Overly Handsome

Overly Handsome
22


__ADS_3

Aku bingung jas ini terlihat sempurna di mataku, tapi kenapa dia bilang tidak sempurna


"Kau lihat bagian kerah ini terdapat kerusakan, dan bagian punggung ini juga. Kami teledor saat itu, membuat jas ini gagal dipameran." Raut wajah Moza terlihat sedih ketika melihatkan bagian rusak yang sudah ia tampak dengan sesuatu menambah aksen biar terlihat sempurna.


Ow, aku baru mengerti setelah melihatnya, menurutku sekarang jas ini jadi ada harganya setelah diperbaiki Moza


"Oh iya, di meja sana coba kau kenakan celana dan kemejanya, apa sesuai dengan tinggi badanmu?" Perintah Moza yang segera aku turuti.


Aku mengambil sebuah pakaian yang terbungkus plastik untuk terhindar dari debu, ketika aku buka sebuah kemeja hitam dan celana bewarna maron setara dengan warna jas.


Ckckck parah, anak feshion memang bisa diandalkan.


Ketika aku ingin membuka celanaku segera Moza menyambar bak kilat.


"Mau apa kau?!"


"Ganti."

__ADS_1


"Tidak disini juga, sana dibalik pintu atau di lemari kain. Tidak sopan!" celetuknya.


Aku mengangguk mencari tempat terlindung buat lepas celana, mestilah aku pilih di dalam lemari kain daripada di balik pintu, nanti pas mau ganti celana tiba-tiba ada mata yang ngintip, kan gak lucu. Mending ganti baju di lemari kain yang besar dan luasnya sama kek gudang kecil.


Aku keluar setelah mengenakan pakaian, aku tidak melihat cermin sebab sebentar lagi bel masuk berbunyi Moza hanya memeriksa celana dan kemeja yang melekat di tubuhku.


Setelah diperiksa dan dikatakan oke aku segera mengganti baju dan kembali ke kelas meninggalkan pakai itu dengan Moza.


***


Jam pulang tiba, aku kembali ke ruangan feshion untuk mengambil baju yang sudah disiapkan Moza, so aku sangat berterimakasih sebab dia mau meminjamkan baju ini padaku.


Aw, rintihku menoleh ke belakang melihat orang yang ku senggol. Dia menatapku datar.


"Maaf ya," kataku. Dia memasang wajah datar yang membuatku berpikir dua kali saat melihat wajah premannya.


Onde Mak, ini orang kan kang ojek pangkalan yang kemarin mengantarku pulang, aku menelan ludah takut.

__ADS_1


"Maaf ya, aku tidak lihat jalan lagi," kataku sopan. Dia hanya bergumam kecil dan segera pergi, aku mengusap dada lega ketika ia pergi.


Segera kulangkahkan kembali kakiku, ketika aku berada di koridor aku melihat seorang wanita tengah memperhatikan Mading sekolah. Mataku membulat menyadari itu putri dokter Alex, aku segera mendekatinya berharap dia tidak lari atau menghindari ku.


"Hay!" sapaku canggung.


Dia menoleh melihatku, lalu kembali melihat Mading.


"Kenapa kau masih disini? Kau tidak pulang?" tanyaku seperti orang sok kenal. Aku yakin dan percaya dia ilfil denganku yang sok akrab ini.


Tanpa menjawab pertanyaanku dia segera pergi dari sini, aku ingin menghentikannya tapi tak mungkin, bisa-bisa dia curiga.


Ketika aku ingin pergi meninggalkan koridor, kakiku menyepak sesuatu. Aku yang penasaran melihat barang yang kusepepak jauh sampai di depan pintu.


Apa ini? Aku mengambil gantungan kunci berbentuk tomat berkumis. Bentuk yang aneh dan sedikit menyeramkan, tapi aku yakin ini milik putri dokter Alex.


Akan aku kembalikan nanti, sekarang aku harus pulang terlebih dahulu

__ADS_1


B e r s a m n u n g...


__ADS_2