ONE SHOT ALL KILL

ONE SHOT ALL KILL
13. JOHAN


__ADS_3

Tubuhnya menggeliat-geliat karena kepanasan, seperti cacing yang terpenggal menjadi dua, cukup menghibur


untuk di lihat.


Dia adalah pria yang menodongkan senjatanya pada Minki, jika aku tidak datang mungkin Minki sudah di tembak.


"Kau membakarnya hidup-hidup!" Tony berteriak sambil menunjuk tubuh yang masih menggeliat-geliat di balik pintu kaca ruang kremasi.


"Ya lumayan lucu melihatnya bergerak saat di bakar seperti itu, aku baru pertama kali melihatnya"


"Apa anda sakit dokter Kim? Kenapa tiba-tiba anda jadi aneh seperti ini?"


Tony mengguncang-guncang tubuhku tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan.


Jangankan Tony, aku saja kaget dengan tingkahku saat ini, kenapa aku bisa menjadi orang sangat tidak berperasaan seperti ini, seperti bukan aku yang bisanya.


Entahlah, Aku hanya merasa sangat marah saat melihatnya menyakiti Minki, jadi menurutku hukuman semacam ini pantas untuknya.


Aku mengabaikannya ucapan Tony dan mengambil hp dari dalam kantong jaketku, menekan beberapa tombol, berharap seseorang akan langsung mengangkatnya saat.


"Wah suatu kehormatan kau menghubungiku terlebih dahulu, biasanya kau selalu menyuruh Tony untuk berurusan dengan orang bawah sepertiku"


Suara di sebrang sana terdengar sangat bersemangat, aku tidak ingat kapan terakhir aku menghubunginya, mungkin bertahun-tahun yang lalu. Aku tidak ingin terlalu dekat dengannya karena mungkin akan berpengaruh pada karirku.


Dia adalah Ronan. orang yang selama ini menjadi penadah untuk organ yang ku jual. Dia juga bisa di andalkan pada saat aku memerlukan koneksi dengan orang bawah, sebutan untuk orang-orang yang bekerja kotor, seperti pembunuh bayaran, pengedar narkoba, penyelundup senjata dan lain sebagainya.


"Yaaa" aku hanya menjawab omong kosongnya dengan kata ya yang panjang.


"Jadi kenapa menelponku? Ada barang bagus lagi? Aku akan mencarikan mu pembeli dengan harga termahal, tapi jangan lupa bagian untukku"


"Tidak, aku menghubungimu bukan untuk itu"


"So??"


"Aku memerlukan cleaner, aku tidak sengaja membuat kekacauan dan membunuh banyak orang, bisa bersihkan untukku?"


"Pria suci sepertimu membunuh? Tidak bisa di percaya"


Ronan tertawa meremehkan, beberapa kali dia terdengar membuang nafas dengan keras.


"Bisa atau tidak?" Ucapku tidak sabar.


"Oke oke, dari dulu kau ini memang tidak sabaran ya. Baiklah kirimkan alamatnya padaku, aku akan membereskannya untukmu"

__ADS_1


"Bereskan sebelum pagi, aku akan transfer uangnya langsung padamu"


"Astaga ini saja sudah hampir pagi, bagaimana bisa aku menyelesaikannya secepat itu"


"Aku akan membayarnya dalam dolar, batas waktumu sampai jam tujuh pagi, jika selesai lebih cepat, setiap menit yang tersisa akan ku kalikan dengan bayaranmu"


"Itu baru namanya kesepakatan, deal, senang berbisnis denganmu"


Gelak tawa Ronan terdengar sebelum aku menutup telpon. Manusia di dunia ini akan lemah dengan yang namanya uang, tanpa terkecuali.


Tony yang sedari tadi berdiri di sebelahku tidak bisa berkata apa-apa.


"Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi sekarang ini? Kenapa kau memerlukan cleaner?" Sangat terlihat raut bingung di wajahnya, tapi aku tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaannya.


"Saat pria itu sudah menjadi abu, buang saja abunya dalam toilet" ucapku santai sambil


menepuk-nepuk bahu Tony.


"Itu menakutkan! Bagaimana bisa aku membuangnya ke dalam toilet yang setiap hari ku gunakan,


bagaimana kalau dia berubah jadi hantu dan berdiam diri di toilet" Tony mulai lagi dengan khayalan gilanya.


"Bukannya itu bagus, kau akan punya teman di toilet, kau kan biasanya takut jika ke toilet sendiri"


Aku harus pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah yang lainnya.


☠☠☠


"Lebih tinggi lagi, kalau seperti itu kakinya masih bisa menginjak tanah!" Aku mengintruksikan kepada dua orang pria yang sedang menarik tali sekuat tenaga.


Di ujung tali itu, seorang pria lain tergantung dengan tali yang melilit lehernya, dia masih hidup, dia


meronta-ronta karena sulit bernafas akibat lilitan tali. Aku tersenyum puas melihatnya.


Sebenarnya aku kasihan padanya, tapi dia juga termasuk orang yang melukai Minki ku, jadi dia juga pantas mati, aku akan menyamarkan kematiannya dengan bunuh diri.


Membayangkan Minki yang sekarang tidak berdaya terbaring di tempat tidur membuatku khawatir, setelah menyelesaikan ini, kau akan pulang dan menemuinya, ku harap dia baik-baik saja di apartemen ku sendirian.


"Bos sudah selesai"


Pria yang tadinya menarik tali berseru padaku, ku lihat talinya memang sudah terikat cukup kuat, dan pria yang tergantung itu sedang meregang nyawa.


Ini sesuatu yang biasa bagiku, melihat orang yang hidup dan mati, di rumah sakit tempatku bekerja, kematian terjadi setiap hari, begitu juga keajaiban untuk tetap hidup.

__ADS_1


"Baiklah, kerja bagus semuanya" aku terkekeh senang.


"Yah selanjutnya masukan anak-anak ke dalam container, buat seakan-akan mereka akan di kirimkan ke luar negri, lalu telpon polisi, biarkan mereka menemukan anak-anak itu sendiri"


"Baik bos"


"Dan juga pastikan, kalian tidak meninggalkan jejak apapun"


Mendengar perintahku, kedua orang pria berbaju hitam itu mengangguk, lalu pergi untuk menjalankan tugas


yang ku berikan.


Mereka sebenarnya anak buah Ronan yang ku pinjam untuk melakukan hal kotor ini. Tentu saja bayarannya sangat mahal, mengingat Ronan itu pria tua yang mata duitan.


☠☠☠


"Kau yang memasak semuanya dokter Kim?" Minki menatap takjub makanan yang berjejer di atas meja, aku sengaja menyediakan makanan kesukaannya. "Ternyata kau punya bakal tersembunyi" pujinya sambil bertepuk tangan pelan.


"Sebenarnya, ini dari layanan pesan antar" aku tersenyum malu, padahal Minki sudah memujiku dengan penuh semangat.


"Aaahhh" Minki hanya mengangguk sambil kembali menyuap sesedok nasi ke dalam mulutnya.


Malam itu aku melihat segalanya. Saat aku sampai di rumah sakit tua malam itu, aku melihat Minki yang sudah berlumuran darah.


Awalnya aku khwatir, aku takut dia terluka, tapi saat aku mendekat dan melihat dengan jelas, yang terlihat olehku adalah Minki yang memegang pisau penuh darah segar, dia tertawa menyeramkan sambil menendang-nendang tubuh seorang pria yang sudah tidak bernyawa di tanah.


Saat itu aku sadar siapa Minki sebenarnya. Tidak akan ada yang mengira kalau gadis cantik, lugu, dan terlihat lemah ini ternyata punya sisi gelap yang sangat menakutkan.


Harusnya aku tidak melibatkan diri dengan monster sepertinya, seharusnya malam itu aku lari saja dan berpura-pura tidak melihat apapun, aku seharusnya menjauhinya.


Tapi pada kenyataannya aku malah menolongnya, membereskan masalahnya, membawanya pulang ke rumah dan makan berdua dengannya sambil tertawa, otakku mungkin sudah tidak waras. Aku harus ke psikiater secepatnya. Aku bahkan berbohong dengan pura-pura tidak tahu di depannya.


Pada saat makan berdua dengannya seperti ini pun, aku terbayang kejadian semalam. Jujur aku takut


berada di dekatnya, tapi bodohnya aku lebih takut lagi jika dia tidak berada di dekatku.


Yang benar saja, pembunuhan! Aku menentang segala perbuatan brutalnya.


Selama hidupnya, ibuku mendidik ku dengan keras, aku tidak terbiasa untuk berbohong, aku selalu berbuat baik dan melakukan yang terbaik, aku bahkan menyumbangkan 70% pendapatan ku untuk amal.


Tapi aku malah berubah menjadi monster dalam waktu semalam hanya karena Minki.


Aku benar-benar gila kan?

__ADS_1


__ADS_2