ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
22. JOHAN


__ADS_3

Kevin menelpon ku dan bilang Minki tidak bisa berhenti menangis semalaman, aku sangat merasa bersalah.


Padahal aku ingin menjelaskan segalanya.


Wanita yang bersama ku, bukan siapa-siapa, dia hanya sales dari produsen obat langganan ku, namanya kulkyung. Dia mengajakku makan malam untuk berterima kasih atas kerja sama kami, tidak lebih.


Sebagai pria ku akui, aku tertarik pada Kulkyung, dia wanita dewasa dengan wajah yang cantik dan tubuhnya juga bagus. Setiap pria pasti berfikiran kotor saat melihatnya. Aku pria normal jadi aku juga termasuk.


Di bandingkan dengan Minki yang berwajah imut dan bersikap kekanakan, Kulkyung ku rasa lebih baik, dia tenang dan penuh perhatian.


Tapi bukan berarti aku lebih memilih Kulkyung di bandingkan Minki, aku masih sangat menyukai Minki melebihi apapun. Entahlah rasanya ada sesuatu darinya yang membuatku tidak bisa berpaling.


Tapi saat aku mengingat-ingat jarak umurku dan Minki, rasanya aku ingin menyerah saja. Aku dan dia berbeda 16 tahun, aku lebih pantas menjadi ayahnya.


Aku memutuskan untuk mengunjungi Minki di rumahnya pagi ini, aku bahkan mengambil cuti.


Dalam satu tahun bisa di hitung dengan jari berapa kali aku mengambil cuti, aku sangat suka pekerjaanku, satu hari tanpa kerja rasanya membuang-buang waktuku yang berharga. Sebisanya aku selalu pergi bekerja walaupun aku sakit sekalipun.


Anak itu kadang berlebihan, kemarin dia bahkan membalik meja, siapa sangka dia akan melakukan hal itu di depan semua orang, separuh dari dirinya pasti sudah gila.


Aku tidak ingin Minki salah paham terlalu lama, walaupun kami tidak punya status yang jelas, tapi mengetahui Minki menyukaiku sampai sebesar itu membuatku tidak nyaman, kejadian kamarin pasti sangat menyakitinya.


Aku terhenti tepat di depan komplek rumah Minki, aku melihat mobilnya keluar dari komplek dengan cepat, aku hapal plat nomer mobilnya. Nomernya sama sepertiku 777 dengan kode yang berbeda, mungkin hanya kebetulan.


Cutiku akan sangat sia-sia jika aku tidak bisa bertemu Minki hari ini, jadi ku putuskan untuk


mengikutinya.


Pagi-pagi begini paling dia hanya akan pergi bekerja, mungkin saja ada kasus besar yang terjadi makanya di


terburu-buru.

__ADS_1


Tapi ternyata tebakanku salah, bukannya ke kantor polisi, Minki malah menuju sebuah gedung apartemen, entah dia ingin menemui siapa di sini.


Aku mengikutinya masuk ke gedung apartemen itu, jarak kami memang cukup jauh karena Minki berjalan sangat cepat, lebih seperti berlari.


Aku memanggilnya berkali-kali tapi dia tidak mendengar, sampai akhirnya di menghilang, naik ke lantai atas mengunakan lift, dan lagi-lagi aku tidak berhasil menyusulnya.


Minki menuju lantai paling atas, padahal seingatku lantai paling atas di gedung apartemen ini adalah


sebuah taman yang di buat di atap, pemandangannya lumayan bagus, tempat yang nyaman untuk bersantai.


Aku tahu banyak karena aku pernah ke sini untuk mengunjungi Kulkyung, kami mengobrol di atap saat senja hari, langit yang berwarna kemerahan snagat indah.


Aku baru ingat kalau Kulkyung tinggal di sini. Selagi di sini mungkin saat pulang nanti aku bisa mengunjungi Kulkyung, hanya sekedar untuk mengucapkan hai.


Mungkin aku juga harus mempertemukannya dengan Minki. Ya itu ide yang bagus. Lebih mudah bagiku untuk menjelaskan pada Minki bahwa aku dan Kulkyung tidak ada hubungan apapun.


Setelah di pikir-pikir, untuk apa aku menjelaskan hubunganku dengan Kulkyung pada Minki, sedangkan aku dan Minki juga tidak punya hubungan apapun. Aku pasti gila.


Aku menuju lantai atas dengan lift selanjutnya, gedung apartemen ini memiliki 25 lantai.


Aku hendak kembali turun, tapi sebuah teriakan menghentikan langkahku.


Aku berlari menuju asal suara.


Minki sedang berdiri di pinggiran pagar pembatas sambil melihat ke arah bawah, pantas aku tidak melihatnya tadi, dia berada di belakang tandon air.


Aku menghela nafas lega, ku pikir terjadi sesuatu padanya, tapi suara teriakan itu, bukan seperti suara Minki.


Aku mendekati Minki pelan, aku ingin mengagetkannya. Aku mengikuti arah pandangannya ke arah bawah gedung.


Dari atas ku lihat orang-orang berkumpul mengerumuni sesuatu, aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi aku melihat becak merah di jalanan.

__ADS_1


Minki memandangku terkejut, sedari tadi dia tidak sadar kalau aku ada di sana.


"Dokter Kim?"


Aku mundur perlahan menjauhinya setelah sadar apa yang terjadi, aku yakin suara teriakan itu berasal dari seseorang yang jatuh dari atas gedung. Dan satu-satunya orang yang pantas untuk di curigai adalah Minki.


"Aku bisa jelaskan" Minki ingin meraih tanganku tapi aku refleks langsung manjakan ya dari jangkauan minki.


Aku memandang Minki yang matanya mulai berkaca-kaca. Aku bingung harus bereaksi seperti apa.


Aku tahu Minki punya sisi kejam dalam dirinya, dia bahkan membantai penculik yang menculik anak-anak dirumah sakit tua satu bulan yang lalu.


Tapi ku pikir itu hanya karena dia marah dan tidak terima dengan perlakukan kasar para penjahat itu pada anak-anak.


Bagaimana bisa di mendorong jatuh seseorang dari lantai 25, kesalahan apa yang di perbuat orang itu sampai Minki tega membunuhnya.


Aku syok sesaat, bahkan aku tidak bisa berkata-kata, pikiranku kacau seketika.


Tapi sepertinya hati dan pikiranku bertolak belakang, saling menentang satu sama lain.


Harusnya aku berlari menjauh atau menghindarinya, sudah cukup banyak masalah dalam hidupku dan aku menambah satu masalah lagi, tidak mungkin.


Perasaanku pada Minki lebih besar dari yang ku kira. Aku menarik Minki dan membawanya turun dari atap.


Aku berhasil turun sampai ke lantai dasar, aku dan Minki berlagak seperti orang yang kebingungan, bergabung dengan kerumunan orang yang sedang melihat petugas medis melakukan pekerjaan mereka.


Aku sempat melihat sekilas siapa sebenarnya yang jatuh.


Jantungku rasanya berhenti berdetak selama beberapa detik, ku lihat tubuh Kulkyung yang tidak bernyawa bersimbah darah, kepalanya pecah dan isinya berhamburan di jalanan. Tubuh sexynya sudah tidak berbentuk lagi, tulang-tulang nya pasti banyak yang patah. Wajah cantiknya pun berubah menjadi menyeramkan.


Aku memandang Minki yang berada di sampingku, aku masih menggenggam tangannya, dia hanya tertunduk tidak berani melihat ke arahku. Kalau ini memang perbuatannya, dia sangat keterlaluan.

__ADS_1


Aku menariknya kasar menuju mobilku yang ku parkir di pinggir jalan tidak terlalu jauh dari gedung apartemen itu.


Akan ku bawa Minki pergi jauh dari sini, aku harus bicara berdua dengannya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2