ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
36. MINKI


__ADS_3

Bukannya pemalas tapi aku hanya menikmati waktu liburku. Mulai hari ini dan seterusnya aku akan liburan panjang.


Ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir aku tidur siang, dan terbangun saat langit sudah gelap.


Tadi pagi aku baru saja menyerahkan surat pengunduran diriku di kepolisian dengan alasan akan menikah.


Memang itu alasanku berhenti bekerja, Johan bilang dia tidak ingin aku bekerja, aku hanya harus tinggal di rumah dan menjadi istri yang baik. Itu pekerjaan paling menyenangkan di seluruh dunia.


Tanpa sadar aku tidur sangat lama, jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Aku bergegas menyalakan lampu karena keadaan rumahku gelap gulita, aku bahkan harus meraba tembok untuk berjalan.


Tidak ada satu lampu pun yang menyala. Kecuali lampu teras depan yang memang sengaja ku pasang dengan


sensor, yang akan otomatis menyala saat malam hari.


Sebenarnya aku ingin tidur lagi, tapi mataku sama sekali tidak bisa terpejam, dan lagi karena terlalu lama


tidur kepalaku jadi sakit.


Ku putuskan aku akan menonton tv saja, sambil menunggu mama pulang.


Seperti hari-hari biasa, mama pergi ke club bersama Kevin, entah sejak kapan mereka berdua jadi tidak dapat di pisahkan, aku jadi iri. Sebenarnya aku atau Kevin anak mama yang sebenarnya?


Mama punya banyak koleksi film zombie dan ku coba menonton salah satunya, kadang aku berteriak dan


meracau sendiri saat zombie tiba-tiba muncul dengan hiding bengkok penuh nanah dan darah di mana-mana.


Aku sama sekali tidak takut darah, aku bahkan suka, tapi kalau hantu, jangan di tanya, aku lebih senang


berhadapan dengan orang yang masih hidup di bandingkan mereka yang sudah mati. Jadi lebih baik aku berhenti menonton sebelum aku berlari ketakutan ke rumah tetangga.


Ting


Sebuah dentingan kecil dari hpku membuatku berlari cepat kembali ke ruang tengah, tempat aku meletakan hpku sebelumnya.


Ini sudah jam dua malam dan mama masih belum pulang, nomernya juga tidak bisa di hubungi, begitu juga Kevin.


Aku harap mama yang mengirimiku pesan barusan.


Tapi aku salah, bukan mama yang mengirimi pesan, tapi Ronan.


Bukan orang yang ku harapkan, tapi aku cukup antusias untuk membaca pesan yang di kirimnya, aku menunggu kabar darinya selama seminggu tentang keberadaan Matthew Gill, aku sudah tidak sabar untuk menghajar si brengsek itu dengan tanganku sendiri.


Ronan ternyata mengirimkan sebuah lokasi padaku, tanpa keterangan apapun.


Tidak berapa lama hp ku berdering, panggilan dari Ronan.

__ADS_1


"Sudah terima pesan dariku?"


Tanpa basa-basi Ronan langsung bicara saat aku mengangkat telpon. Darinya. Dia tidak terdengar seperti biasanya, biasanya dia kan bicara santai sambil bercanda, tapi sekarang dia malah terdengar sangat serius.


"Ya, sudah" aku hanya menjawabnya singkat, tidak ada niatan untuk berlama-lama bicara dengannya.


"Pastikan kau membunuh Matthew, jangan biarkan dia hidup"


Ada nada mengancam saat Ronan kembali bersuara, bukan ancaman untuk Matthew, tapi untukku, aku


benar-benar tidak paham dengannya saat ini.


"Itu urusanku" ucapku mantap, "aku akan kirimkan uangnya padamu malam ini juga"


"Tidak perlu, kau hanya harus pastikan Matthew mati, paling lambat besok"


"Mau benar-benar tidak ingin uangnya?" Aku sangat penasaran, tidak biasanya Ronan menolak yang seperti ini.


"Tidak, setelah ini jangan pernah menghubungiku lagi. Sekedar informasi, sepertinya salah seorang temanmu dan ibumu di sekap oleh Mattew"


Aku terkejut mendengar ucapan Ronan, aku baru ingin bertanya lebih lanjut tapi sambungan telpon sudah


di terputus, dan lagi aku tidak bisa menghubunginya kembali.


Perkataan Ronan membuatku tidak tenang. Kalau memang mama di sekap oleh Matthew, itu sudah cukup


Aku bergegas memakai mantel, mengambil kunci mobil dan bersiap untuk ke tempat yang di beri tahu


oleh Ronan padaku, aku harap ucapannya tidak benar, aku tidak akan biarkan Matthew melukai mamaku walau hanya sedikit.


Butuh waktu satu jam untuk sampai ke tempat yang di maksud Ronan, padahal aku sudah memacu mobilku dengan kecepatan penuh.


Dengan sekali tendang aku berhasil mendobrak pintu utama sebuah vila mewah di pinggiran pantai. Aku yakin ini tempat yang benar, tapi anehnya aku tidak melihat satupun orang di tempat ini, bahkan tidak ada penjaga di depan pagar, ini sangat mencurigakan.


Apa Matthew tidak memiliki cukup uang untuk membayar anak buahnya?


Aku terlalu buru-buru sampai lupa untuk membawa senjata tadi rumah, alhasil aku hanya memegang sebilah kapak yang aku temukan di bagasi mobil, ini kapak yang terakhir kali ku pakai untuk menebas kaki wanita brengsek di hutan tempo hari.


Sudah berapa bulan aku tidak merobek tubuh seseorang, adrenalinku terpacu, di satu sisi aku sangat


bersemangat, di sisi lain aku berharap aku tidak harus melakukan ini, jika Johan tahu dia mungkin akan sangat kecewa karena tidak menepati janjiku padanya.


Awalnya aku hanya ingin memberi pelajaran pada Matthew, mematahkan tangan dan kakinya, membuatnya


lumpuh seumur hidup dan hanya bisa merasakan gerakan di jari-jari kakinya, tanpa membunuhnya.


Tapi jika memang benar dia menyeret mamaku juga, dan menyakitinya sama seperti Kevin, akan ku pastikan dia tidak bisa melihat matahari lagi esok.

__ADS_1


Akhirnya setelah berjalan masuk ke vila megah itu dan memasuki ruang tengah, aku mendapati seseorang di


vila ini. Pria paruh baya memakai kemeja santai bergambar bunga ala pantai pulau tropis.


Dia terlihat terkejut dengan kehadiranku, tapi dia sama sekali tidak takut, mungkin dia berpikir


kalau aku hanya gadis manis yang sedang bermain dengan kapak, dia salah besar, takdirnya adalah mati di tanganku hari ini.


"Dimana Matthew?"


Ku acungkan sisi kapak tajam ke lehernya, sebelumnya aku sudah memukulnya hingga terbaring di lantai


tidak berdaya, sebelah kakiku menginjak dadanya supaya dia tidak bisa bergerak, kepalanya terluka akibat pukulan ku menggunakan ujung tumpul kapak.


Dia langsung jatuh hanya dengan satu pukulan, tidak sebanding dengan badan besarnya.


Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah hanya diam sambil sesekali meringis kesakitan, dia berusaha sekuat tenaga untuk setia pada atasannya, bagus juga.


Dasar bodoh, seekor anjing yang terlalu setia biasanya akan di hianati oleh pemiliknya.


"Ayo taruhan, kalau aku membunuhmu, apa Matthew akan merasa sedih? Aku bertaruh untuk tidak, dia pasti bisa segera menemukan orang bodoh sepertimu lagi sebagai gantinya"


Ternyata ucapanku cukup efektif, pria itu mulai bereaksi. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak yakin.


"Aku akan membiarkanmu untuk tetap hidup jika kau mengatakan padaku di mana Matthew"


"Dia, di ruang penyimpanan, menyiapkan narkoba untuk di selundupkan" ucap pria itu pelan.


"Dia belum bertobat juga ternyata, dengan pemeriksaan ketat bagaimana dia bisa menyelundupkannya?"


"Dia akan memasukannya pada tubuh seseorang, seorang dokter sedang bersiap untuk membedahnya sekarang"


Padahal pernyataan yang aku lontarkan hanya pertanyaan retoris, tapi siapa sangka pria ini malah menjawabnya.


"Si brengsek itu benar-benar luar biasa, dia melakukan apa saja untuk bisa menyelundupkan barang haram itu, ck ck siapa yang orang yang tidak beruntung itu?"


Lagi-lagi aku melontarkan pertanyaan retoris.


"Namanya Kevin seorang yang pernah menipunya, juga seorang wanita yang bersamanya, aku rasa"


Seketika tubuhku menegang, Kevin dan wanita yang bersamanya pasti mama, dasar Matthew sialan, akan ku pastikan mengantung kepalanya di atas tempat tidurku setelah ini.


"Kau ku lepaskan, jangan sampai aku melihatmu lagi, hiduplah dengan baik" aku mengangkat aki ku yang sedari tadi menginjaknya.


Pria itu langsung bangun dengan susah payah, dan berlari memegangi kepalanya yang terluka. Ini adalah kebaikan hatiku yang pertama, sebelumnya aku tidak pernah melepaskan mangsaku.


Matthew Gill, akan kupastikan dia mati di tanganku.

__ADS_1


__ADS_2