
"Govan kan?" Wanita berwajah ceria ini menyorong tangan mengajak salaman.
"Iya." Aku menyambut tangannya.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, ingat di bus waktu itu. Namaku Lina." Lanjutnya yang ku iyakan saja.
"Aku fotografer dari perusahaan majalah, kau tahu atasanku sangat suka dengan fotoku yang ku ambil malam itu dan hari ini aku juga mengambil fotomu untuk ditujukan pada atasanku. Jika atasanku menyukainya kau bisa jadi model di perusahaan kami." Kalimatnya membuatku tercengang.
Sebenarnya berapa hari silam ada beberapa orang yang menawarkan hal serupa di inbox ku, tapi belum ku tanggapi sebab aku sendiri tidak yakin. Namun kali ini aku merasa yakin setelah mendengar celotehan lina, mungkin saja aku berbakat jadi model.
"Hehehe, boleh gak aku mengambil fotomu satu kali lagi." Lina meminta.
Belum sempat aku menjawab Andra lebih dulu bersuara.
"Lain kali, kami berdua ingin keliling stand."
Aku menoleh melihat Andra begitu juga dengan mereka.
"Ohoho oke oke, kalau begitu saya tidak menggangu kalian," katanya mengeluarkan ponsel, "Berikan nomormu agar aku mudah menghubungimu jika atasanku menyukaimu."
Sesuai permintaannya aku memberikan nomor padanya alias bertukar nomor, setelah itu dia pergi.
"Kau kenal dia dimana Moza?" tanyaku.
"Acara fashion show di studio XX." Moza menjawab.
__ADS_1
Aku hanya ber o saja sambil menganggukkan kepala.
"Kau mendapatkan banyak bunga, apa itu berati mereka menyukai desain yang kau buat?"
"Bukan aku tapi kita," sanggah Moza menujuk timnya disana.
Aku tersenyum menanggapinya, entah kenapa senang saja saat ada seseorang yang tidak membuang rekannya karena penghargaan.
Aku mengobrol sebentar dengan sttela dan Luci yang menceritakan pengalaman mereka yang super super menakjubkan bisa berjalan di atas pentas.
Setelahnya aku mengganti baju dan berjalan bersama Andra keliling stand cicipi jajanan yang dijual, bukan kamu berdua saja sih ada rombongan di belakang Stella, Moza, Luci dan berapa rekan klub fashion.
Aku makan sepuasnya selagi ditraktir sultan, kapan lagi coba ditraktir terus.
***
Untuk hari ini aku tetap sibuk mengurus stand dan sebelum pulang kami geladi bersih untuk drama malam ini.
"Semuanya, semangat malam ini kita tampil. Berikan tampilan yang sempurna untuk penonton, jangan bikin mereka kecewa!" Suara asima lantang menyemangati kami semua yang baru saja selesai.
Benar apa kata asima aku harus tampil dengan baik jangan ada kesalahan, sebab peran yang aku mainkan merupak peran penting dalam drama yaitu tokoh utama pria.
.
.
__ADS_1
.
Malam
Aku duduk di meja rias untuk dirias mua, setelah selesai rias dan curhatan mua aku segera mengenakan baju yang sudah disediakan.
Aku duduk sambil menghafal naskah agar gak lupa, maklum pak tua ini gampang lupa apalagi kalau sudah diserang demam panggung semua teks di otak melayang begitu saja.
"Ayo ayo semua berkumpul!" Pembina memanggil kami semua untuk berkumpul di belakang tirai merah.
"... sebentar lagi kalian akan tampil maka dari itu mainkan peran dengan menghayati, berperanlan dengan jiwa kalian..."
Aku menyimak baik-baik kata demi kata yang keluar dari mulut pembina.
Untuk malam ini aku harus tampil dengan baik aku tak akan mengecewakan pembina dan yang lainnya.
Namun...
"KYAAAAAAAA!~"
Aku yang baru keluar dari tirai merah langsung disambut teriakan para wanita, tak kusagka penontonnya banyak seperti lautan, alhasil aku sedikit grogi.
Pak tua ini akan tampil drama bersama ABG, sungguh memalukan. Tapi, aku tak boleh merusak hasil latihan kami selama ini dan lagi teman-temanku datang menonjol.
Kutarik nafas dan mainkan peran ini dengan baik.
__ADS_1
Drama yang kami tampilkan malam ini tentang dua sahabat yang jatuh cinta pada pria yang sama