
"...Kau tak bisa memberi jawaban sekarang aku tunggu sampai akhir festival sekolah, saat itu kau harus memberikan jawaban."
Aku terduduk lemas di lantai ruang auditorium dimana kami semua tengah berlatih drama untuk penampilan di festival sekolah, perkataan juhim terus terngiang-ngiang di otak sempitku sampai aku kurang fokus dan mendapat semprotan dari rekan lainnya.
"Mentang mentang dapat peran utama, latihan main-main. Tiba pertunjukan penampilan jelek kita yang disalahkan," desis mereka mengosip.
Bukannya aku mau main main saat ini pikiranku lagi kacau coba kalian ada diposisi ku yang serba kebingungan ini, lagian aku tidak menginginkan peran pertama pria, ketua dan pembina yang menunjukku.
"Oke waktu istirahat sudah habis, ayo kembali berlatih!" teriak ketua.
Kami semua bangkit dari duduk bersiap di posisi masing-masing.
"Hey kau! Bisa fokus latihan, jangan memikirkan hal yang gak penting." Wakil ketua menegurku, aku mengangguk.
Ayo Bima fokus! Geram batinku menampar pipi pelan.
Kali ini aku harus fokus berlatih mengesampingkan perkataan juhim yang menghantuiku.
__ADS_1
***
Juhim memberiku waktu untuk mengambil keputusan, tetap saja aku putuskan untuk menolak tawaran bergabung dengan mereka.
Diluar dugaanku kabar mengenai juhim mengajakku bergabung dengan bintang Selatan tersebar luas di sekolah, lagi-lagi jadi trending topik komunitas di sekolah.
Nasib tampang ini sekali gerak langsung viral. Ckckck parah.
Seperti biasa setelah pulang sekolah aku nyangkut di ruang feshion bantu teman buat kostum, satu dua tiga kostum telah selesai dibuat tinggal di seterika, bungkus, terus kardusin.
Pas lagi ngardusin kustum ada yang nongol dari jendela, hidungnya pakek ditempel segala lagi kan jadi mirip b4bi dan dia ketos.
Perasaanku sudah berkata lain saat dia muncul di jendela dan dugaanku benar setelah kami keluar dari ruang feshion Stella mengajakku bicara sebentar di luar.
Aku benar-benar kaget, gak nyangka saja Stella mendorong untuk bergabung dengan mereka.
"Kau gila!" Aku mulai ngegas tak terima dengan perkataan Stella.
__ADS_1
"Jika kau bergabung dengan bintang Selatan menggantikan posisi juhim ada peluang bagi kita untuk mendamaikan kedua belah pihak agar kedepannya tidak ada yang rusuh lagi. Ini kesempatan langka Govan, cobalah mengerti."
"Aku tidak bisa," kataku sebenarnya aku takut untuk bergabung, takut jadi bahan pukulan selama ini aku sudah lelah menerima semua pukulan yang begitu menyakitkan dan sekarang.
"Kau bisa, memang mengatur mereka agak susah dan perlu waktu, tapi aku yakin kamu bisa." Stella kekeh dengan keinginannya.
Aku tertunduk sebentar lalu menggeleng.
"Maaf Stella aku tak bisa," kataku melangkah pergi meninggalkan dia.
Aku tahu perasaan Stella pasti sakit saat aku pergi begitu saja dari hadapannya, aku mengikuti egoku untuk meninggalkan dia tanpa mempedulikan perasaannya.
Aku kembali ke ruang feshion mengambil tas pamit pulang lebih dulu, tanpa persetujuan dan menjawab pertanyaan teman-teman aku sudah keluar lebih dulu.
Entah kenapa aku kesal sekali hatiku terasa panas seperti kawah gunung yang siap muntah. Sepanjang langkah aku mengabaikan para siswa yang menyapaku sampai langkah kakiku terhenti ketika melihat dia ada disana, anak dokter alex yang tengah duduk sendiri melepas lelah sesekali dia meminum air botol di samping ia duduk.
Aku tidak tau kenapa kakiku melangkah mendekatinya, pikiranku seakan kosong. Tepat ketika p4nt4tku mendarat di sebelahnya dia menoleh dan mau beranjak pergi, sebelum dia pergi aku menahan tangannya dan dia kembali duduk di tempat awalnya.
__ADS_1