnya padaku.


"Ayo sarapan, aku akan menunggumu di luar" Johan cukup pengertian dengan meninggalkanku sendirian.


Aku menekan 12 digit angka dan menekan tombol panggil.


"Siapa ini?"


"Ini aku, Minki, bisa aku minta tolong?"


"Minki? Bisakah jangan menggangguku di pagi hari?"


Suara Chaerin nampak kesal, tapi aku tidak punya pilihan lain, selain minta tolong padanya.


"Pokoknya tolong aku, aku akan membayarmu sepadan dengan masalah yang aku timbulkan ini"


Hening sejenak, aku yakin cheirin sedang menghitung berapa banyak uang yang akan di i dapatkannya dariku, dasar matre.


"Baiklah, apa yang bisa ku bantu?"


"Ada sebuah rumah sakit jiwa pinggiran kota yang sudah tidak di gunakan lagi, aku membuat Maslah di sana, tolong bereskan untukku. Aku akan kirimkan alamatnya"


"Kau baru melakukan pembantaian?"


Chaerin curiga, dia memang sudah hapal sifatku.


"Menurutmu?"


"Mmmunngkin"


"Aku tidak bisa bicara denganmu lebih lama lagi, jadi tolong bereskan saja itu untukku sampai bersih, jangan meninggalkan jejak sedikitpun"

__ADS_1


Aku mengakhiri panggilan.


Aku harus segera menyusul Johan untuk sarapan.


☠☠☠


Baekho menelpon ku dengan panik, dia memaksaku untuk cepat pergi ke kantor polisi.


Jadilah sekarang aku di sini, menemani belasan anak yang menjadi korban menculikan dan akan di perjual belikan ke luar negri.


Anak laki-laki akan di jadikan buruh dan anak perempuan akan di jadikan pelacur, sebagian dari mereka


akan di ambil organnya untuk di jual di pasar gelap. Bagaimana bisa ada orang sekejam ini pada anak-anak yang tidak berdosa.


"Kau benar, bukan suaminya pelakunya, tapi sindikat perdagangan anak" Baekho menggaruk belakang kepalanya, ku yakin dia sedang malu sekarang karena kemarin dia marah-marah padaku.


"Bagaimana dengan pelakunya?" Aku sangat penasaran, seingatku sebelum aku pingsan ada dua orang yang masih hidup.


"Hanya satu orang, itupun di temukan gantung diri di gudang tidak jauh dari pelabuhan tempat penyekapan anak-anak ini"


Bunuh diri? Yang benar saja, mana mungkin bunuh diri, apalagi di dekat pelabuhan, pelabuhan cukup jauh dari rumah sakit tua itu.


Dan juga bagaiman bisa anak-anak juga di temukan di pelabuhan, sedangkan anak-anak masih di rumah


sakit tua itu saat aku ke sana. Apa ada seseorang yang memindahkannya? Tapi siapa??


Kepalaku langsung pusing, ku rasa aku tidak boleh memikirkan hal yang berat untuk sementara waktu.


Hp ku berbunyi, sebelum ke kantor polisi aku pulang dulu ke rumah untuk mandi dan sekalian mengambil hpku yang tertinggal.


"Tempat ini sudah di bersihkan"


"Apa maksudmu?" Aku memelankan suaraku dan menjauh dari Baekho, aku tidak ingin. Dia mendengar pembicaraanku.


"Seseorang pasti sudah membersihkan tempat ini, bahkan tidak ada setetes darah pun"


"Bagaiman bisa, apa kau tidak salah tempat?"


"Ini tempat yang benar,aku ini bukannya bodoh!!"


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti, tapi tolong cek dengan teliti, Jagan sampai ada jejak tentangku di sana"


"Oke"


Panggilan terputus.


Aku yakin ada orang yang sengaja melakukannya, membersihkan tempat itu dan juga memindahkan anak-anak ke pelabuhan.


Aku tidak punya satupun daftar nama kemungkinan orang yang melakukan ini. Sepertinya aku harus istirahat seharian penuh dan mulai berfikir lagi besok, mungkin saja aku akan mendapatkan titik terangnya.

__ADS_1


__ADS_2