
APV silver yang membawa anak-anak itu berhenti di depan bangunan tua pinggiran kota, sebuah bekas rumah sakit jiwa yang sudah tidak terpakai lagi.
Ada cerita seram di sana yang entah di sebarkan oleh siapa, sehingga orang-orang menghindari tempat itu.
Aku juga menghindarinya, karena aku takut hantu.
Mobil yang ku kendarai berhenti cukup jauh dari tempat itu, tapi aku masih bisa memantau apa yang terjadi di sana.
Setelah turun dari dalam mobil anak-anak di paksa masuk ke bangunan tua itu. Ada beberapa anak yang di pukul dan di tendang karena melawan perintah, anak-anak itu hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.
Aku teringat dengan diriku yang sering di pukuli oleh Jonathan, ayah tiriku, sejak kecil, melihat itu membuat kenangan yang menyakitkan muncul kembali.
"Para manusia sampah itu seharusnya mati saja" aku berkata geram.
Johan melihatku bingung, aku tahu apa yang ada di kepalanya, bisa ku lihat dia juga marah saat melihat anak-anak di sakiti, dia sedang menunggu apa yang akan ku lakukan selanjutnya. Tapi aku hanya diam sambil meremas ujung bajuku.
Mobil berlahan berjalan mundur, aku memutar stir ke arah kiri dan putar balik lalu pergi dari tempat itu secepat kilat untuk kembali ke kota.
Ku hentikan mobil di pinggir jalan, aku keluar dari mobil dan meremas-remas kepalaku frustasi.
Kalau saja aku tidak sedang bersama Johan sekarang ini, aku pasti akan membunuh para sialan itu, tidak peduli apa, bahkan hantu sekalipun.
"Kenapa kita malah ke sini? Kita seharusnya menunggu polisi datang di tempat yang terlihat" Tentu saja Johan penasaran, karena aku malah berhenti di tempat sepi yang di penuhi ilalang tinggi, bukannya menunggu kedatangan polisi.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Johan, aku meraih hp yang ada di kantongku dan segera menelpon Baekho.
"Bagaimana kau berhasil mengikutinya?" Terdengar suara Baekho di seberang sambungan telpon
"Aku kehilangan mereka, aku mengikuti mobil yang salah, aku akan kembali, kau juga kembali saja, kau lebih baik mengintrogasi suaminya"
"Kau gila?!! Aku sudah mengerahkan seluruh anggota tim untuk turun, tapi kau dengan santainya bilang
kalau kau salah!! Kau membuang-buang waktuku!!"
Baekho menutup telpon dengan kasar, bisa di bayangkan bagaimana kesalnya dia padaku sekarang. Tapi siapa peduli, aku kan menyelesaikan kasus ini dengan caraku sendiri. Omelan Baekho tidak berarti apapun bagiku.
Udara di sini cukup segar, tanpa ada polusi dari asap kendaraan. Aku mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan, mencoba membuat diriku tenang. Tapi tidak berhasil.
Johan menghampiriku dan menarik bahuku.
"Kita mengikuti mobil yang benar, kenapa kau malah berkata sebaliknya kepada polisi" Johan tidak habis pikir dengan tingkahku yang berubah tiba-tiba. Dia menuntut penjelasan yang masuk akal, tapi aku tidak akan memberikannya.
"Karena kita salah, berhenti protes dan duduk saja dengan tenang, mengerti!!"
Johan langsung terdiam mendengar ucapanku. Dia pasti syok karena sudah dua kali melihat sisi lain dari
diriku yang belum pernah di lihatnya sebelumnya.
Sepanjang perjalanan kembali aku hanya diam, Johan juga tidak berani bertanya apapun lagi.
"Terima kasih atas tumpangannya, dan lupakan yang terjadi tadi, anggap saja kita tidak pernah ke
__ADS_1
sana" aku membanting pintu mobil dan langsung berlari memasuki rumah dengan tergesa-gesa.
☠☠☠
Di sisi lain
Johan membolak-balik posisi tidurnya untuk menemukan posisi yang tepat, tapi tetap saja dia tidak bisa tidur, bahkan tidak sedetikpun.
Dia masih memikirkan kejadian tadi, mengejar penjahat, berhasil menemukan mereka, tapi malah melepaskannya begitu saja, ini sesuatu yang tidak benar.
Johan juga sudah berusaha menghubungi Minki kembali tapi telponnya mati.
Dengan rasa penasaran yang memuncak Johan memutuskan untuk pergi ke bangunan bekas rumah sakit jiwa itu malam ini, terlalu malam memang, ini sudah jam dua pagi, tapi mau bagaimana lagi, Johan adalah tipe orang tidak bisa diam dengan sesuatu hal yang mengganjal di hatinya.
☠☠☠
Aku berjalan menyusuri lorong gelap rumah sakit jiwa tua itu dengan bantuan kacamata infrared.
Tiga orang yang berjaga di depan sudah ku bantai sampai tidak bisa lagi bergerak. Aku sudah menebas lehernya, mustahil mereka bisa bertahan hidup.
Kugenggam erat pistol berperedam di tangan kananku, sudah cukup lama berkeliling tapi aku tidak menemukan dimana anak-anak itu di kurung.
Apa mereka sudah di pindahkan selama selang waktu aku meninggalkan tempat ini tadi?
Tanpa sengaja aku melihat cahaya di sebelah kanan lorong, aku mencoba untuk mendekat dan mengintip
sedikit. Ada beberapa orang sedang asik berpesta dengan minuman keras di sana.
Saat mereka menyadari keberadaanku, aku melihat sekeliling, mencari tombol lampu.
Hanya butuh dua detik, aku berhasil meraih tombol lampu dan mematikannya, keadaan berubah menjadi gelap gulita, tidak ada lagi cahaya untuk bisa melihat. Tapi tidak masalah bagiku karena aku memakai kacamata infrared.
Aku menarik seorang yang berada paling dekat denganku, aku mengambil pisau yang terselip di sepatu boots ku, dan menusuk perutnya hingga robek, ku tarik keluar ususnya dan ku lemparkan ke lantai. Karena aku melakukannya dengan sangat cepat, dia bahkan tidak sempat berteriak.
Tidak puas dengan itu, aku tidak sengaja melihat kapak yang ada di sudut ruangan, aku mengayunkan kapak
itu ke salah seorang yang lain, aku menggunakan kapak itu seakan-akan sedang menebang pohon. Aku melihat kepala menggelinding di bawah kakiku, membuatku tersenyum puas.
Masih tersisa banyak orang, aku harus membunuh mereka semua sebelum mereka menyalakan lampu kembali.
Aku juga mencabik-cabik seorang lainnya yang tubuhnya dua kali ukuran tubuhku, menusuk matanya dengan pisau, dan memukul kepalanya dengan bagian tumpul kapak sampai pecah.
Memotong pergelangan tangan dan kaki untuk seseorang yang lainnya, karena muak dengan teriakan kesakitannya, aku memutuskan untuk memotong lidahnya supaya dia tidak bisa bersuara lagi, dan berhasil tidak ada suara yang terdengar lagi, hanya rintihan kecil seorang yang sekarat sebelum mati.
Aku menyalakan kembali lampu, seketika ruangan kembali terang, ruangan yang tadinya berwarna putih keabuan sekarang berubah menjadi merah kehitaman. Dengan darah mereka yang ku bantai aku yakin bisa mengecat seluruh tembok di gedung ini.
Masih ada satu orang yang belum ku bereskan, aku sengaja membiarkannya hidup, karena hanya dia yang kelihatannya paling lemah dan bodoh.
pria yang tersisa itu merinding ketakutan setelah melihat mayat teman-temannya bergelimpangan, dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Aku menendangnya pelan, mencoba untuk menyadarkannya dari keterkejutannya.
"Tolong ampuni aku" pria itu berlutut sambil menangis, dasar lemah.
__ADS_1
"Saat anak-anak berkata seperti itu, apa yang kau lakukan pada mereka?" Aku berjalan mendekat, masih memegang pistol dan juga pisau yang sangat tajam.
"Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi"
"Dimana kau sembunyikan anak-anak itu"
"Mereka ada di lantai tiga, di ruangan paling ujung, ini kuncinya" pria itu melemparkan sekumpulan kunci padaku.
Bruk
Seseorang memukul ku dari belakang menggunakan balok kayu, aku jatuh seketika. Aku masih dalam kondisi sadar walau kepalaku agak pusing, tapi aku tidak bisa bangun.
Tubuh sialan ini kenapa malah langsung lumpuh hanya dengan satu pukulan. Padahal aku masih belum selesai, anak-anak masih belum di bebaskan.
"Kau kira kau hebat!! Apa yang telah kau lakukan pada mereka!!" Seorang pria memakai jas berwarna cream mendekatiku dan menginjak tanganku, membuatku meringis kesakitan.
"Untuk ukuran seorang gadis, kau sangat hebat, bagaimana kalau bergabung denganku, kita bisa menghasilkan banyak uang dari bisnis kotor ini"
"Aku lebih baik mati daripada harus bekerja sama sama dengan sampah sepertimu" aku tersenyum
menghina, pria itu dia semakin menekankan kakinya pada tanganku, aku pikir tanganku akan remuk.
Pria itu meludahiku, mengenai jaket boomber yang aku pakai, kalau saja ludahnya itu mengenai
wajahku, akan ku pastikan dia hanya akan ku biarkan hidup dan ku siksa setiap harinya.
"Dia membantai mereka semua bos" pria yang tadinya menangis bersuara. Dasar pengecut, saat bosnya datang tangisannya langsung berhenti dan sekarang bertindak sok kuat.
"Waaa kalau begitu dia juga harus mati" pria itu mengarahkan pistolnya kepadaku.
Bukannya takut, aku malah tersenyum menghina, dengan menaikan sebelah alisku. Membuat pria itu geram.
Tepat sebelum pistol di tembakan seseorang menendang pria tinggi itu dari belakang membuat tembakannya meleset jauh.
Johan mengayunkan tinjunya dan berhasil mendarat dengan mulus di pipi pria itu.
Aku tertegun melihat Johan yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Dia berusaha menolongku.
Tidak terima pria itu balas menendang membuat Johan terhuyung ke belakang. Perkelahian yang sama sekali tidak seimbang karena badan Johan yang lebih kecil.
Sementara Johan melawan pria bertubuh tinggi itu, aku berusaha bangun menyeimbangkan tubuh yang saat
ini tidak bisa di ajak kerjasama. Ku ambil kapak yang tadinya terlempar tidak jauh dariku.
Dengan langkah gontai aku berjalan pelan mendekati pria yang sedang melawan Johan, saat pria itu lengah
aku mengangkat kapak tinggi-tinggi, mengayunkannya dengan sekuat tenaga dan menebas kepalanya tapi meleset.
Aku jatuh terduduk tak berdaya.
"Kau tidak apa-apa" Johan menghampiriku, merebut kapak yang ku pegang dan melemparnya jauh-jauh.
__ADS_1
"Tidak apa-apa" ucapku lemah sebelum akhirnya pinsan. Itulah saat terakhir yang aku ingat.