
Hist...
Aku meringis, mengusap bagian belakang kepalaku yang kena geplak Stella setelah aku mengusulkan mereka jadi model.
Dasar kepala orang tua ini, main geplak aja, hatiku menggerutu.
"Ada kah gila gilanya kau ini aku lihat, kau minta aku jadi model?!" pekik Stella menekankan telinga.
Satu ruangan menutup kuping.
"Dilihat dari fisik kalian cocok jadi model," kata Moza mengangguk sejak dari tadi memperhatikan Stella dan Luci.
"Model kalian kemana? Kenapa harus kami?" Luci bertanya.
"Kami kehilangan beberapa model," jawab yang lainnya.
"Aku tak tahu pasti ceritanya gimana, yang pasti kami kekurangan model untuk fashion show." Aku turut menjawab.
"Model kami sudah pergi mengejar tender di luar negeri." Moza berkata,
"Untuk kali ini kami mohon bantuan kalian untuk jadi model kami, jika kami kekurangan model maka kami akan kehilangan kesempatan untuk fashion show. Jadi untuk kali ini saja kami mohon batuan kalian."
Stella dan Luci tampak berpikir.
Aku menghela nafas sepertinya mereka tidak ingin jadi model...
"Aku mau!" Lanjutnya membuat kami semua kaget.
Eh?
__ADS_1
Tebakanku salah ternyata Stella bersedia membantu kami.
"Sejak kecil aku pernah bermimpi jadi model, berjalan lengak lengok di atas panggung dengan busana cantik. Tapi itu tidak pernah terwujud sama sekali," kata Stella mengisahkan impian semata ya yang tak pernah terwujud, entah apa yang menyebabkan impiannya kecilnya itu gak terwujud.
"Kapan acaranya?" Luci bertanya.
"Malam pembukaan." Moza menjawab.
"Kebetulan tidak bentrok, aku ingin bantu, akan tetapi aku tak yakin bisa berjalan di atas panggung seperti model pada umumkan." Luci bersuara lagi.
"Iya, aku juga kurang pandai berjalan di atas panggung, jadi gimana ya?" Stella menyambung.
Moza membenarkan kacamatanya, "Tenang saja, kami akan mengajarkan kalian."
Yah, sesuai kata Moza tadi dia mengajarkan kami berjalan di atas panggung dan kami juga kedatangan model baru yang direkrut secara mendadak oleh Moza untuk model pria yaitu Andra.
***
Tiba hari yang dinantikan.
Festival sekolah digelar dengan meriah, stand berjejeran rapi dengan pajangan andalan dari masing-masing stand.
Penduduk luar sekolah dibolehkan memasuki festival keliling-keliling lihat kemeriahan festival. Musik jedak jeduk terdengar dari atas panggung, anak grup band sekolah tengah meriahkan acara dengan alat musik mereka.
Pagi begini aku sibuk di stand melayani para pembeli yang kek pengunjung mal.
"KYAAAA!"
"Tampan banget sih!"
__ADS_1
"Foto dong van!"
Jangan tanya kondisiku sekarang bagaimana? Kalian bayangin aja sendiri gimana rasanya. Menatapku berada dibawah tekanan.
"Laris manis kalau Govan jaga stand." Rekanku berkata.
"Untung mah kita," sahut yang lain.
Kalian untung aku buntung!
Saat ini yang lainnya mungkin tengah sibuk di stand mereka masing-masing, Luci, Stella dan anggota OSIS.
Sampai malam tiba kami akan berkumpul di atas panggung.
"Hadirin sekalian!"
Suara host melengking diatas panggung, aku melihat sekilas dari balik tirai merah semua orang berkumpul disana dengan jumlah yang tak bisa ku hitung, perkiranku mungkin lebih dari ratusan dan lagi perkiranku orang luar pasti ikut menonton. Sebab setelah fashion show klub lainnya juga akan tampil.
"Apa yang kau lakukan disini? Sana pakai bajumu!" Rekanku menegur menyeretku kedalam.
Didalam aku mengenakan baju yang akan dipamerkan. Setelah mengenakan baju rambutku ditata sedikit.
"Ingat ya yang aku ajarkan," pesan Moza.
Aku mengangguk.
"Waw Van, kau terlihat luar biasa malam ini!" puji para kru.
Aku tersenyum menangapi pujian mereka, kulihat bayanganku di cermin. Sosok pria tampan berdiri tegap, yah itu aku yang mereka bilang luar biasa
__ADS_1