
BRUUUK...
Punggungku menghantam tembok, kurasa sakit yang teramat menjalar keseluruhan tulang rusuk.
"Aduh," rintihku menahan sakit, untuk ukuran umur yang terbilang mulai menua, tulangku paling rentang retak.
"Heh! Bocah sialan, belagu betul kau jadi orang!" bentak siswa berjaket kuning mendorong tubuhku untuk kedua kalinya punggungku membentur dinding untuk, aku tak bisa bergerak lengannya menahan dadaku untuk tetap menempel di dinding.
Apa-apaan dah bocah ini, aku gak belagu jadi orang.
"Mentang-mentang anak baru, cari masalah dengan kami! Sok berani kau!" Seru seorang dari mereka.
Ha? Mutuku terbuka. Aku tak mengerti maksudnya apa coba. Sejak kapan aku menantangnya bahkan aku saja gak tahu siapa mereka.
"Apa maksudmu hem? Cari masalah dengan kami, mau main-main dengan kami? Kau tahu tidak siapa kami?" Lanjutnya yang tidak aku mengerti sama sekali.
"Maaf aku tidak tahu apa yang kau maksud," cicitku
"JANGAN SOK TAK TAHU B*NGS*T! KAU YANG BILANG AKU SERING MAKAN NGUPIL! JILAT MUNTAH SENDIRI! TAK SETIA TEMAN! APA KAU TAHU MENGHINAKU SAMA SAJA MENJELEKKAN RED BRIDAL?!" Siswa berjaket kuning menyalak depanku\, dua tiga butir air liur muncrat ke wajahku.
Sungguh aku tidak menghina dia, bahkan aku tidak mengenal dia ataupun geng mere-
Wuuusss...
Mataku melebar melihat tinju melayang kearahku, gerakannya terlihat kepalaku reflek menghindar sehingga tangannya menghantam tembok.
"Eakh! Bang**t!" erangannya kesakitan melepaskan tangannya yang menahan dadaku.
"Apa yang kalian lihat b*ngs*t?! Serang dia!"
Dia tak memberiku kesempatan untuk bicara, anak buahnya langsung menyerang ku. Aku panik sepanik paniknya, takut wajahku atau tubuhku terkena bogem mereka, toh mereka main keroyok. Sedangkan aku singel.
Wuuusss...
Aku menghindar setiap serang mereka. Aku yang kecepatan atau mereka yang lambat, pukulan mereka dapat aku lihat, bahkan sangat jelas sampai aku bisa menghindari.
Sudah cukup bermain maninya, akhiri permainan ini dan jelaskan padanya aku tidak bersalah. Aku mengambil jarak dan menyerang balik.
HAA!
BUUUK...
BAKK...
Terjangan dan pukulan menghantam mereka sampai terjungkal ke tanah, melihat anak buahnya terjatuh siswa berjaket kuning itu diam menahan tangannya yang kutebak masih terasa sakit. Dia nampak terkejut aku menjatuhkan anak buahnya, diluar dugaan bukan?
Aku melangkah maju mendekatinya, berdiri tegak dihadapannya menatap matanya yang tajam menatapku.
__ADS_1
"Aku tak punya masalah denganmu dan asal kau tahu, sedikitpun aku tak pernah menyinggung atau menjelekkan kau, aku anak baru disini aku bahkan tidak tahu siapa kau. Percaya atau tidak itu terserah pada kalian yang pasti aku bicara jujur," kataku tegas, mengambil tas yang tergeletak di tanah dan pergi dari sana secepatnya.
"Hey! Mau kemana kau?!" Aku tidak menghiraukan teriakan siswa itu, menjauh darinya sekarang adalah pilihan terbaik untuk keamanan.
Ais, ada-ada saja. Siapa lah yang mengadu domba kami? Senang sekali dia melihatku menderita. Entah kenapa tiba-tiba langkahku berhenti, satu orang yang terlintas di pikiranku.
Deon.
Apa dia yang mengadu domba? kalau diingat dia sangat dendam padaku.
Apa mungkin orang sepertinya melakukan hal sekotor ini?
Tanganku mengepal erat benar atau tidak dia melakukan itu, yang pasti itu tidak bisa dibiarkan.
Aku tak ingin kenangan buruk masa SMA terulang kembali, dulu saat aku diadu domba dengan murid populer di sekolah dan berakibat fatal bagi kehidupan kedepanku.
Byuur...
Wajahku disiram air coklat hangat oleh seorang wanita anggun. Dia Arina siswa populer di sekolah keluarga orang terpandang di kota.
Aku tak mengerti kenapa dia menyiramku? siswa yang kuanggap dewi baik hati, lemah lembut, dan pemaaf ternyata juga mau membullyku.
"Aku tak menyangka kau menyebarkan berita itu, aku kira wajah buruk hatimu mulia, namun nyata tidak wajahmu sama dengan hatimu. BUSUK!" Arina menatapku kecewa.
"Bukan aku yang menyebarkan berita itu, sungguh bukan ak-" Aku mencoba menjelaskan, namun Arina tidak mau mendengar dan motong kalimatku.
Aku dipermalukan di depan banyak siswa, mereka semua menatapku jijik dan tertawa atas penderitaanku.
Asal Arina tahu bukan aku yang menyebarkan rumor, bahkan aku sangat mengaguminya mustahil aku menjelekkan mama apalagi menyebarkan rumor dia anak haram.
Aku tidak tahu dia anak haram atau tidak, jikapun aku tahu, aku tidak akan membuka mulut.
Sejak saat itu satu pun tidak ada yang mau dekat dengan aku, bahkan yang satu spesies denganku tidak mau mendekatiku mereka mengira aku lebih buruk dari orang yang membully mereka. Sampai aku keluar dari sekolah gosip mengenai diriku yang suka membongkar aib dan mengadu domba tetap mengikutiku.
"Eh, itu dia kan yang menyebut Arina."
"Aku dengar keluarga Arina tidak terima, namun melihat layar belakangnya yang menyedihkan keluarga Arina melepaskannya."
"Tak kusagka ya dia begitu, wajahnya mencerminkan hatinya."
Aku hanya tertunduk mendengar perkataan mereka. Betapa hinanya diriku di mata mereka karena rumor itu.
Sekarang aku tak akan biarkan namaku tercoreng lagi, cepat atau lambat aku harus temukan orang yang mengotori namaku.
"Deon." Aku berdiri dihadapan Deon yang tengah duduk sendiri di taman sekolah.
Dia menatapku datar lalu berdiri dari duduknya, berhadapan denganku. Mata kami saling mengadu.
__ADS_1
"Apa kau yang mengadu domba aku dengan red bridal? Kau yang menyebarkan gosip aku menjelekkan ketua red bridal?" tanyaku menahan emosi.
"Apa maksudmu br*ngs*k?" Deon menyipitkan mata. Hub
BUUUUK....
Satu tinju melayang menghantam wajahku.
Kurasakan darah segar mengalir di sudut bibirku.
"Gila," katanya pergi meninggalkan aku. Namun tak jauh langkahnya berhenti, dia menoleh dan berkata, "Asal kau tahu, aku memang membenci kau, tapi aku tak akan melakukan hal sekotor itu apalagi bergosip dengan musuhku untuk menjatuhkanmu, itu sangat menjijikkan."
Setelah mengatakan itu Deon pergi.
Aku rasa Deon berkata benar, terlihat dari matanya dia tak berbohong dan lagi aku merusak moodnya.
Aku memang paling ahli ya membuat orang membenciku.
***
Tok tok tok...
Aku mengetuk pintu kelas yang sudah terbuka. Bu guru melihat ke arahku.
"Maaf aku terlambat." Aku muncul di ambang pintu kelas, menyeka darah disudut bibirku.
Semua siswa menatapku kaget, aku tahu mereka pasti bertanya-tanya apa yang terjadi denganku?
"Apa yang terjadi denganmu, Van?" Bu guru bertanya raut wajah terlihat khawatir.
"Bukan apa-apa kok bu. Hehe." Aku tersenyum selebar mungkin, menggaruk kepala.
"Yasudah sana duduk di bangkumu."
Aku mengangguk, berjalan menuju mejaku.
"Hus, Govan. Apa yang terjadi?"
"Kau berkelahi?"
"Sudah pergi ke UKS?"
Para wanita dibarisan bangku ku sibuk bertanya ketika aku melewati mereka, tak ada yang kutunjukan selain senyuman lebar sebagai jawaban.
Mataku melirik Andra yang dari tadi memperhatikanku, aku tidak tahu apa yang ada dipikiran pria satu ini, mungkin dia tahu kemalangan apa yang menimpaku.
Bu guru melanjutkan aktivitas mengajar yang tertunda, aku tak begitu memperhatikan apa yang dijelaskan Bu guru, pikiranku melayang.
__ADS_1
oh tuhan cobaan apa ini?