ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
29. JOHAN


__ADS_3

Aku tidak menyangka kalau anak yang ku tolong sepuluh tahun yang lalu itu adalah Minki.


Siapa yang tahu, ternyata dunia sesempit ini. Sebenarnya tidak sesempit itu, Minki mengaku kalau dia mulai mengikuti dan mencari tahu segala hal tentangku sejak saat itu.


Yang awalnya hanya ingin mengucapkan terima kasih, sampai akhirnya dia menyukaiku. Sekarang rasa penasaranku terjawab, kenapa gadis muda sepertinya bisa-bisanya suka pada pria dewasa sepertiku.


Melihat Minki yang hidup dengan baik sampai dengan hari ini, membuatku bangga dengan diriku sendiri.


Tapi jika mengingat dia mulai menjadi psikopat dan kecanduan membunuh karena aku, aku juga jadi merasa


bersalah. Dia sangat nekat sampai melakukan hal gila itu supaya tidak ada satupun wanita yang bisa bersamaku.


Mulai sekarang akan ku pastikan tidak akan ada lagi nyawa yang melayang karena ulahnya. Semuanya tergantung sikapku.


Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak bisa menahan diriku sendiri.


Belum genap satu bulan aku mulai berkencan dengan Minki tapi aku ingin serius dengannya, sebut saja aku


pria tua tidak tahu diri, tapi aku sangat mencintainya.


Aku bahkan menerima kenyataan bahwa dia seorang psikopat, apa lagi yang perlu di ragukan dariku, aku serius mencintainya.


"Bagaimana dengan yang ini?" Seorang wanita menunjukan sepasang cincin berwarna silver dengan butiran kecil berlian.


Aku rasa itu cincin yang cantik, tapi berlian sekecil itu tidak cukup bagus untuk jari Minki, aku harus memberikannya cincin yang mencerminkan dirinya.


Dia adalah gadis yang manis, cantik, lugu, tapi sangat berbahaya.


"Kau punya cincin yang lebih terlihat mewah dari ini, terkesan kuat dan, agh bagaimana cara menjelaskannya..." Aku menggaruk belakang kepalaku bingung.


Aku melihat-lihat kembali isi dari etalase kaca di hadapanku. Tidak ada satupun yang cocok untuk Minki.


Apa sebaiknya aku ke toko lain saja?


"Bagaimana dengan yang ini, ini terlihat sangat mewah dan warna hitamnya terlihat kuat" sekali lagi wanita pegawai toko perhiasan itu menunjukan sepasang cincin.


Aku langsung terpana melihatnya. Ini memang cincin yang sangat cocok untuk Minki, dia akan sangat cantik saat memakainya.


"Black titanium akhir-akhir ini sangat populer untuk cincin pernikahan" sambung wanita itu.


"Aku ambil yang ini, bisa kau bungkus sekarang?"


"Tentu, saya akan menyiapkannya" ucap wanita itu sigap.

__ADS_1


Aku berlari menembus jalanan kota yang ramai, aku tidak boleh terlambat, aku sudah menyiapkan ini selama seminggu penuh tanpa sepengetahuan Minki.


Aku bahkan meminta tolong pada Kevin. Bukannya aku tidak tahu bagaimana perasaannya pada Minki, tapi siapa lagi yang bisa ku mintai tolong.


Tidak mungkin meminta tolong pada Tony, dia sendiri sedang sibuk berperang dengan Thomas masalah Hannah, gadis yang selama ini dekat dengan Thomas. Mereka sepertinya terlibat cinta segitiga yang rumit.


Aku mengajak Minki pergi dengan alasan jalan-jalan, pastinya Minki tidak akan menolak ajakanku.


Malam ini akan ku buat dia menangis karena bahagia.


Aku mengajak Minki ke sebuah gedung, itu gedung milikku yang baru keu beli beberapa bulan yang lalu, di sana tempat yang tepat untuk melamar Minki.


Letaknya berada di tengah kota, di kelilingi gedung-gedung yang lebih tinggi. Aku menyediakan makan malam untuk kami berdua di sana.


Aku sudah terlebih dahulu berada di sana, sedangkan aku menelpon ini supaya dia datang. Gedung itu sudah ku kosongkan, jadi tidak akan ada masalah.


Hp ku berdenting, sebuah pesan masuk, ini dari Kevin. Aku menyuruhnya mengawasi Minki saat dia datang.


Kevin


Hei brengsek, tuan putri sudah di sini.


Dasar bocah satu ini, berani-beraninya dia mengatakan aku brengsek, dia seakan tidak ingat bahwa aku pernah menyelamatkan nyawanya.


Tidak ada niat sedikitpun untuk membalas pesannya, aku langsung memasukan kembali hpku kedalam kantong.


Minki berjalan perlahan menaiki tangga yang di lapisi karpet berwarna merah, aku sengaja mematikan lift supaya Minki naik ke atas sini menggunakan tangga.


Aku menunggu kemunculan Minki was-was.


Minki muncul dari balik pintu. Dia terlihat sangat cantik.


Dia memakai dress berwarna pink, di padukan dengan jaket kulit berwarna hitam, kakinya terlihat cantik dengan heels yang juga berwarna hitam.


"Dokter Kim?"


Minki kaget melihatku memakai stelan jas rapi dengan memegang buket bunga mawar, apalagi di tambah dengan meja makan malam yang di dekorasi sedemikian rupa menjadi sangat indah, aku rasa ini sudah cukup romantis.


Minki menyambut buket bunga mawar yang ku berikan padanya. Aku menuntunnya untuk duduk.


"Wow, aku tidak tahu ternyata kau bisa sangat romantis"


"Aku rasa, aku harus melakukannya sekali-kali"

__ADS_1


Aku menuangkan Champagne ke dalam gelas di hadapan Minki.


"Kau menyiapkannya sendiri?" Tanya Minki penasaran.


"Seseorang membantuku"


"Aku akan berterima kasih padanya untuk kejutan manis ini" ucap Minki sambil tersenyum, dia masih saja memeluk buket bunga yang tadi ku berikan.


"Aku akan menunjukan mu sesuatu" aku menarik tangan Minki.


Membawanya menuju pagar pembatas, memperlihatkannya jejeran gedung-gedung tinggi yang di hiasi lampu.


Di salah satu gedung terdapat layar besar yang biasa di gunakan untuk iklan.


"Apa yang perlu ku lihat?" Minki menatapku penasaran.


Aku memeluknya dari belakang, melingkarkan tanganku pada pinggangnya.


Tiba-tiba layar iklan yang tadinya kosong, berkelap-kelip cepat. Sedetik kemudian menampilkan sebuah kalimat.


Minki menutup mulutnya refleks karena kaget, aku melepaskan pelukanku padanya.


Saat Minki berbalik untuk melihatku, aku berlutut di hadapannya, memegang kotak cincin.


"Will you marry me?" Aku berkata, menirukan kalimat yang muncul di layar.


Untuk sekian detik, Minki hanya diam, menatapku tidak percaya, aku sendiri bahkan tidak percaya bisa melakukan hal semacam ini.


Aku meraih tangan Minki, memakaikan cincin di jari manisnya tanpa menunggu dia menjawab.


Minki menangis dan langsung memelukku, sudah ku bilang sebelumnya, akan ku buat dia menangis karena


bahagia.


Aku balas memeluknya, senang rasanya bisa menyelesaikan ini tanpa hambatan, walaupun awalnya aku


sangat gugup.


Tidak berapa lama, terdengar suara ledakan kecil di atas langit. Kami berdua sama-sama melihat ke arah atas.


Minki tersenyum senang saat melihat kembang api yang meluncur cantik dan meledak membentuk bunga api yang cantik di langit.


Aku yakin Kevin yang melakukannya, padahal ini sama sekali tidak ada dalam secenarioku. Aku akan berterima kasih padanya nanti.

__ADS_1


Minki mendekatkan wajahnya padaku dan memberiku kecupan singkat.


Sekarang hanya tinggal merencanakan pernikahan kami.


__ADS_2