
"Kau yakin ini tempatnya?"
"Iya." Rafik menjawab pertanyaanku ketika kami berada di depan pintu ruangan klub karate.
"Sepi, seperti tidak ada penghuni padahal ini sudah waktunya ekskul," kataku mengamati sekeliling ruangan ini.
"Apa kau yakin ingin masuk klub karate?" Rafik bertanya ragu.
Aku sudah periksa daftar nama siswa di setiap klub, dan Luci bergabung di klub karate dan voli. Jujur saja aku tidak tertarik dikedua bidang tersebut, aku tak pandai bermain voli apalagi karate, takut tulangku patah dan diejek karena masih pemula. Aku ingin cari jalur aman, tapi sayangnya Luci berada di jalur bahaya untukku.
Tapi! Setelah mengumpulkan keberanian! Aku bertekad masuk klub karate.
"Kenapa tidak, aku sangat yakin sekali." Aku menjawab pertanyaan rafik dengan mantap sepenuh jiwa layaknya orang sakit jiwa pas melihat anak-anak club karate masuk dan salah satu diantara mereka ada si tengil, Deon.
NANI?! DEON ADA DI SANA DUDUK DIANTARA MEREKA, BAGAIMANA BISA?! DI DAFTAR NAMA ANGGOTA TIDAKK ADA NAMA DIA! atau jangan-jangan Deon hanya nama panggilan saja.
MATIIII!!! Aku tak bisa bergabung dengan klub karate jika ada dia dan artinya aku tak bisa satu klub bareng Luci.
Onde Mak, tuhan kenapa disaat-saat seperti ini kau mengujiku?
Apa yang harus ku pilih bergabung atau tidak? Jika aku bergabung pastinya Deon tak akan melepaskan aku, apalagi setelah membuatnya malu di kelas, pastinya aku diburu, kan? Jika aku tak bergabung dengan klub ini bagaimana aku bisa dekat dengan Luci?
"Rafik ikut aku." Aku melangkah pergi dan rafik mengikuti langkahku dari belakang.
"Kita mau kemana?" tanya Rafik mensejajarkan langkah kami.
"Keliling-keliling lihat klub yang lain."
Satu persatu kudatangi klub yang jadwal dan posisi dekat dengan klub karate. Aku tak bisa masuk klub karate ataupun voli, aku tak punya keahlian di dua bidang tersebut. Jika aku tetap kekeh masuk klub karate aku yakin dan percaya aku bakal dibully Deon, dia kan ketua geng dan pastinya anak-anak disana anak buahnya.
Lebih baik aku ambil jalur aman saja, mengawasi Luci dari jauh sepertinya tidak masalah. Aku tinggal mencari klub yang aman dan yang pasti tidak ada kekerasan.
Dan klub yang kupilih klub feshion dan drama! Klub yang jadwal dan posisi yang strategis dengan klub karate. Mantap! Meski aku gak tau apa-apa tentang feshion apalagi drama, tapi tak masalah lama-lama kelamaan juga ngerti sendiri.
"Kakak benaran mau gabung di klub kami?" tanya siswa wanita di hadapanku ini, matanya berbinar-binar menatapku.
Para anggota klub mendatangiku mereka semua mengelilingiku.
"Benaran kak?"
"Kakak kan siswa baru itu, ternyata benar tampan banget."
"Dari dekat lebih lagi tampan."
"Wah kakak ganteng mau gabung klub kita, nih!"
"Terima gak ya?!"
"Terimalah kenapa ditolak."
__ADS_1
Aku tak bisa masuk pintu ditutup sama mereka semua. Dari sisi lain juga aku dilihat klub lain, mereka menghampiriku, mengajakku masuk ke klub mereka.
"MINGGIR KALIAN SEMUA!" Semua kaget mendengar teriakan seseorang. Perlahan barisan di depanku terbelah dua, memberi jalan untuk seseorang lewat.
Mataku hampir keluar lihat siswa cebol berjalan di hadapanku, mata dibalik kaca mata itu menatapku tajam. Aku tak tahu harus berkata apa, jantungku masih kaget gak nyangka banget suara besar badan kecil, rasanya ingin tertawa.
Jangan bilang dia ketua klub.
"Ketua kakak ini mau bergabung dengan di klub kit-"
"Huts, aku tahu," kata Si cebol motong kalimat bawahannya.
NANI? Ketua?!
"Kenapa kau tertarik bergabung di klub feason?" tanya si cebol.
"Aku tertarik saja," jawabku singkat.
"Tertarik ya? Hmm..." Si cebol ngusap dagu, padahal dia gak punya jenggot. Matanya menatapku datar.
Entah kenapa perasaanku gak enak dari terapan matanya saja sudah terlihat, jangan-jangan masuk ke klub ini pakai tes.
ALAMAK JANG! Mati aku jika dites, bisa-bisa aku gak lulus!
Dan benar saja aku di tes sama si cebol.
Aku tahu meski dia perempuan cebol bukan berati dia lemah, toh kecil-kecil cabe rawit.
"Tesnya sederhana, kau hanya perlu menjawab pertanyaanku dan tunjukkan keahlianmu."
NANI??? Aku tak punya keahlian apa-apa. Apa yang harus kutunjukan?
"Bagaimana menurutmu desain baju ini?" tanya ketua klub menunjukkan satu desain baju yang belum selesai.
Aduh, Mak! Disuruh nilai desain, mana aku tahu apalagi ini desain baju apa? Kok kayak daun teratai bajunya.
"Bagu-"
"Apa yang perlu diperbaiki di desain ini?" kata ketua cebol memotong kalimatku.
Aku gak tahu harus jawab apa, rafik pun gak punya jawaban terlihat dari wajah tegangnya. Kenapa dia ikut tegang? Seharusnya aku yang lebih tegang bukan dia.
"Govan apa kau bisa?" Rafik bertanya.
"Aku gak tahu apa-apa desai-" lagi-lagi kalimatku dipotong cebol.
"Kau tidak tahu apa-apa? Lalu kenapa kau ingin masuk ke sini?"
"Aku pemula, aku masuk klub ini untuk belajar," tangkas ku membuat si cebol diam.
__ADS_1
Seketika saja para anggota bersuara mendukungku.
"Ketua batalkan tes ini, terima saja anak baru ini masuk."
"Anak baru ini tidak tahu apa-apa, dia pemula sama seperti kami dulu. Biarkan dia bergabung ketua."
"Ketua..."
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ketua, hanya tatapan tajam yang terus menatapku.
Otakku terasa mau pecah memikirkan semua, ditambah keributan di belakang, aku merasa semakin tertekan.
"Anggap tes ini sebagai pelajaran pertamamu-"
BRAAAAK
Aku membentak meja menghentikan kalimat ketua, satu ruangan terdiam.
Sial aku pasti kelihatan buruk sekali di mata ketua.
"Desain ini cukup bagus, tapi terdapat kekurangan, seharusnya daun teratai di bagain rok ini harusnya tidak besar melainkan sedang, dan gunakan empat daun teratai untuk mengelilingi rok selutut ini... Bagian dada ditutupi dengan kelopak teratai... Untu bagian topi letak bunga teratai dan beberapa daun teratai kecil disekitar bunga..." Aku menjelaskan sedemikian rupa sambil mencoret-coret gambar desain.
Aku melakukannya dengan lancar mengikuti ide yang mengalir lancar di otakku, tanganku bergerak cepat mencoret desain. Entahlah apa yang terjadi denganku saat ini, aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya merasakan tanganku bergerak lincah mengikuti perintah otakku.
Dapat aku rasakan orang-orang di sekitarku memperhatikan dengan seksama.
BRAAAK...
Aku menghempas pensil di meja ketika aku sudah selesai menggambar desain yang belum jadi.
"Ini hasilnya. Kostum ini paling cocok untuk festival atau pesta kostum, yang memakainya akan merasakan dirinya menjadi putri teratai," kataku penuh penghayatan. Semua kata-kata itu spontan keluar dari mulutku, mataku terpejam menghayati.
Ketika aku membuka mata semua anggota menatapku bengong, mereka berbondong-bondong melihat desain di tangan ketua.
Berapa detik kemudian mereka menjerit kagum memujiku, jeritan merek tambah jadi setelah ketua mengangguk dan bertepuk tangan.
"HO! KETUA MENERIMA DIA DI KLUB KITA?!"
"HORE!"
Rafik menepuk punggungku mengucapkan selamat dia gak nyangka aku mendesain itu.
"... Selamat bergabung di klub feshion, sebelum aku menjelaskan aturan disini dan kegiatan kami, kau harus tahu kalau kau satu-satunya anggota cowok di klub ini," kata ketua tersenyum iblis.
NANIIII?! AKU SATU-SATUNYA COWOK DI SINI?!
ALAMAK JANG! AKU MASUK DI PERKUMPULAN WANITA!
NOOOO!
__ADS_1