
Bukan seperti wanita kebanyakan meminta hal yang sulit, dia malah meminta hal yang sangat sederhana.
Kalau aku bersama dengan wanita lain, mungkin isi dompetku sudah terkuras sampai habis, tapi Minki berbeda.
Dia menolak semua pemberianku, dia hanya meminta ice cream, dia persis seperti anak kecil. Dia tetap seorang gadis polos walau dia seorang pembunuh.
Kami sedang berada di atas biang Lala, melihat gemerlapnya kota di malam hari, Minki tidak henti-hentinya tersenyum.
Aku senang melihatnya, ternyata membawanya berbelanja di toko tidak bisa membuatnya sesenang ini. Tapi untungnya dia masih mau memakai kalung pemberianku, sedangkan tas yang sudah ku beli di kembalikan.
"Sangat gemerlapan, sepeti lautan berlian" ucap Minki mengagumi hamparan cahaya gemerlap lampu kota.
"Mau ku belikan berlian?"
Minki mencubit lenganku pelan, sambil melotot.
"Jangan coba-coba!" Minki mengancam ku, mengacungkan tinju dengan tangan kecilnya.
Aku meraih tangannya itu dan menggenggamnya erat, ku cium punggung tangannya.
"Kau harus meminta sesuatu supaya aku tidak terlihat seperti pria yang tidak kompeten"
"Lalu kau sebut apa kalung ini, aku bahkan takut untuk memakainya kalau-kalau hilang" Minki menunjukan leher jenjangnya yang terdapat kalung Ruby pemberianku.
"Kalau hilang, akan ku belikan lagi"
Minki langsung membuang muka sambil bergumam, entah apa yang di katakannya, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Seorang petugas membukakan pintu untuk kami, dan Minki langsung melompat keluar dengan bersemangat.
"Ayo naik wahana yang lain, aku ingin mencoba semuanya" Minki menarik tanganku, matanya berbinar saya melihat komedi putar yang di hiasi lampu-lampu.
Minki menyentuh kakinya refleks. Seharian ini kami jalan-jalan berkeliling kota, hanya diam sebentar untuk istirahat dan makan siang.
Aku memperhatikan kaki Minki, dia memakai sepatu dengan heels rendah, tapi tetap saja kelihatannya tidak nyaman jika di bawa jalan seharian.
"Kita pulang saja, apa kau tidak lelah?"
Minki menggeleng kencang, dia masih tetap menarik-narik tanganku. Tapi aku melepaskan tangannya.
"Besok kita bisa jalan-jalan lagi" ucapku lembut sambil membelai rambut Minki.
Tapi bukannya menuruti perkataan ku, Minki malah melotot ke arahku. Dia berkacak pinggang dengan wajah kesal.
"Pulang saja sendiri, aku masih ingin di sini" ucapnya ketus.
Dia benar-benar sepeti anak kecil, aku melakukan ini untuk kebaikannya, dia terlalu memaksakan dirinya hari ini, kakinya juga terluka, entah bagaimana dia bisa menahannya. Dia juga belum makan malam, dia selalu menolak dengan alasan diet.
__ADS_1
Aku balik menatapnya kesal, aku meninggalkannya sendirian. Aku berjalan menuju ke arah pintu keluar taman hiburan, sedangkan Minki juga pergi menuju komedi putar yang sedari tadi ingin di naikinya.
"Terima kasih" ucap seorang gadis muda yang menjaga toko aksesoris sambil memberikanku uang kembalian.
Aku keluar dari toko itu sambil membawa bungkusan plastik berwarna pink. Aku kembali masuk ke dalam taman bermain untuk menemui Minki, tapi dia sudah tidak ada di komedi putar.
Kemana dia?
Seseorang menabrakku dari belakang, membuatku terdorong sedikit.
"Maaf" ucap pria tua yang menabraku itu sedikit menunduk, sambil berlalu.
Pria itu membawa banyak balon di tangannya, aku rasa dia penjual balon.
"Tunggu sebentar" aku menahan tangan pria itu, dia berbalik dan memandangku bingung.
"Bisa kau berikan semua balon yang berwarna pink untukku?" Aku tersenyum membayangkan Minki, dia pasti senang jika ku beri balon, apalagi berwarna pink, warna kesukaannya.
"Tentu" ucap pria itu senang, hampir semua balon yang di pegangnya berwarna pink, hanya beberapa yang berwarna putih.
"Emm, tunggu sebentar, aku akan beli semuanya" ucapku yakin, balon putih juga kelihatan cukup cantik.
Pria itu memberikan semua balon yang di pegangnya padaku setelah aku membayar.
Setelah beberapa lama berkelilig aku menemukannya, Minki duduk sendirian di bangku taman, ku lihat sesekali dia menyapu matanya dengan ujung lengan baju. Apa dia menangis?
Aku berlutut di depannya dan memegang tangannya, ku sapu air matanya dengan saputangan yang ku bawa.
"Kenapa menangis?" Ucapku lembut.
"Aku pikir kau pergi" ucapnya serak, dia kembali menitikkan air matanya. Dia cengeng sekali.
Aku meraih kakinya, melepaskan sepatu heelsnya, membiarkan jari-jari kakinya yang cantik menyentuh tanah.
Aku mengoleskan obat pada kaki Minki yang terluka, dia terlalu lama memakai sepatu itu, kakinya melepuh,
dan mulai berair.
Setelah selesai ku ambil bungkusan yang sedari tadi ku bawa, mengeluarkan sepasang sendal rumahan berbentuk kucing berwarna pink, dan memakaikannya pada Minki.
"Kakimu terluka, kita pulang saja dan lanjutkan lagi besok" ucapku sambil mengelus-elus kakinya yang mulus.
Minki hanya diam, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya, tapi setidaknya dia sudah berhenti menangis.
Aku berdiri, memakainya bando berbentuk telinga kucing padanya. Dia terlihat lucu dan menggemaskan.
"Kau seperti kucing yang imut, aku jadi ingin mengadopsimu"
__ADS_1
Minki tertawa mendengar ucapanku.
"Orang-orang akan tertawa melihatku seperti ini" keluhnya sambil meperhatikan kakinya yang memakai sendal rumahan. Sendal itu terbuat dari bahan yang lembut, jadi Minki tidak akan terluka.
"Mereka yang tertawa pasti hanya iri, kau sangat imut dengan sendal ini" aku mencubit pipi Minki gemas.
Minki bergelantungan di tanganku, wajahnya tidak terlihat sedih lagi, senyum mengembang di wajah cantiknya.
"Ayo makan, tidak usah beralasan diet, kau harus makan banyak"
Minki mengangguk semangat.
Kami makan di food court taman hiburan, Minki memesan banyak sekali makanan, dia pasti lapar. Aku bertanya-tanya kenapa tadi dia menolak untuk makan.
"Dokter Kim?" Seorang menyentuh bahuku, aku berbalik perlahan.
Seorang wanita cantik memakai dress bunga berdiri di hadapanku, dia menggandeng seorang anak laki-laki berusia mungkin lima tahun.
Aku mengenalnya, namanya Joane.
Dia seorang wali dari pasien yang aku tangani setahun yang lalu, aku cukup bersimpati padanya karena harus jadi janda di usia muda. Sebelum sempat operasi, suaminya meninggal, aku mengingatnya karena ini kegagalan pertamaku menyelamatkan pasien.
"Oh iya, lama tidak bertemu" ucapku ramah.
Wanita itu duduk di sebelahku,
Minki menatap wanita itu penuh selidik, kenapa juga dia harus duduk di sini, Minki bisa-bisa meledak sebentar lagi.
"Sedang mengajak anakmu jalan-jalan?" kulihat anak yang sedang di gandeng Joane.
"Yaa, kau juga? Anakmu ternyata sudah besar" Joane tersenyum pada Minki, tapi Minki tidak membalas senyum itu dengan baik.
"Bukk..kan.. dia" aku bingung mau menjelaskannya bagaimana.
Minki memang terlihat sangat imut, apalagi dengan sendal dan bando kucingnya, juga balon yang terikat
di tangannya, dia kelihatan seperti gadis remaja belasan tahun.
"Anak? Aku?" Minki menunjuk dirinya sendiri dengan jari, Joane mengangguk masih dengan senyumnya.
"Dia kekasihku"
aku menyela cepat, sebelum Minki marah dan mengamuk.
Joane kelihatan terkejut, dia meraih tangan Minki.
"Aku minta maaf, aku sama sekali tidak tahu, kau kelihatan sangat muda, aku jadi iri" ucap Joane tulus.
__ADS_1
Minki tidak menggubris permintaan maafnya, dia berdiri dan berniat untuk pergi, memberiku kode dengan matanya supaya aku ikut dengannya.