
Menggerakkan tubuhku sedikit saja rasanya sakit, pinggangku terasa mau lepas. Jam berapa aku tidur semalam?
Astaga aku kelelahan sampai-sampai tidak memperhatikan jam, ini semua salah Johan.
Ku pikir dia akan bersikap lembut padaku, paling tidak seharusnya dia pelan-pelan, ternyata pria dewasa lebih suka bermain kasar, padahal ini pertama kalinya untukku.
Johan memang keterlaluan. Bukannya aku mengeluh, tidak, aku menikmatinya. Bahkan ketika Johan mengambil alih permainan, aku sama sekali tidak protes, lagipula dia lebih berpengalaman.
Aku melihat Johan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, aku langsung menarik selimut ke atas untuk menutupiku sampai kepala.
Aku malu kalau harus berhadapan dengannya dalam keadaan seperti ini, aku belum sempat bercermin melihat bagaimana penampilanku, pastinya sangat kacau, sangat berantakan, sangat tidak enak untuk di lihat.
Tiba-tiba selimutku tertarik turun sampai leher memperlihatkan wajah polos ku yang baru bangun tidur. Agh kenapa Johan harus melihatku dalam keadaan seperti ini.
"Sudah bangun?" Johan tersenyum sambil mengelus kepalaku.
Aku tidak menjawabnya, aku hanya berkedip beberapa kali, aku belum sikat gigi, mana mungkin aku berani bicara sekarang.
Aku kembali menarik selimutku menutupi kepala, tapi Johan menurunkannya lagi, dia sama sekali tidak pengertian.
Dengan berat hati aku duduk, selimut masih tetap menutupi tubuhku, wajahku saja berantakan, apalagi tubuhku, tidak akan ku biarkan Johan melihatnya, kecuali kalau aku sudah mandi.
Johan mendekatkan wajahnya untuk menciumiku, tapi aku refleks menutup mulutku dan melotot padanya.
Dia menatapku bingung, sambil berusaha menarik tanganku, tapi aku tidak bergeming sedikitpun.
"Aku mengecewakanmu ya semalam" Johan tertunduk lesu.
Astaga bukan itu maksudku, aku tidak ingin dia salah paham.
"Aku belum sikat gigi, belum mandi juga" aku masih menutup mulutku dengan tangan, ku beranikan diri untuk bicara, aku harap Johan tidak mencium bau mulutku.
Wajah Johan langsung berubah, dia tersenyum geli mendengar ucapan polosku, dia kembali mengelus rambutku.
"Kau sangat cantik saat bangun tidur, ku pikir kau sudah mandi"
"Bercanda ya" aku memukul Johan pelan, aku memasang wajah kesal dan melotot padanya.
Padahal dalam hati aku senang dia berkata seperti itu, walaupun aku yakin itu bohong.
Aku berlari menuju kamar mandi sambil masih memegangi selimut yang menutupi tubuhku.
"Aku sudah melihat semuanya, kenapa di tutupi" Johan berteriak menggodaku, dasar gila.
Aku menunjukan kepalan tanganku padanya, sebagai balasan, tapi bukannya takut dia malah tertawa. Agh dia manis sekali saat terwa
"Kau suka sarapannya?" Johan membersihkan sisa cream di mulutku dengan serbet.
Kami baru saja memulai sarapan di jam sepuluh pagi, ini sudah terlalu siang untuk sarapan sebenarnya.
__ADS_1
"Ini hotel bintang 5, kalau sampai makanannya buruk lebih baik tutup saja" dengan lahap ku masukan satu sendok avocado fried egg kedalam mulutku, ini enak, makanan di hotel memang beda.
"Aku senang kalau kau menyukainya"
Johan meraih tanganku dan menciumi jariku.
"Akan sangat cantik, jika ada cincin di sini" dia mengelus jari manisku dengan lembut, dia memandangku dengan senyum yang tidak dapat ku artikan.
"Apa ini sebuah lamaran?"
"Belum, aku akan melamarmu dengan benar saat aku menemukan cincin yang pas untukumu" Johan meletakan kembali tanganku di atas meja dan melanjutkan sarapannya.
Sedangkan aku, aku tidak bisa berhenti memikirkan kata-katanya barusan, dia sangat manis, aku beruntung memilikinya, akan ku pastikan tidak akan ada yang bisa memisahkan ku darinya.
Selesai sarapan aku hanya bermalas-malasan, di atas tempat tidur sambil memainkan hp, Johan juga duduk di
sebelahku, merangkul ku dengan mesra sambil membaca buku.
Saat menikah dengannya nanti, aku ingin melakukan hal seperti ini lebih sering, kelihatannya memang
membosankan, tapi ternyata ini menyenangkan juga.
"Aku tidak ingin hari ini berakhir" aku mengeluh sambil melemparkan hpku ke samping.
"Kenapa?"
"Aku suka bersamamu dua puluh empat jam sepeti ini" aku memandanginya dengan puppy eyes-ku.
"Astaga aku melupakan sesuatu"
Aku mengambil tasku yang ada di samping tempat tidur Tan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam.
"Nah ini milikmu, aku tidak menggunakannya sama sekali"
Johan tidak menyambut balck card miliknya yang ku kembalikan, dia malah kembali fokus ke bukunya.
"Bukannya ku suruh kau memakainya"
"Aku bisa membeli apapun dengan uangku sendiri"
Johan memandangiku, dia kelihatannya tidak senang.
"Ganti bajumu" Johan bangkit dan berjalan menuju lemari.
"Ayo" Johan menarik tanganku supaya aku juga bangun.
"Mau kemana?" Tanyaku penasaran.
"Shoping" Johan tersenyum jahil.
__ADS_1
☠☠☠
"Berikan aku semua yang ada di baris atas" Johan menunjuk deretan tas yang berada di rak paling atas. Sedangkan aku hanya bisa melongo.
Dia serius?
Aku melihat price tag yang tergantung di salah satu tas dan astaga, 13.400 USD.
"Kau gila, aku tidak akan memakainya" aku mendorong tas itu jauh-jauh.
Tas macam apa yang harganya bisa menyamai setengah harga mobilku. Dan bukan hanya satu tas, tapi ada enam.
Aku pernah sekali mengikuti Chaerin belanja, dia menghabiskan uang hampir 100.000 USD hanya untuk membeli tas dan sepasang sepatu, kenapa banyak wanita yang menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk tas dan sepatu, padahal uang sebanyak itu bisa untuk membeli rumah. Banyak orang gila di dunia ini.
"Kalau kau tidak mau, akan ku berikan ke wanita lain"
Ucapan Johan membuatku geram, dia sedang menggertak ya, menyebalkan sekali, berani-beraninya dia mengatakan hal semacam itu.
"Kalau kau berani melakukan itu, lihat saja, dalam waktu satu minggu aku akan mengirimkan mu tas yang terbuat dari kulit manusia"
Bukannya takut, Johan malah tertawa mendengar ucapanku, mungkin dia sudah terbiasa dengan ancaman pembunuhan yang ku lontarkan.
"Makanya, kau harus mau memakai semuanya" ucapnya santai.
Aku tidak punya pilihan lain. Aku senang sih di beri barang-barang mahal, tapi kalau semahal ini, aku jadi takut untuk memakainya.
Selesai dengan tas Johan malah membawaku ke toko perhiasan, dia membelikan ku kalung bertahtakan Ruby seharga 200.000 USD, lututku sampai lemas saat panjaga toko perhiasan itu menyebutkan harganya.
Johan dengan hati-hati memakaikan kalung itu ke leherku, dia tersenyum saat melihat bekas kemerahan di leherku akibat ulahnya tadi malam.
Selesai dia memasangkan kalung, ku tutupi lagi leherku dengan rambut, kalau sampai orang-orang melihat, aku akan sangat malu.
"Kau tidak senang?" Johan memperhatikan wajahku yang sama sekali tidak tersenyum seharian ini.
"Memangnya berapa gaji seorang dokter sampai kau bisa menghamburkan uangmu sepeti ini!"
"Aku tersinggung, kau berkata seakan aku tidak mampu"
"Bukan begitu maksudku, jangan salah paham, ini tentang aku, aku sangat kampungan, aku tidak suka memakai barang-barang mahal" aku memegang tangan Johan.
"Kalau kau tidak ingin semua ini, jadi apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin menghabiskan waktu denganmu"
"Kita sedang menghabiskan waktu berdua sekarang"
"Bukan seperti ini maksudku. Ayo kita jalan-jalan ke taman bermain dan makan ice cream, itu akan lebih menyenangkan di bandingkan berbelanja di tempat ini"
Johan tersenyum geli mendengar permintaan konyolku.
__ADS_1
"Aahhh kau terlalu sederhana" Johan merangkul bahuku, dan membawaku pergi jauh dari deretan toko penghisap uang itu.