ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
7. JOHAN


__ADS_3

Sebut saja aku tidak tahu diri atau apalah, yang jelas aku punya alasan kuat untuk melakukan ini.


Minki kembali duduk diam di atas sofa dengan baju yang berantakan akibat ulahku, dia menatapku dengan pertanyaan besar di dalam kepalanya.


"Kenapa? Apa aku tidak cukup cantik?" Minki bertanya, wajahnya terlihat sangat serius, pertama


kali ku lihat, biasanya dia selalu tersenyum lucu walaupun sedang berbicara hal yang penting.


"Bukan, kau sangat cantik, sungguh" aku coba merapikan pakaiannya dan menyapu lipstiknya yang berlepotan.


"Aku hanya tidak yakin"


Minki mengalihkan pandangannya kesal, dan menyilangkan tangannya. Dia tidak menggubris perkataan ku sama sekali.


"Maafkan aku, bisakah kau minta sesuatu yang lain?" Pintaku


Ku harap anak ini mengerti.


Akan sangat mudah bagiku untuk mengatakan "iya" tapi aku tidak bisa. Hal pertama yang membuatku ragu adalah jarak usia kami yang sangat jauh.


Dan lagi aku ini tersangka dalam kasus yang sedang di tanganinya, orang-orang pasti akan berfikiran buruk


pada Minki, dia akan kehilangan pekerjaannya, padahal menjadi psikolog forensik adalah keinginannya sejak dulu.


Dan satu hal yang terakhir, ini yang paling menggangguku.


Aku takut dia celaka, semua wanita yang berkencan denganku pasti meninggal di bunuh secara brutal, aku


tidak ingin Minki berada dalam bahaya. Aku tidak ingin seorang pun menyakitinya.


Kalau memang pembunuh itu


ingin aku hidup sendirian sepanjang sisa hidupku, aku akan melakukannya, aku


tidak ingin lebih banyak lagi orang yang mati karena ku.


"Beraninya kau menolakku!" Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


Aku tidak ingin dia sedih seperti ini, kenapa kami berada di situasi yang salah, seharusnya sejak awal aku tidak usah dekat dengannya.


Aku mendekat dan ingin memeluknya tapi dia menolakku, mendorongku menjauh dengan tangan kecilnya.


"Kau sangat mencintai wanita itu, pacarmu yang di temukan meninggal itu?" Minki menatapku nanar


"Ya, maaf" ucapku berbohong.


Sebenarnya aku sama sekali tidak mencintai Martha, aku hanya tidak bisa terus menerus sendirian. Aku ini laki-laki normal, aku membutuhkan seorang wanita.


Aku ingin memiliki kekasih, menikah, punya anak, dan punya keluarga seperti kebanyakan orang. Itu sebabnya aku pacaran dengan Martha.


Aku tidak mungkin berkata hal seperti itu kepada Minki, dia akan berharap kepadaku.


Penolakan ku pasti sangat melukai harga dirinya, terlebih lagi hatinya. Tapi akan terjadi hal yang buruk kalau aku bersamanya, dia pantas mendapatkan pria lain yang lebih dariku.


"Kau tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku?"


Aku memandangnya tepat di mata, aku bisa langsung tahu bahwa perasaannya padaku tulus.

__ADS_1


Hampir saja aku kelepasan berkata kalau aku juga mencintainya, tapi hp yang ada di kantung celanaku berdering menghentikanku, syukurlah.


Tony calling


"Ya Tony?"


"Bisa ke sini sekarang?"


Suara Tony terdengar panik, apa yang sedang terjadi?


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa menjelaskannya, kau tidak akan percaya jika tidak melihatnya langsung"


"Aku agak sibuk sekarang, bisa di tunda sampai besok pagi?"


"Aku rasa kau mungkin akan menyesalinya jika menundanya selama itu"


"Baiklah"


Calling end


Aku penasaran dengan apa yang akan di tunjukan Tony padaku, aku harap bukan sesuatu yang sangat buruk,


supaya aku masih bisa menyelesaikannya.


Tepat di sebelahku, Minki masih duduk sambil terisak, sial, kenapa aku mendapatkan dua masalah dalam satu


malam.


"Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang" aku meraih tangan Minki dan menuntunnya untuk berdiri.


Dia berjalan cepat menuju pintu, dia keluar dari apartemen ku tanpa memakai sepatunya, bagaimana kalau kakinya sampai terluka.


Aku mengejarnya dengan cepat, saat tetap berada di belakangnya, tiba-tiba dia berbalik, memandangku


dengan tatapan marah. Dia terlihat bukan seperti Minki yang biasa ku kenal.


"Kau akan menyesal dokter kim. Aku orang yang sangat ambisius, jadi aku akan mendapatkan mu


bagaimanapun caranya, aku akan membuat mu datang merangkak padaku, kau harus ingat kata-kata ku ini baik-baik"


Entah kenapa aku bergetar ketakutan setelah mendengar ancaman dari gadis muda yang lugu sepertinya.


Sepertinya aku sudah salah menilainya selama ini, ada sisi menakutkan dalam dirinya yang membuatku


terintimidasi hanya dengan tatapan matanya.


"Aku akan mengantarmu" ucapku pelan, dengan pandanganku yang mengarah ke arah lain, aku tidak sanggup memandangnya.


"Sudah ku bilang, aku pulang sendiri!" Minki berbalik dan aku hanya bisa memandangi punggungnya yang perlahan menjauh dan menghilang memasuki lift.


☠☠☠☠


Setelah memarkir mobilku, aku bergegas masuk ke dalam sebuah rumah duka yang juga sekaligus krematorium.


Di atas pintu masuk terdapat tulisan besar berhiaskan ukiran bunga, bertuliskan

__ADS_1


'Elizabeth Funeral


Home'


(Rumah duka elizabeth)


Tempat ini adalah milikku. Ini usaha turun temurun dari kakekku lalu ayahku, dan sekarang di turunkan padaku setelah kedua orang tuaku meninggal.


Tapi aku sama sekali tidak tertarik mengurusi orang yang meninggal, aku lebih tertarik menyelamatkan orang


yang masih hidup, itu sebabnya aku menjadi seorang g dokter, walupun awalnya orang tuaku menentang.


Sekarang rumah duka ini di pegang oleh orang kepercayaanku, Tony. Dia adalah juniorku saat kuliah kedokteran, dia sangat pintar, tapi karena sebuah kesalahan, izin dokternya di cabut.


Dia juga senarnya sama sekali tidak tertarik dengan mayat, tapi karena tidak ada pilihan lain, dan dia juga dokter bedah sama sepertiku, jadi dia bersedia bekerja di sini.


Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku memerlukan dokter bedah di sebuah rumah duka.


Jawabannya hanya satu, karena aku harus melakukan panen jenazah dan itu tidak bisa di lakukan


sendirian.


Bagi sebagian orang jenazah adalah hal yang menakutkan dan tidak berarti apapun, tapi bagiku dan Tony mereka adalah ladang penghasil uang.


Orang-orang di sekelilingku bertanya-tanya, kenapa dokter biasa sepertiku bisa sangat kaya. Bahkan apartemen tempat ku tinggal sekarang gedungnya adalah milikku, aku punya banyak peroperti bernilai milyaran atas namaku.


Lagipula para jenazah ini akan di kremasi dan menjadi abu, tidak akan ada yang tahu apa yang aku lakukan sebelumnya.


Saat aku melakukan panen jenazah, dari satu jenazah aku bisa menghasilkan puluhan ribu dolar, dan bayangkan ada puluhan jenazah dalam sehari.


Mata, jantung, ginjal, paru-paru, hati, pankreas, tulang, katup jantung, kulit dan masih banyak lagi yang bisa ku peroleh.


Kematian mereka tidak boleh sia-sia, aku akan membuat mereka yang meninggal masuk surga, dengan menyumbangkan organ mereka. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku orang yang baik.


"Ada apa?" Aku menghampiri Tony yang berdiri mematung di hadapan seorang jenazah laki-laki berumur 30an.


"Periksa saja sendiri" Tony menunjuk jenazah itu dengan telunjuknya.


Aku memeriksanya dengan hati-hati, menurutku tidak ada yang aneh dari jenazah ini, ini jenazah baru yang masih sangat bagus.


"Tidak ada masalah sama sekali" aku memandang Tony bingung.


"Itulah sebabnya, tidak ada masalah sama sekali, jenazah ini sangat bagus, dan juga dia baru saja meninggal beberapa jam yang lalu"


Dahiku mengkerut, aku sama sekali tidak mengerti apa yang di permasalahkan oleh Tony sebenarnya.


"Lalu?"


"Kita dapat tangkapan besar, organ nya hanya akan bertahan kurang dari 12 jam, jadi ayo kita panen sekarang sebelum terlambat, aku sudah menghubungi Ronan dan dia bilang, dia akan membayar mahal untuk organ sebagus ini"


Aku menghembuskan nafasku kasar, dasar kurang ajar, berani-beraninya dia mengerjai ku untuk datang cepat ke sini, aku sudah ketakutan kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk.


Aku memukul belakang kepalanya dengan keras, membuatnya terdorong ke depan.


"Dasar sial, kau membuatku hampir mati karena serangan jantung"


"Hehe, kita tidak boleh menunggu sampai besok pagi, aku takut ini akan membusuk dan harga jualnya berkurang" senyum Tony.

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya mendengus dan bersiap untuk melakukan panen besar.


__ADS_2