Overly Handsome

Overly Handsome
21


__ADS_3

Aku bingung mau mengenakan apa untuk pergi ke pesta ulang tahun Adelia, sampai lemari tempat pakaian dibongkar gara-gara cari baju yang cocok untuk dipakai. Namun hasilnya nihil, gak ada baju yang cocok untuk pergi ke pesta Adelia


Orang kismin sepertiku mana punya baju bermerek, pastinya orang-orang yang hadir di pesta mengenakan baju bagus semua, kalau saja aku pakai baju biasa dikira gembel mending gue tidak pergi.


Hah, aku menghela nafas mengemas kembali lemariku. Sepertinya aku tidak bisa pergi besok.


***


Pagi, sekolah.


Aku melangkah gontai di memasuki koridor, terilihat satu dua tiga butir siswa berlalu lalang hari masih pagi suasana masih sepi.


Tak jauh dari pandanganku aku melihat Stella, Moza, dan Andra tengah mengobrol di papan Mading, aku berniat menghampiri mereka dan sekedar menyapa.


"Pagi," sapaku muncul di belakang, mereka berbalik menatapku lalu dengan serempak membalas sapaanku kecuali Andra yang seperti batu.


"Eh, kebetulan kau ada disini, kami barusaja membicarakan kamu lo." Stella berkata ceria menimbulkan tanda tanya di otakku.

__ADS_1


"Bicara tentang apa?" tanyaku sedikit bingung.


"Tentang kau yang akan pergi ke pesta  ulang tahun Adelia Brandon, And-"


"Sepertinya aku tidak pergi," selaku.


Ha? Mereka menatapku terkejut.


"Kenapa?!" tanya Stella menyambar.


"Aku tidak punya baju yang cocok," kataku malu-malu. Padahal rencananya aku mau beli jas baru tapi uang pula yang menipis, makan apa jika uang ini habis beli baju. Apalagi pengeluaran akhir-akhir ini banyak sekali, mau minta uang dengan Dokter Alex, tapi pekerjaanku saja tidak becus yang ada kupingku sakit dengar ceramahnya.


"Tapi bukannya kau harus menghadiri pesta itu, Adelia sendiri yang mengantarkan undnagan kan rugi kalau kau tidak datang," celetuk Stella.


"Kau tidak punya baju yang cocok," gumam Moza melihatku dari atas sampai bawah. Kami semua menatap Moza.


"Kau tidak bisa tidak menghadiri pesta itu. Huh, baiklah kurasa aku  ada beberapa baju yang cocok kau gunakan." Moza berkata bak dewi penyelamatan, aku tersenyum senang mendengarnya.

__ADS_1


"Istirahat kedua temui aku di tempat biasa," kata Moza yang aku angguki dengan cepat.


Seperti yang Moza suruh, setelah bel istirahat berbunyi aku segera keluar kelas dan mencarinya di ruangan klub feshion. Kuhampiri dia yang tengah sibuk di meja menjahit.


"Kau menjahit apa?" tanyaku. Moza melirikku sekilas lalu kembali fokus menjahit.


Tak berselang lama ia berhenti menjahit, dan menyerahkan sebuah baju padaku.


"Coba," katanya.


Tanpa disuruh dua kali aku mencoba jas yang baru saja dia jahit, aku memutar badanku membelakanginya melihat pantulan diriku di cermin.


Ckckck parah, jasnya sangat bagus seperti merek ternama yang kawe dan lagi bajunya juga pas di tubku.


"Coba lihat." Moza memutar tubuhku menghadapnya, ia melihat dari sudut ke sudut, lalu mengangguk-angguk, "Oke sudah cocok, tinggal di setrika biar rapi. Lepas kembali, biar diseterika terlebih dahulu."


Aku melepasnya dan memberikan kembali padanya. Aku sebenarnya bingung bagaimana Moza membuat jas sebagus ini dalam waktu singkat.

__ADS_1


"Ini jas yang kami pamerkan tahun lalu, tapi sayangnya ini tidak terlalu menarik perhatian, sebab jas ini tidak sempurna..."


__ADS_2